counter

BI jajaki pengembangan kopi Anggi Pegunungan Arfak

BI jajaki pengembangan kopi Anggi Pegunungan Arfak

Salah satu Warung Kopi di Manokwari, Papua Barat, yang menjajakan berbagai jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Industri warung kopi di daerah tersebut terus tumbuh sejak dua tahun terakhir (Foto Antaranews Papua Barat/Toyib)

Manokwari (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mulai menjajaki potensi kopi Anggi di Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, untuk mendorong pengembangan potensi lokal sebagai komoditas unggulan.

"Pengembangan kopi menjadi salah satu program BI. Ini sebagai upaya mendorong peningkatan devisa negara melalui bidang perdagangan terutaama pasar ekspor," kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Papua Barat, Donny Heatubun di Manokwari, Rabu.

Donny menyebutkan, BI sudah memiliki cukup pengalaman dalam pengawal pengembangan kopi, di antaranya kopi gayo di Aceh. Ia berharap, hal serupa bisa terlaksana di Papua Barat terutama Pegunungan Arfak yang memiliki potensi cukup besar.

Menurutnya, peluang pasar ekspor untuk komoditas kopi masih sangat besar. Kopi Anggi bisa didorong menjadi produk unggulan daerah.

Mengawali program tersebut, BI berencana menggandeng sebuah lembaga swadaya masyarakat di Manokwari. Koordinasi awal sudah dilakukan untuk menggali peluang dan kesiapan petani menyambut program tersebut.

"Untuk Papua Barat ini merupakan hal yang sangat baru. Kita akan dorong ini pada pasar ekspor, cuma persoalnya di sini ada pada kontinuitas produksi," katanya lagi.

Dari pengalaman BI selama ini, ujarnya, pasar ekspor siap menampung sebanyak-banyaknya produk kopi dari petani Indonesia. Di Pegunungan Arfak, petani belum siap.

Untuk itu, kata dia, masih banyak hal yang harus disiapkan, terutama lahan, tanaman dan sumber daya petani.

"Untuk menyambut pasar ekspor, kita butuh perkebunan berskala besar. Pegunungan Arfak harus siap itu, untuk potensi alamnya siap. Sekarang yang harus didorong adalah petaninya," kata Donny lagi.

Dalam program ini, lanjut Donny, BI siap mengawal dari proses penanaman hingga perdagangan. Pendampingan terhadap petani akan dilakukan antara 3 s-d 5 tahun hingga petani yang menjadi mitra BI benar-benar siap dan sukses.

Baca juga: Pemprov Papua-BI kerja sama promosikan kopi lokal

Baca juga: Kementan garap potensi ekspor kopi Wamena di Papua

Pewarta: Toyiban
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wakil DPRD Papua dan Papua Barat minta pemerintah buka ruang dialog

Komentar