Peneliti dorong peningkatan efisiensi teknologi sektor pertanian

Peneliti dorong peningkatan efisiensi teknologi sektor pertanian

Ilustrasi lahan sawah pertanian. (ANTARA Foto/Adeng Bustomi)

Untuk menjaga kestabilan, perlu adanya sistem pekerjaan yang bisa menopang sektor pertanian di Indonesia sehingga produksi pangan dapat meningkat secara konstan
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Muhammad Diheim Biru mendorong penyebaran peningkatan teknologi sektor pertanian yang lebih efisien sebagai solusi guna mengatasi semakin terbatasanya sumber daya manusia di sektor pertanian nasional.

"Untuk menjaga kestabilan, perlu adanya sistem pekerjaan yang bisa menopang sektor pertanian di Indonesia sehingga produksi pangan dapat meningkat secara konstan," kata Muhammad Diheim Biru dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Menurut Diheim, contoh penggunaan teknologi pertanian yang lebih efisien antara lain seperti penggunaan benih berkualitas baik dan alat pertanian yang termutakhir atau terkini.

Selain itu, ujar dia, penting pula untuk membuka kesempatan bagi sektor swasta untuk ikut memasok dan mempercepat rantai distribusi pangan dan menjembatani usaha industri 4.0 dalam mengakses, mewadahi, dan mengajarkan tenaga kerja pertanian daerah sehingga mereka mendapatkan jaringan pasar yang lebih banyak dan penghasilan yang lebih besar.

Ia mengingatkan bahwa meluasnya fenomena penggunaan teknologi otomatisasi pada industri untuk menghemat tenaga kerja manual seperti buruh pabrik membuat kesempatan mencari kerja pada industri tersebut menjadi lebih kecil di kota-kota besar.

Sebagaimana diwartakan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian SDM Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono mengakui atas terjadinya penurunan jumlah petani di Indonesia, kini ia pilih mengerahkan alat mesin pertanian yang justru dianggapnya lebih efisien dan murah.

"Kekurangan SDM (petani) itu bisa diantisipasi dengan mengerahkan dan mengoptimalkan pemanfaatan alat dan mesin pertanian," katanya saat menghadiri launching pembinaan desa mitra Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor di Desa Lemah Duhur Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 13 April 2019.

Momon Rusmono memberikan perbandingan, setiap petani membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk memanen satu hektare lahan dengan menggunakan cangkul. Tapi, menggunakan mesin panen bernama Combine Harvester hanya membutuhkan waktu satu hari untuk memanen tiga hektare lahan.

Menurut dia, selain lebih efisien, penggunaan mesin panen juga bisa memangkas biaya pengeluaran dan beras yang dihasilkan lebih berkualitas.

"Mau tidak mau ke depan pertanian harus berbasis moderenisasi pertanian. Dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian bisa lebih efisien," ujarnya.

Baca juga: Pengamat soroti kemandegan regenerasi petani
Baca juga: Unej luncurkan teknologi "handheld-drone" dukung pertanian presisi

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengintip pertanian nirawak di China selatan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar