Jakarta (ANTARA) - Oracle Arena, 8 Mei 2019, bintang Golden State Warriors Kevin Durant berhenti tak membantu rekan-rekannya mengantisipasi serangan balik Houston Rockets usai melesakkan tembakan dua angka pada sisa waktu dua menit 11 detik kuarter ketiga gim kelima semifinal Wilayah Barat NBA.

Durant tentu bukan tak mau membantu kerja pertahanan, tapi ia dihentikan oleh tubuhnya. Pebasket berusia 30 tahun itu tertunduk, tangan kirinya memegangi betis kaki kanannya, sebelum kemudian meninggalkan lapangan dan tak kembali.

Belakangan dikonfirmasi bahwa Durant hanya menderita cedera ketegangan otot betis dan bukan achilles sebagaimana sempat dikhawatirkan pelatih kepala Warriors, Steve Kerr.

"Itu pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya, tapi memang bukan achilles, hanya ketegangan otot betis," kata Kerr selepas pertandingan.

Hidup tanpa Durant seolah tak mempengaruhi Warriors yang akhirnya sukses menyingkirkan Rockets 4-2 dan kemudian menyapu bersih Portland Trail Blazers 4-0 dalam final Barat.

Namun, absennya Durant mulai terasa ketika Warriors harus menghadapi Toronto Raptors di partai final. Usai kalah di gim pertama, Warriors sempat menyamakan kedudukan dengan merebut gim kedua, sebelum kemudian dipecundangi dua kali dalam laga kandang dan tertinggal 1-3 dari Raptors.

Durant, terlihat menanti di lorong menuju kamar ganti Warriors demi menyemangati rekan-rekannya usai kekalahan gim keempat.

Adegan itu kemudian diikuti kabar baik dua hari kemudian ketika Durant dinyatakan akan bergabung dalam sesi latihan bersama Warriors jelang gim keenam di Scotiabank Arena.

Durant akhirnya betul-betul melantai dalam gim keenam dan membukukan 11 poin serta melesakkan tiga dari tiga percobaan tripoinnya. Namun, baru dua menit lebih kuarter kedua berjalan, Durant yang gagal melewati Serge Ibaka menjatuhkan diri ke tepi lapangan.

Kali ini, kecuali keberhasilan Warriors memenangi gim kelima dengan skor 106-105 sekaligus memperpanjang nafas mereka dan memaksa final dilanjutkan ke gim keenam, tak ada kabar baik bagi sang juara bertahan.

Presiden Operasional Bola Basket Warriors, Bob Myers, bahkan sekuat tenaga menahan isak tangisnya dan terpatah-patah ketika menggelar jumpa pers purnalaga dadakan untuk menyampaikan kabar terakhir tentang Durant.

Sesuatu yang ditakutkan sebulan sebelum, malah terjadi ketika Warriors berada dalam posisi terdesak.

"Cedera awalnya adalah cedera betis. Namun, ini bukan cedera betis. Saya bukan dokter. Saya tidak yakin apakah ini berhubungan dengan cedera yang sebelumnya, namun ini jelas cedera yang berbeda," kata Myers, Senin (10/6) waktu setempat.


Martir kebangkitan

Ketika Durant cedera dan meninggalkan lapangan, Warriors tengah unggul tipis 39-34 atas Raptors. Keunggulan itu sempat lepas dari genggaman Warrios dan Raptors merebutnya dalam kedudukan 103-97 pada sisa waktu tiga menit 28 pertandingan.

Namun, bayang-bayang cedera Durant kemudian menjelma menjadi penyemangat bagi Warriors. Tiga tripoin dari Splash Brothers, dua milik Stephen Curry dan satu untuk Klay Thompson berhasil memastikan kemenangan.

Baik Curry maupun Thompson mengakui purnalaga bahwa cedera Durant dan reaksi awal yang buruk dari publik Scotiabank Arena, seolah menjadi pelontar semangat mereka untuk bisa mengankan kemenanan gim kelima.

Sementara final akan dilanjutkan ke gim keenam di Oracle Arena, Jumat (14/6) WIB, Durant segera menjalani operasi untuk menangani cedera achiles yang dideritanya.

Selepas operasi yang berjalan sukses Durant lewat akun instagram pribadinya buka suara soal cederanya dan betapa bangganya ia menyaksikan rekan-rekannya memenangi gim kelima.

