counter

"Mbok Sri Mulih" mencari identitas kejayaan petani

Oleh Afut Syafril Nursyirwan

"Mbok Sri Mulih" mencari identitas kejayaan petani

Kirab wiwit, salah satu acara budaya yang mengangkat pertanian dalam Festival Mbok Sri Mulih di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. (Dokumentasi FMSM)

Jakarta (ANTARA) - Seorang guru mengajukan pertanyaan kepada anak didiknya, cita-cita apa yang ingin mereka usung ketika dewasa kelak. Polisi, astronot, tentara, pebalap bahkan penyanyi, namun nyaris tidak tersebutkan profesi petani, yang bahkan menghidupi sekumpulan anak Sekolah Dasar tersebut untuk menuntut ilmu.

Sekilas narasi ilustrasi tersebut benar adanya, di mana petani memiliki peran penting dalam pondasi perekonomian negara agraris. Bukan salah anak-anak ketika mereka tidak memahami bahwa petani juga merupakan profesi, namun memang identitas petani tenggelam dalam derasnya budaya populer.

Melihat fenomena sosial tersebut, sekumpulan kelompok petani membentuk komunitas untuk mengingatkan kembali, bahwa sektor pertanian merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai budaya baik dalam menyokong perekonomian.

Desa Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, sempat berjaya dengan sektor pertanian dengan beras unggulan adalah Rojolele. Kelompok petani dan beberapa kelompok pegiat budaya Desa Delanggu, membangkitkan kembali romantika kejayaan tersebut bagi generasi selanjutnya dengan mengangkat konsep Festival Mbok Sri Mulih (FMSM).

Eksan Hartanto salah satu pemuda Desa Delanggu akhirnya mendirikan Sanggar Rojolele untuk memfasilitasi berlangsungnya festival tersebut. "Festival Mbok Sri Mulih adalah festival tahunan sejak 2017 di Desa Delanggu, Klaten, Jawa Tengah yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Sanggar Rojolele. Tahun 2019 adalah kali ketiga FMSM diselenggarakan, selama 3 hari dari  20 - 22 September 2019. FMSM adalah festival yang merayakan budaya pertanian," kata Eksan.

"Mbok Sri Mulih" adalah bahasa Jawa yang memiliki arti "Ibu Sri Pulang", dalam hal ini adalah pulang ke kampung halaman. Pelaku utama dari FMSM adalah petani serta warga Desa Delanggu. FMSM juga mengundang kelompok-kelompok seni dari luar Delanggu untuk berpartisipasi dalam berbagai bentukan program seperti pemutaran film layar tancap, pertunjukan tari, dan lain sebagainya.

Kelompok-kelompok seni tersebut berasal dari Cilacap :Sangkanparan dari Klaten: Komunitas Paguyuban Gora Swara Nusantara, Sanggar Lare Mentes, Sanggar Sayuk Rukun, Seni Janthur Panji Udan, Teater Lazuardi Laskla, Paguyuban Lesung Cawas, Paguyuban Semoyo Endo Delanggu, JBI Delanggu, GP Anshor Delanggu, Wabah Delanggu, Komunitas Tari Indebyur Solo dan dari Ngawi: perupa atau pelukis arang Budiyono Kampret.

Festival ini diselenggarakan sebagai media komunikasi warga Desa Delanggu, bukan sekedar perayaan tetapi juga momen pendidikan berkelanjutan terkait isu agraris dari berbagai aspek. Melalui festival ini, Sanggar Rojolele embrio dari Festival Mbok Sri Mulih mengajak seluruh warga desa untuk menggali potensi-potensi alam, sosial, kebudayaan, serta sumber daya manusia, sebagai metode membangun peta jalan pengembangan ekosistem agraris.
Kirab wiwit, salah satu acara budaya yang mengangkat pertanian dalam Festival Mbok Sri Mulih di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. (Dokumentasi FMSM)
Salah satu fungsi festival ini adalah penguatan atau penemuan kembali identitas kelompok dengan cara merayakan hal yang menjadi identitas kelompok
tersebut. Azas manfaat (benefit) lebih diutamakan daripada azas keuntungan secara ekonomi, di mana penyelenggaraan FMSM membuka peluang bagi penemuan identitas baru masyarakat petani Desa Delanggu.

Sejarah
Delanggu memiliki sejarah panjang dan kaya di dunia agraris Indonesia. Sampai dengan periode 80-an, Delanggu dikenal sejagat Nusantara berkat produk beras unggulannya yaitu, Rojolele. "Sayangnya, produk unggulan ini tergerus oleh sistem pertanian nonorganik yang instan sehingga merusak pola pertanian organik berkelanjutan," kata Eksan yang juga berprofesi sebagai petani ini.

