counter

Kementan: Ketimpangan pendapatan di desa makin turun

Kementan: Ketimpangan pendapatan di desa makin turun

Kementan RI (ist)

Kalau kita memperhatikan kedua indikator itu, maka tidak berlebihan rasanya jika pemerintahan saat ini dinilai berhasil memperbaiki kesejahteraan masyarakat
Jakarta (ANTARA) - Ketimpangan pendapatan di desa makin turun mengingat program pembangunan, khususnya di perdesaan menjadi perhatian khusus yang terus dikembangan Kementerian Pertanian.

Hal ini dilakukan guna mewujudkan peningkatan kesejahteraan dan menurunkan ketimpangan ekonomi antara kota dengan desa. Parameter tersebut bisa dilihat melalui dua indikator, yakni turunnya jumlah penduduk miskin dan meningkatnya pendapatan masyarakat.

"Kalau kita memperhatikan kedua indikator itu, maka tidak berlebihan rasanya jika pemerintahan saat ini dinilai berhasil memperbaiki kesejahteraan masyarakat," kata Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Kariyasa memastikan pembangunan yang dilakukan saat ini berhasil membuat perekonomian penduduk desa meningkat drastis, bahkan jauh di atas angka rata-rata. Hal ini juga terlihat jelas dari Gini Ratio desa yang lebih rendah dari Gini Ratio kota.

Mengacu pada data Maret 2013, Gini Ratio Kota awalnya hanya sebesar 0,431 dan Gini Ratio di desa sebesar 0,320. Kemudian pada Maret 2018 turun masing-masing menjadi 0,401 dan 0,324.

Selanjutnya pada September 2018, penurunan kembali terjadi secara signifikan, yakni masing-masing 0,391 di perkotaan dan 0,319 di perdesaan.

"Terjadinya penurunan ini merupakan bukti nyata bahwa program-program pembangunan pertanian sudah tepat, yaitu tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi mampu meningkatkan pemerataan dan menurunkan kemiskinan," katanya. 

Di sisi lain, jumlah penduduk miskin secara nasional juga mengalami penurunan hingga menembus angka satu digit, yakni 9,82 persen. Jumlah itu terus turun menjadi 9,66 persen yang tercatat pada September 2018.

Demikian juga dengan jumlah penduduk miskin di desa yang mencapai 14,32 persen untuk 2013 dan 13,20 persen untuk 2018.

Jumlah ini kembali turun menjadi 13,20 persen, yang selanjutnya berubah lagi menjadi 13,10 persen. 

Penurunan ini juga terjadi pada jumlah penduduk miskin di perkotaan yang tadinya 8,39 persen, kemudian 7,02 persen dan selanjutnya menjadi 6,89 persen.

"Penurunan jumlah penduduk miskin ini juga diikuti oleh semakin meratanya atau menurunnya ketimpangan pendapatan masyarakat, yang ditandai oleh menurunnya Gini Ratio," katanya.

Kariyasa menambahkan, pada Maret 2013, Gini Ratio secara nasional mencapai sebesar 0,424. Tapi pada Maret 2018, jumlah tersebut turun menjadi 0,389, disusul bulan berikutnya 0,384.

"Angka-angka di atas secara jelas bahwa ketimpangan pendapatan masyarakat baik di perkotaan maupun di perdesaan terus menurun," katanya.

 

Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertama kali, Jateng ekspor edamame ke Belanda

Komentar