counter

Warga buka puasa di masjid bersejarah Pulau Penyengat

Warga buka puasa di masjid bersejarah Pulau Penyengat

Ilustrasi - Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat, Tanjungpinang, peninggalan sejarah Kerajaan Melayu Riau masa Sultan Mahmud pada 1803 dan direnovasi pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada 1832 Masehi. (ANTARA/Henky Mohari)

Kalau dahulu, rasanya kurang lengkap kalau tidak beribadah di Pulau Penyengat saat Ramadhan. Jadi pulau ini selalu ramai dikunjungi warga saat puasa
Tanjungpinang (ANTARA) - Ratusan warga dari berbagai daerah berbuka puasa di Masjid Raja Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Minggu.

"Bukan hanya warga Tanjungpinang dan wisatawan dari berbagai daerah yang berbuka puasa di Pulau Penyengat, melainkan juga wisatawan asal Malaysia dan Singapura," kata Ketua Lembaga Adat Melayu Kepri Abdul Razak di Tanjungpinang, Minggu.

Berbuka puasa dan shalat tarawih di Pulau Penyengat sudah seperti tradisi tahunan warga setempat maupun warga kebangsaan Malaysia dan Singapura yang memiliki hubungan saudara dengan raja-raja terdahulu di Pulau Penyengat.

Selain melakukan ibadah, tradisi yang dilakukan mereka, yakni ziarah ke kuburan sultan atau raja di sekitar Pulau Penyengat.

"Kalau sekarang mungkin tidak seperti dahulu. Kalau dahulu, rasanya kurang lengkap kalau tidak beribadah di Pulau Penyengat saat Ramadhan. Jadi pulau ini selalu ramai dikunjungi warga saat puasa" katanya.

Pantauan ANTARA di Pulau Penyengat, jumlah warga dan wisatawan yang berkunjung ke pulau bersejarah itu tidak banyak. Pedagang juga tidak banyak yang berjualan karena khawatir merugi.

"Tahun ini agak sepi, tidak seperti tahun sebelumnya," ucap Cik Noi, salah seorang pedagang di sekitar Masjid Raya Sultan Riau.

Sejumlah pengemudi becak motor juga mengatakan tidak ada penumpang pada hari ini. Warga yang berkunjung ke Pulau Penyengat lebih senang berjalan kaki atau menunggu di masjid.
 

Tradisi ribuan warga salat Ied di atas jembatan Ampera

Pewarta: Nikolas Panama
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar