Artikel

Masyarakat mengenang Ani Yudhoyono ramah dan aktif

Masyarakat mengenang Ani Yudhoyono ramah dan aktif

Jenazah almarhumah Ani Yudhoyono dibawa dari kediaman menuju pendopo untuk disemayamkan di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/6/2019). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/hp.)

Jakarta (ANTARA) - Semiwati (58) merasa sedih mendengar kabar ibu negara keenam Indonesia, Ani Yudhoyono berpulang ke Maha Kuasa pada Sabtu siang (1/6).

Ibu dua anak tersebut sangat mengagumi sosok presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan istrinya Kristiani Herrawati atau yang akrab disapa Ani Yudhoyono.

Baginya Ani adalah sosok yang aktif berorganisasi dan ramah kepada banyak orang.

"Bu Ani adalah perempuan menjalankan organisasi dengan baik. Karena dia mantan istri prajurit maka dia akrab dengan organisasi. Ibu ani bisa menanamkan kebaikan berorganisasi ke orang banyak. Saya rasa anak kecil juga kalau di tanya siapa Bu Ani. Semangat Bu Ani dalam bersosial itu hebat," kata perempuan yang akan pensiun dari TNI tahun ini di Medan, Minggu.

Sebagai istri prajurit, menurut dia, Ani memang tidak pernah diam. Dia juga menggagas beberapa program yang membantu tugas suaminya sebagai pemimpin negeri ini kala itu, seperti menginisiasi Rumah Pintar (Rumpin).

Rumah Pintar didirikan untuk memudahkan anak-anak mengakses buku. Tidak itu saja, para perempuan juga dapat ikut serta menimba ilmu dengan diberi pelatihan-pelatihan.

Dia juga menilai Ani sebagai sosok yang akrab dengan suami, anak dan cucunya. Menurut dia, Ani tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya untuk tetap berkarier di TNI.

"Anaknya bebas memilih jalan hidupnya, dan anakanya bebas untuk membangun keluarga sendiri tidak mesti ikut bersamanya," kata dia.

Lain lagi pengalaman Astuti, perempuan berusia 28 tahun tersebut pertama kali bertemu Ani Yudhoyono saat dia masih duduk dibangku kelas XI.

Kala itu baru saja pulang sekolah di Salatiga, kebetulan rombongan presiden sedang dalam kunjungan ke Boyolali melintas di depan sekolahnya.

Dengan senyun ramah, Ani Yudhoyono membuka jendela, melambaikan tangan kepada siswa SMA yang sedang pulang sekolah.

"Itu saya bahagia sekali ibu negara melambaikan tangan kepada kami anak sekolah. Dia sangat ramah dan terlihat tidak lelah melambaikan tangan sepanjang jalan," kenang dia.

Kabar tentang bu Ani mengidap kanker darah membuatnya terkejut, dia merasa sedih karena Ani mengidap penyakit yang serius.

Pertemuan terakhir dengan Ani adalah ketika peluncurab buku "Ani Yudhoyono: 10 Tahun Perjalanan Hati" di Jakarta.

Dia mengatakan ruangan hall penuh dengan kolega serta penggemar Bu Ani yang beruntung diundang ke acara tersebut. Bu Ani, kata dia, tampak cantik khas ibu-ibu Jawa dengan baju berwarna biru muda.

"Usai acara banyak yang mengantre untuk minta tanda tangan dalam buku itu dan dia dengan sabar menandatangani satu-satu sambil bertegur sapa dengan yang meminta tanda tangan. Saat saya minta tanda tangan pun dia dengan ramah penuh senyum memenuhi permintaan. Saya yakin banyak yang mencintai sosok Ibu Ani sedang merasa sangat kehilangan sekarang, semoga diberikan keikhlasan," kata dia.*


Baca juga: Dari Singapura, kami melepas Bu Ani

Baca juga: SBY: Ibu Ani pasrah tapi tidak pernah menyerah

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Detik-detik sebelum Ani Yudhoyono wafat

Komentar