Desa Delanggu mencakup wilayah seluas 137 Ha dengan luas lahan pertanian sekitar 69 Ha. Dari sekitar 1.500 Kepala Keluarga hanya 60 KK yang masih menggeluti profesi petani, dengan rata-rata usia di atas 40 tahun.

Profesi petani yang dahulu merupakan identitas masyarakat Delanggu, dirasa turun peminatnya. "Ketidaksejahteraan petani banyak dipicu oleh sistem yang berlaku saat ini di mana petani sama sekali tidak memiliki posisi tawar, misal dalam menentukan besaran bagi hasil dengan pemilik lahan atau harga jual dengan tengkulak," katanya.

Pertanian di Delanggu saat ini didominasi dengan sistem upah. Sudah jarang petani yang menanam sendiri untuk dikonsumsi sendiri. Akibatnya, kualitas hasil panen jadi nomor dua, dan yang terpenting adalah siklus panen cepat agar siklus pendapatan juga cepat.

"Para petani yang berusia 40 tahun ke bawah sudah tidak mengalami menanam beras Rojolele, ikon kebanggaan Delanggu, di ladang-ladang mereka," kata Eksan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu dampaknya adalah ketahanan ekonomi masyarakat Delanggu yang menurun drastis, diperparah oleh kondisi regenerasi pekerja tani yang tersendat, sebab generasi muda Delanggu memilih untuk bekerja di sektor nonagraris karena kerja agraris dianggap tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

FMSM bertendensi untuk mengubah paradigma tersebut melalui program-programnya. Bukan hanya dalam bentuk seni pertunjukan, tetapi juga ritual tradisi untuk menggali kembali kearifan lokal serta forum diskusi untuk membuka kemungkinan inovasi kerja agraris dalam berbagai aspek.
Kirab wiwit, salah satu acara budaya yang mengangkat pertanian dalam Festival Mbok Sri Mulih di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. (Dokumentasi FMSM)
Marwah utama dari kegiatan ini adalah membicarakan petani dan pertanian dari sudut pandang kebudayaan. Semua saling bertautan dan mengisi. Kebudayaan bukanlah artefak statis kaku, melainkan entitas luwes yang dapat mengisi segala sendi kehidupan.

"Ketika kita berbicara tentang nilai seni dan budaya, kita harus mulai secara intrinsik bagaimana seni dan budaya menerangi kehidupan batin, serta memperkaya dunia emosional. Dalam hal ini, FMSM ingin menunjukkan manfaat seni budaya pada kesejahteraan sosial, kesehatan fisik dan mental, sistem pendidikan, status nasional dan ekonomi dalam konteks agraris," kata Eksan.

Dalam proses pengembangan festival tersebut, FMSM mendapat dukungan dari Start Up yang bergerak dalam pengembangan website berfokus dalam isu budaya. Dimas Jayasrana selaku Co-Founder Spektakel Indonesia menyebutkan sebagai sebuah festival baru dan skala kecil, FMSM ingin membuat peta jalan yang terukur dan lebih jauh lagi, selalu memastikan keterlibatan warga desa sebagai stakeholder utama festival.

"Kami yakin dalam perjalanannya akan muncul inovasi-inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta festival - sehingga pengembangannya dilakukan secara organik dan tertata, menyesuaikan kebutuhan. Berjejaring dengan festival lain serta berbagai macam lembaga/kelompok, adalah salah satu hal pasti yang dilakukan oleh Sanggar Rojolele untuk mengembangkan FMSM," kata Dimas.

Dari Festival "Mbok Sri Mulih" masyarakat akan mengingat bahwa Nusantara pernah memiliki kejayaan dalam sektor agraris. "Mbok Sri" membangkitkan kembali identitas petani muda yang mampu menghasilkan varietas-varietas unggulan dalam menciptakan beras premium.

Dengan adanya festival tersebut setidaknya generasi penerus akan melihat bahwa Indonesia ditopang oleh para petani yang gigih menyemai ladangnya. Inovasi dari pemuda dibutuhkan untuk pengembangan sektor agraris, tidak hanya inovasi teknologi namun sistem sosial juga perlu diangkat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani.

Baca juga: Museum Tani Pertama Diresmikan

Tanggulangi kekeringan, Pemkab Magetan bangun empat sumur air dalam

Oleh Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar