counter

Pencemaran udara di pantura juga meningkat saat libur Lebaran

Pencemaran udara di pantura juga meningkat saat libur Lebaran

Kendaraan antre keluar jalur Pantura di pintu keluar tol Brebes Barat, Jawa Tengah, Jumat (7/6/2019). Buangan asap kendaraan selama mudik ikut meningkatkan polusi udara di Pantura Jawa. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/hp.

Jakarta (ANTARA) - Pencemaran udara di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa juga meningkat yang terpantau sempat memburuk saat libur Lebaran 2019 karena adanya peningkatan konsentrasi partikulat debu kurang dari 2,5 mikron (PM2,5).

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin di Jakarta, Selasa, mengatakan tingginya PM2.5 terjadi hampir di seluruh wilayah pantura Jawa, ini menandakan peningkatan aktivitas kendaraan saat Lebaran di berbagai wilayah di Jawa, pembakaran biomassa pascapanen, debu akibat memasuki kemarau, terjadi hampir di seluruh wilayah pantura Jawa.

Belum lagi PM2.5 dari PLTU batu bara yang banyak dijumpai di pantura Jawa, mulai dari Babelan, Indramayu, Cirebon, Batang, Gresik, hingga Paiton, yang sumbangannya terhadap pencemaran udara tidak sedikit, ujar dia.

“Dari rata-rata konsentrasi PM2.5 pada 15-28 mikrogram per meter kubik menjadi rata-rata 47 mikrogram per meter kubik,” kata Ahmad.

Ia merinci sumber pencemaran di pantura, Jawa Barat, tidak hanya berasal dari kendaraan bermotor (menyumbang pencemaran 44 persen), tetapi ada juga dari PLTU batu bara (14 persen), pembakaran di proses industri (19 persen), pembakaran biomassa dan sampah (13 persen), debu jalanan (5 persen), proses konstruksi (2 persen), rumah tangga (3 persen).

Lebih lanjut ia mengatakan kemacetan yang terjadi berjam-jam juga memperberat tingkat pencemaran dari kendaraan bermotor. Namun sekali lagi, dirinya menegaskan bahwa sumber pencemarannya tidak tunggal.

Faktor kemarau memperberat situasi di mana PM2.5 semakin lama tersuspensi di udara sehingga sebelum PM2.5 luruh ke tanah atau badan air justru ditambah lagi oleh pencemaran berikutnya.

“Jika ada hujan maka PM2.5 cenderung luruh ke tanah atau badan air berkat ter-flushing air hujan,” ujar Ahmad.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago sebelumnya mengatakan tipikal kota besar, metropolitan atau megapolitan, 68-70 persen polutan berasal dari sumber bergerak, sedangkan 30 persen tentu dari sumber lain.

Baca juga: Menyoal Baku Mutu Emisi pembangkit termal mutakhir
Baca juga: Jenis-jenis polutan kendaraan dan bahayanya bagi kesehatan
Baca juga: Perlu pengawasan dan penegakan hukum pencemaran udara Jakarta


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tanggapan warga atas kondisi udara di Jakarta

Komentar