counter

Aswar bersaudara gunakan kelemahan psikologis untuk kalahkan lawan

Aswar bersaudara gunakan kelemahan psikologis untuk kalahkan lawan

Atlet Jetski nasional Aero Aswar (kiri) dan Aqsa Aswar (kanan) saat meluncurkan produk pakaian fashion milik mereka yang menggunakan merk “45WAR” di Jakarta, Kamis. (antaranews/Roy Rosa Bachtiar)

Jakarta (ANTARA) - Atlet jetski nasional Aero Aswar dan Aqsa Aswar mengungkapkan bahwa mereka kerap menggunakan kelemahan psikologis untuk mengalahkan lawan dalam turnamen yang mereka ikuti.

Namun teknik yang mereka lakukan bukan berupa intimidasi maupun tindakan yang menyerang psikologis lawan secara langsung, melainkan lebih kepada mencari informasi atau latar belakang dari lawan yang dihadapi.

"Trik untuk menang juga tidak hanya mempelajari teknik lawan, tapi juga kondisi psikologis mereka. Misalnya kalau lawan yang sudah berkeluarga dan punya anak, biasanya mereka lebih hati-hati saat balap. Jadi kalo kita 'pepet', mereka lebih mengalah. Tapi beda dengan pebalap yang mungkin 'single' atau baru putus, mereka justru lebih berani. Itu yang suka kami pelajari," tutur Aero saat ditemui di Jetski Indonesia Academy Jakarta, Kamis petang.

Menurut atlet berusia 24 tahun ini, cara tersebut cukup efektif untuk memperlebar celah kemenangan pada beberapa pertandingan.

Selain mempelajari kondisi psikologis lawan, mereka juga tidak luput untuk membentuk mental juang yang sangat kuat.

Aqsa, adik dari Aero, menuturkan bahwa ketahanan mental pribadi harus dibentuk dengan komitmen, motivasi, pikiran positif, dan kejujuran.

"Kita harus punya motivasi kuat untuk mengalahkan lawan. Kalau misalnya kita kalah ya harus bangkit, jangan semakin terpuruk, dan anggap saja itu bagian dari kompetisi yang tidak bisa dihindari. Itu kan pasti terjadi," tutur peraih Medali Emas Asian Games 2018 itu.

Terkait hal itu, Aero pun mengaku bahwa kondisi alam di Indonesia turut berperan dalam membentuk kualitas permainan dan mental mereka berdua ataupun atlet jetski nasional lainnya.

Kondisi laut di Indonesia jauh berbeda jika dibandingkan dengan laut Eropa atau Amerika Serikat, yang memiliki ombak lebih "jinak" dari pada yang ada di dalam negeri.

"Kalau dibandingkan soal ombak, Indonesia yang paling susah dibanding ombak Eropa atau Amerika. Di sini ombaknya bisa pecah dan tinggi, gelombang ombaknya pun bisa lebih dari satu arah. Makanya saat Asian Games kemarin banyak atlet asing yang sendi tangannya lepas karena tidak kuat (menghadapi) ombak di sini," pungkas Aero menambahkan.

​​​​​​Baca juga: Kejuaraan dunia jetski diharapkan jadi promosi wisata laut Indonesia
Baca juga: Aero-Aqsa tetap jadi tumpuan Indonesia di kejuaraan dunia

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Aris Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia raya berkumandang di arena jetski Ancol

Komentar