Ankara (ANTARA) - Turki "sangat prihatin" mengenai campur tangan mematikan pasukan keamanan Sudan pada Senin (3/6) terhadap pelaku protes-duduk di Ibu Kota Sudan, Khartoum, kata Kementerian Luar Negeri Turki di dalam satu pernyataan.

Sedikitnya 13 pemrotes tewas dan ratusan lagi cedera saat pasukan keamanan bergerak masuk untuk membersihkan kamp protes utama di dekat markas besar militer.

Kementerian tersebut di dalam satu pernyataan tertulis mengatakan proses perundingan mesti sejalan dengan konsensus nasional. Turki juga menekankan bahwa metode damai mesti diterapkan, bukan aksi kekerasan, untuk menjamin kestabilan serta keamanan.
 
Pernyataan itu mendesak Dewan Militer Peralihan Sudan (TMC), lembaga militer negeri tersebut yang menggulingkan presiden Omar Al-Bashir, agar secepatnya memenuhi harapan rakyat Sudan. Kementerian tersebut mengatakan bahwa mendirikan pemerintah sipil penting untuk dilakukan.

Kementerian Luar Negeri menekankan bahwa Ankara akan selalu mendukung negara "sahabat" Sudan dan rakyatnya.

Protes-duduk telah menjadi pusat protes guna menuntut TMC menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil.

Pada awal April, militer Sudan menggulingkan Al-Bashir, setelah berbulan-bulan demonstrasi rakyat berlangsung dalam rangka menentang 30-tahun kekuasaan Al-Bashir.

TMC sekarang mengawasi masa peralihan dua-tahun, dan selama itu telah berjanji akan menyelenggarakan pemilihan presiden.

Namun, demonstran tetap berada di jalan guna menuntut TMC menyerahkan kekuasaan --sesegera mungkin-- kepada pemerintah sipil.

Sumber: Anadolu Agency

Baca juga: Militer Sudan serukan pemilu dalam sembilan bulan
Baca juga: Pasukan Sudan serbu kamp pemrotes, sembilan orang tewas
Baca juga: Oposisi Sudan mulai pemogokan hari pertama

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Tia Mutiasari
Copyright © ANTARA 2019