Pengamat apresiasi pembenahan moda angkutan laut Lebaran

Pengamat apresiasi pembenahan moda angkutan laut Lebaran

Ilustrasi kapal laut jenis pinisi. (en.wikipedia.org)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengapresiasi sejumlah langkah pembenahan yang dilakukan berbagai pihak terkait terhadap moda angkutan laut periode Lebaran, mengingat masih mahal harga tiket pesawat.

"Dampak kenaikan tarif tiket pesawat udara juga berimbas pada angkutan laut. Ada peningkatan cukup berarti pada angkutan laut," kata Djoko Setijowarno, di Jakarta, Selasa.

Menurut Djoko, para perantau di luar Jawa yang tidak mampu beli tiket pesawat, pada umumnya akan lebih memilih kapal laut untuk mudik ke kampung halamannya.

Ia berpendapat bahwa transportasi penyeberangan sudah berbenah terutama pada Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakauheni.

"Ada dermaga khusus sepeda motor, ada dermaga eksekutif seperti terminal di bandara. Kapasitas kapal juga sudah besar dan bersih. Semua ruang berpendingin. Untuk menyeberang 15 mil butuh satu jam. Sedangkan lewat dermaga non-eksekutif butuh dua jam," katanya lagi.

Selain itu, ujar dia, ada angkutan lanjutan di pelabuhan disediakan baik yang reguler maupun nonreguler, seperti di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, ada Bus Trans Jakarta dan Bus Damri kerja sama OT Pelindo dan Perum Damri ke beberapa kabupaten di Jawa Tengah.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan mencatat sejak H-15 (21/5) sampai dengan H+1 (7/6) pada masa angkutan laut Lebaran tercatat sebanyak hampir satu juta pemudik atau 960.494 orang menggunakan kapal laut sebagai penumpang mudik Lebaran 2019.

Posko Terpadu Angkutan Lebaran 2019 juga mencatat Pelabuhan Batam menjadi pelabuhan terpadat dengan jumlah penumpang hingga H+1 (7/6) pukul 06.00 WIB sebanyak 153.792 orang.

"Secara berturut-turut selain Batam adalah Tanjung Balai Karimun dengan 105.699 orang, Tanjung Pinang (63.665), Ternate (49.263) dan Balikpapan (42.740)," ujar Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub Capt Wisnu Handoko dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Jumat (7/6).

Capt Wisnu juga menginformasikan bahwa hingga H+1, dari 51 pelabuhan yang dipantau tidak terlihat adanya penumpukan penumpang dan tidak ada penumpang di pelabuhan yang tidak terangkut oleh kapal penumpang yang beroperasi di pelabuhan tersebut.

Khusus pemantauan di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke Jakarta Utara, ia menyebutkan adanya tren peningkatan penumpang dalam masa libur Lebaran 2019 ini dikarenakan banyak masyarakat yang memanfaatkan liburan Lebaran ke Kepulauan Seribu dengan menggunakan kapal tradisional dari Pelabuhan Kali Adem.

"Tercatat per hari Jumat (7/6) sebanyak 4.331 orang penumpang tujuan Kepulauan Seribu yang diangkut dengan 22 kapal. Ada kenaikan jumlah penumpang bila dibandingkan Kamis (6/6) kemarin, dan diperkirakan Sabtu (8/7) akan semakin banyak jumlah penumpang ke Kepulauan Seribu," katanya pula.

Capt. Wisnu meminta agar setiap pihak baik operator maupun masyarakat untuk selalu mengutamakan keselamatan pelayaran, dan jangan memaksakan diri bila kapal sudah penuh serta meminta agar nakhoda kapal selalu memperhitungkan faktor cuaca.
Kapal feri KMP Baruna I siap sandar di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. (ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Usul Menhub atasi kemacetan arus balik lebaran 2020

Komentar