Sleman waspadai lalu lintas ternak dari luar daerah

Sleman waspadai lalu lintas ternak dari luar daerah

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto didampingi Kasi Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Retno Widyastuti memberikan keterangan soal kasus antraks di wilayah ini. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Sleman (ANTARA) - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mewaspadai lalu lintas keluar masuk ternak dari luar daerah guna mengantisipasi penyebaran virus antraks.

"Dari pendataan yang kami lakukan belum ditemukan adanya ternak yang terserang virus antraks. Selain itu juga belum ada laporan tentang penyakit antraks di Sleman," kata Kepala Bidang Peternakan DP3 Kabupaten Sleman Harjanto di Sleman, Kamis.

Menurut dia, meski belum ditemukan kasus antraks, pihaknya tetap mewaspadai jual beli hewan ternak khususnya sapi dan kambing terutama yang berasal dari daerah yang terdapat kasus antraks.

"Walaupun ada pos lalu lintas ternak, namun hanya di tempat tertentu. Para penjual bisa saja melalui jalur 'tikus' untuk memasukkan ternak ke Sleman," katanya.

Ia mengatakan, setiap transaksi sapi atau kambing harus dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Sebab, dengan SKKH bisa menjadi satu jaminan ternak yang dijual sehat.

"Kami juga tidak bisa membiarkan ternak masuk ke Sleman tanpa adanya surat. Kalau yang tidak bawa akan kami minta untuk kembali dan meminta SKKH ke instansi terkait," katanya.

Harjanto mengatakan, peternak juga diminta melapor jika ada hewan ternak yang mati mendadak dan disusul dengan rentetan kematian hewan lain. Karena hal itu bisa saja disebabkan oleh bakteri antraks.

"Kalau dulu bisa tahu itu antraks dari ciri keluar darah pada lubang alami, tapi sekarang tidak dan harus dicek di lab," katanya.

Ia mengatakan, selain itu jika ada ternak yang mati diminta jangan disembelih karena jika dalam hewan ternak itu terdapat antraks, bisa jadi bakteri itu keluar dan "tertidur" dalam bentuk spora.

"Spora antraks ini bisa bertahan 50 tahun lebih," katanya.

Selain itu, kata dia, sebagai langkah antisipasi, pihaknya juga turut menyiagakan 14 Puskeswan yang ada di Sleman serta rutin dilakukan imunisasi untuk hewan ternak.

Salah satu peternak sapi di Dusun Jaten, Sendangadi, Kecamatan Mlati, Supriyadi (53) mengatakan sejauh ini dirinya melakukan pemeriksaan rutin ternaknya dan tiap empat bulan sekali diberikan vitamin.

"Di kandang komunal ini ada puluhan sapi dan kambing semua rutin diimunisasi oleh dinas," katanya.

Baca juga: Yogyakarta periksa sejumlah titik antisipasi penyebaran antraks
Baca juga: Distan DIY belum pastikan penyebab kematian lima sapi di Gunung Kidul
Baca juga: Gunung Kidul kaji kematian lima ekor sapi yang diduga antraks

 

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fermentasi jerami solusi pakan sapi yang lebih bernutrisi

Komentar