Pulihkan ekonomi pascabencana, ACT ajak warga Sigi usaha bawang goreng

Pulihkan ekonomi pascabencana, ACT ajak warga Sigi usaha bawang goreng

Ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di kompleks Integrated Community Shelter (ICS) atau hunian nyaman terpadu di Desa Langaleso, Kabupaten sigi mengupas bawang yang diolah menjadi bawang goreng untuk selanjutnya dijual. (Humas ACT)

Kami sangat senang diberikan pekerjan seperti ini yang dapat membantu ekonomi keluarga kami
Palu (ANTARA) - Gempa bermagnitudo 7,4 yang disusul tsunami dan likuifaksi pada 28 september 2018 silam tidak hanya menelan ribuan korban jiwa, namun juga berdampak pada produksi pertanian di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Warga yang bekerja sebagai petani kini kehilangan pekerjaan. Ribuan hektare sawah di wilayah itu kering kerontang dan tidak bisa berproduksi akibat irigasi pertanian rusak berat pasca bencana.

Banyak petani di wilayah itu kini menjadi pekerja serabutan seperti buruh bangunan. Sementara petani lainya mencoba menanam palawija yang hanya mengandalkan air hujan.

Di tengah himpitan ekonomi penyintas bencana, lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus berusaha untuk membantu memulihkan ekonomi warga pasca-bencana melalui program pemulihan ekonomi.

Guna membantu perekonomian keluarga terdampak bencana di sana, sebanyak 40 Ibu Rumah Tangga (IRT) yang tinggal di kompleks Integrated Community Shelter (ICS) atau hunian nyaman terpadu di Desa Langaleso, Kabupaten sigi, memulai usaha mereka dengan memproduksi bawang goreng, Selasa.

Tim pendamping ICS-ACT Sisi Nursam Labaso mengungkapkan usaha bawang goreng bagi penyintas ini adalah salah satu program pemberdayaan oleh ACT bagi ibu rumah tangga yang tinggal di hunian nyaman terpadu, sehingga ke depanya mereka bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

"Ibu rumah tangga yang terlibat sebanyak 40 orang, yang terbagi dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok memproduksi 40 kilogram bawang goreng," kata Sisi di sela-sela kegiatan tersebut.

Bahan baku usaha bawang goreng ini juga dibeli ACT dari korban bencana alam di Kabupaten Sigi seperti di Desa Watunonju dan Soulowe.

Sisi mengatakan hasil produksi bawang goreng ini akan dipasarkan di semua daerah di Sulawesi Tengah, bahkan luar Sulawesi Tengah.

“Saat ini sudah ada sejumlah pengepul yang akan membeli bawang goreng tersebut. Bahkan para pengepul itu berasal dari Sumatera Utara, Bali, dan Jakarta. Bawang goreng hasil produksi penyintas ini dijual seharga Rp200.000  per kilogram," kata Sisi.

Salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di ICS langaleso Zufni mengungkapkan apresiasinya terhadap ACT yang terus menemani warga Kabupaten Sigi pascabencana alam.

Menurutnya, setelah bencana alam, ekonomi warga di Sigi khususnya di Desa Langleso cukup lesu, apalagi persawahan di wilayah itu tidak bisa berproduksi.

“Kami sangat senang diberikan pekerjan seperti ini yang dapat membantu ekonomi keluarga kami. Kami berharap kepada ACT agar program seperti ini terus jalan hingga kami bisa mandiri,” tuturnya.

Di program pemulihan ini ACT tidak hanya melakukan pemberdayaan kelompok usaha bawang goreng, namun juga pemberdayaan kelompok tani dan peternakan.

Khusus pemberdayaan kelompok pertanian ACT saat ini sedang membangun sumur pemulihan yang tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Sigi. Sumur tersebut diharapkan dapat mengaliri persawahan warga.

Seperti diketahui Kabupaten Sigi merupakan salah satu kabupaten penyangga produksi pertanian di Sulawesi Tengah. Bahkan sejumlah kebutuhan pokok yang dijual di Pasar tradisional di Kota Palu diperoleh dari Kabupaten Sigi.

Pewarta: Muhammad Arshandi
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Agar korban bencana tetap bertahan pasca publikasi berhenti

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar