counter

Permintaan ikan kerapu asal Kota Lhokseumawe tinggi untuk pasar ekspor

Permintaan ikan kerapu asal Kota Lhokseumawe tinggi untuk pasar ekspor

Keramba (kolam jaring apung) di aliran DAS Krueng Cunda, Kota Lhokseumawe, Aceh, merupakan salah satu sentra pembudidayaan ikan kerapu di Kota Lhokseumawe yang memiliki nilai ekspor karena didukung oleh kondisi alam untuk pertumbuhan jenis ikan tersebut, Selasa (21/5). (Antara/ Mukhlis)

Lhokseumawe, Aceh (ANTARA) - Permintaan ikan kerapu asal Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, tinggi untuk pasar ekspor, sebagai salah satu jenis ikan konsumsi yang digemari di luar negeri.

“ Permintaan ikan kerapu dari Lhokseumawe sangat tinggi untuk pasar ekspor, akan tetapi belum mampu dipenuhi dengan maksimal oleh petani kolam keramba di sini, selain terkendala dengan benih juga terbatasnya lahan pembudidayaan,” ungkap Imran pemilik keramba di aliran DAS Krueng Cunda, Lhokseumawe, Selasa.

Sebutnya, negara tujuan ekspor yang sangat menjanjikan untuk kerapu yang berasal dari Aceh tersebut adalah Hongkong. Kemampuan petani keramba di Kota Lhokseumawe yang memenuhi permintaan ikan kerapu kenegara tujuan tersebut hanya 40 persen dari permintaan.

“Permintaan ikan kerapu terbesar adalah dari Hongkong, yakni mencapai 30 ton per tahun. Akan tetapi hanya mampu dipenuhi oleh petani kerapu di sini adalah sebesar 10 hingga 12 ton pertahun,” ungkap petani kerapu tersebut.

Sedangkan jenis ikan kerapu yang menjadi primadona pasar diluar negeri adalah jenis kerapu Hibrid, lumpur dan kerapu lalat. Dimana masa panen ikan kerapu untuk ukuran konsumsi adalah selama Tiga bulan.

Seperti disebutkan oleh Imran yang juga pemasok ikan kerapu kepada konsumen diluar negeri, ada beberapa persoalan yang menjadi kendala bagi petani keramba ikan kerapu didalam memenuhi jumlah permintaan pasar. Yaitu, pada masalah benih jenis ikan kerapu yang memiliki nilai unggulan.

“Untuk benih jenis ikan kerapu sebagaimana dimaksudkan, didatangkan dari Situbondo dan Bali, kemudian ditebarkan didalam keramba,” katanya.

Sedangkan kendala lain bagi petani dalam memenuhi tingkat permintaan ikan kerapu adalah, terbatasnya luas lahan pembudidayaan ikan kerapu yang ada di aliran DAS Krueng Cunda. Sedangkan jumlah titik budidaya keramba yang dimiliki oleh para petani di sepanjang aliran Krueng Cunda, mulai dari Pusong hingga ke Ujong Blang, ada sekitar 30 unit, dengan jumlah petak sebanyak 2.463 petak, terang Imran.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan Peternakan dan Pertanian Kota Lhokseumawe M. Rizal mengatakan, bahwa ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan budidaya unggulan di Lhokseumawe. Karena kondisi pembudidayaan ikan kerapu di aliran sungai Lhokseumawe memiliki kecocokan.

"Kondisi dan tingkat keasinan air pada aliran seperti Krueng Cunda yang cocok dan airnya selalu berganti karena terhubung dengan dua muara, jadi sangat baik untuk pengembangan ikan ini,” ungkap Rizal.

Tambahnya, oleh karena berbagai faktor pendukung tersebut, maka ikan kerapu banyak dibudidayakan oleh petani keramba di aliran Krueng Cunda. Apalagi harga kedua jenis ikan itu harganya sangat bersaing dipasaran dan merupakan ikan yang memiliki nilai ekspor, kata M. Rizal.

Baca juga: Pupuk Kaltim bantu tingkatkan ekspor kerapu

Baca juga: "Kerapu cantik" jadi tumpuan penghasil devisa

Pemkot Madiun kampanyekan gemar makan ikan

Pewarta: Mukhlis
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar