counter

Pelabuhan Pelantar II Tanjungpinang masih kekurangan armada darat

Pelabuhan Pelantar II Tanjungpinang masih kekurangan armada darat

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun (kemeja putih), meninjau pelantar II Tanjungpinang, Kepri, Minggu. (Ogen)

Tanjungpinang (ANTARA) (ANTARA) - Pelabuhan bongkar muat Pelantar II di kawasan Kota Lama Kota Tanjungpinang yang terhitung mulai 3 April 2019 resmi menyandang nama baru yakni Pelabuhan Kuala Riau, masih menghadapi kendala berupa terbatas dan kekurangan ketersediaan armada pendukung angkutan jalan darat.

Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun  saat meninjau, Minggu menyebut pelabuhan bongkar muat tersebut sangat membantu dan semakin memperlancar arus keluar masuk barang, kendati masih ditemukan kendala dari sisi bongkar muat barang berupa  minimnya armada darat.

Saat ini truk angkutan barang yang digunakan untuk membawa barang yang sudah dibongkar dari kapal masih minim, hanya sekitar sekitar 20 unit truk. Sementara kebutuhan menurut perhitungan para pekerja, sekitar 40 hingga 50 truk untuk membuat pengangkutan barang semakin lancar, karena untuk waktu sandar kapal saat ini sudah tidak lama lagi.

“Istilahnya, dwelling time-nya semakin singkat,” kata Nurdin saat meninjau pelabuhan bongkar muat yang dikenal sebagai Pelantar II Tanjungpinang itu.

Nurdin menyatakan, sejak dibangun 2018 lalu menggunakan APBD Kepri, kini pembangunan pelantar II Tanjungpinang mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Pasokan bahan kebutuhan untuk warga setempat menjadi lebih lancar, sehingga tidak ada rasa khawatir terjadi kelangkaan barang.

“Alhamdulillah semakin lancar dan cepat. Kita harap kelancaran ini mampu menekan harga di pasaran. Stok tersedia harga tidak melonjak tinggi,” imbuhnya.

Nurdin juga mengharapkan, dengan semakin lancarnya arus keluar masuk barang, harga-harga bahan pokok masyarakat di pasar tidak semakin tinggi menjelang lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah.

"Supaya emak-emak tak menjerit soal harga dan bisa fokus beribadah," ujarnya.

Pewarta: Ogen
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar