Jakarta (ANTARA) - Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengapresiasi berbagai upaya yang digunakan untuk memanfaatkan inovasi dan teknologi termutakhir dalam rangka melancarkan arus kendaraan di ruas jalan tol Nusantara.

"Ke depan GT (gerbang tol) yang berada di ruas tol memang harus dihilangkan," kata Djoko Setijowarno dalam keterangan tertulis, Minggu.

Menurut Djoko, menghilangkan keberadaan gerbang tol di mana kerap terjadi hambatan arus kendaraan, dapat dengan menggunakan teknologi baru seperti yang digunakan di beberapa ruas tol di negara maju di mancanegara.

Sedangkan mengenai berbagai pilihan yang ada untuk itu, ujar dia, maka hal tersebut dapat didiskusikan lebih lanjut lagi antara berbagai pemangku kepentingan terkait.

Sebagaimana diwartakan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan transaksi tol "multi lane free flow" (MLFF) atau nirsentuh untuk mendukung kelancaran lalu lintas di berbagai ruas jalan tol, akan berlaku pada tahun 2020 mendatang.

"Dengan penggunaan MLFF, manfaatnya sangat besar karena bisa menghilangkan waktu antrian menjadi nol detik. Manfaat lain adalah efisiensi biaya operasi dan meminimalisir bahan bakar kendaraan," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Sebagaimana diketahui, MLFF atau nirsentuh adalah sistem di mana pengguna tol tidak harus menghentikan kendaraannya untuk membayar akses tol. Namun, di dalam kendaraan telah terdapat mekanisme sehingga sistem bisa mengenali kendaraan yang melewati jalan tol sehingga beban tarif juga akan ditanggung pengguna tol.

Pemerintah dan Bank Indonesia serta Otoritas Jasa Keuangan menyepakati 12 belas program sinergi untuk mendorong inovasi dan memperluas Elektronifikasi Transaksi Pemerintah yang difokuskan dalam tiga area yakni Bantuan Sosial, Transaksi Pemerintah Daerah dan Transportasi.

Dari 12 kesepakatan tersebut, terdapat poin mengenai implementasi elektronifikasi pembayaran di sektor transportasi salah satunya transaksi jalan tol. Dalam pembayaran jalan tol, strategi implementasi teknologi nir sentuh pembayarannya melalui penerapan MLFF yang didukung oleh lembaga pengelola yang berperan sebagai Toll Service Provider (TSP) atau Electronic Toll Collection (ETC).

Kementerian PUPR bersama dengan badan usaha jalan tol (BUJT) tengah menyiapkan implementasi elektronifikasi transaksi tol menuju MLFF yang merupakan transaksi pembayaran tol yang dilakukan dalam kecepatan normal dengan menggunakan teknologi nirsentuh.

Saat ini, elektronifikasi transaksi telah dilakukan di 50 ruas tol sepanjang 1.780 Km yang pengusahaannya dilakukan oleh 33 Badan Usaha jalan Tol (BUJT) menggunakan uang elektronik chip based yang dikeluarkan oleh 4 bank penerbit. Saat ini transaksi non tunai tol sudah 100 persen atau meningkat tajam dibandingkan pada Januari tahun 2017 yang masih 20 persen. Nilai transaksi per tahunnya diperkirakan mencapai Rp12 triliun.

Terdapat empat tahapan untuk menuju Multi Lane Free Flow. Tahap 1 yakni pemberlakukan transaksi nontunai 100 persen dan Tahap 2 integrasi ruas tol telah dilakukan. Integrasi yang telah dilakukan yakni Tahun 2017 pada ruas tol Tangerang –Merak dan Jakarta-Tangerang, perubahan sistem transaksi di Ruas Tol Jagorawi dari tertutup menjadi terbuka.

Pada tahun 2018 ini, dilakukan integrasi transaksi tol JORR W1 dengan Tol Prof. Sedyatmo, perubahan sistem transaksi tol Semarang ABC dan Semarang-Solo, JORR Akses Tanjung Priok dan Pondok Aren-Ulujami, dan penerapan Klaster 2 sampai Gerbang Tol Kalikangkung, Klaster 3 Semarang-Surabaya dan Klaster 4 Porong-Grati.

Sedangkan tahap 3 dilakukan tahun 2019 yakni feasibility study MLFF dan uji coba teknologi nirsentuh melalui Single Lane Free Flow (SLFF) dan tahap akhir yakni berlakunya MLFF bisa dilaksanakan tahun 2020.

Baca juga: Kementerian PUPR targetkan transaksi tol nirsentuh berlaku 2020

Baca juga: Gerbang Cikopo dihilangkan antisipasi penumpukan kendaraan mudik

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2019