"Seperti saya katakan pada Senin lalu, saya merasakan sakit yang mendalam tapi saya harus baik-baik saja. Bola basket adalah cinta terbesarku dan saya ingin bermain malam itu karena itu pekerjaan saya. Saya ingin membantu rekan-rekan dalam perjuangan untuk meraih gelar tri-runtun," tulisnya pada Rabu (12/6).

"Tapi memang jalannya demikian dalam olahraga ini dan saya bangga telah berjuang sekuat tenaga dengan fisik ini, dan bangga saudara-saudara saya membukukan kemenangan," ujarnya menambahkan.

Durant, seolah menjadi martir kebangkitan Warriors di gim kelima dan bukan tak mungkin hal itu berlanjut di gim keenam serta ketujuh.

Ada dua skenario yang kemungkinan terjadi jika menilik pada kisah di olahraga lain, sepak bola, dan keduanya berakhir dengan bahagia walaupun mungkin dengan rentang waktu yang berbeda.

Pada 2016 silam, megabintang Cristiano Ronaldo tergeletak ketika tim nasional Portugal menghadapi Prancis di final Piala Eropa karena cedera. Ia dipaksa menepi, namun rekan-rekannya berhasil memenangkan medali emas dan tentunya trofi Piala Eropa 2016 untuk Ronaldo berkat gol Eder pada babak kedua waktu tambahan yang memastikan kemenagan 1-0 atas Prancis.

Dua tahun berselang, penyerang bintang Liverpool Mohamed Salah cedera bahu usai dipiting oleh kapten Real Madrid Sergio Ramos saat laga baru berjalan 23 menit dan dipaksa meninggalkan lapanan dengan wajar berlinang air mata. Dibarengi rentetan blunder kiper Loris Karius, Liverpool kalah 1-3 dan menjadi saksi kejayaan Madrid meraih gelar juara tri-runtun.

Setahun kemudian, 1 Juni 2019 lalu, Salah kembali ke final Liga Champions dan segera membawa Liverpool unggul lewat eksekusi penaltinya saat laga baru berjalan dua menit sebelum kemudian Divock Origi menggenapi kemenangan 2-0 atas Tottenham Hotspur untuk akhirnya menyabet gelar juara.

Sekali lagi, kedua skenario itu berakhir bahagia. Namun, apakah itu kebahagiaan yang diraih dalam waktu dekat atau harus menunggu setahun berselang bagi Durant dan Warriors, akan dipastikan dalam gim keenam final di Oracle Arena, Jumat (14/6) WIB.


Tantangan mental Raptors

Peluang Warriors di atas kertas belum habis. Mereka bisa saja menjadi protagonis dalam kisah kebangkitan dari ketertinggalan 1-3, mengisi peran yang dimainkan Cleveland Cavaliers tiga tahun lalu.

Namun tentu saja, skenario itu sesuatu yang tak diimpikan oleh Raptors, yang dalam waktu bersamaan menghadapi tantangan mental tersendiri.

Usai kemenangan dramatis dalam semifinal Timur atas Philadelphia 76ers, Raptors membukukan empat kemenangan beruntun demi menundukkan Milwaukee Bucks di final Timur.

Kepercayaan diri yang tinggi dan momentum agaknya berada di kubu Raptors, setidaknya hingga empat laga pertama final.

Namun, setelah Durant cedera di gim keenam, Raptors seolah disambar oleh petir. Reaksi bodoh publik Scotiabank Arena yang bersorak penuh sukacita ketika Durant dipapah meninggalkan lapangan tentu tak membantu.

Bahkan, ketika Raptors sempat bangkit dari ketertinggalan dan hanya dua menit lagi dari kemenangan berkat keunggulan 103-97, mental Kawhi Leonard dkk seolah terluka. Penjagaan perimeter yang menjadi senjata utama mereka membendung Warriors dalam dua laga sebelunya, seolah raib begitu saja.

Kelengahan, yang bisa jadi karena rasa empati terhadap nasib buruk lawannya, sesuatu yang harus dihindari Raptors jika mereka betul-betul ingin menutup musim bersejarah dengan gelar juara NBA perdana.

Belas kasih, tak boleh hadir ketika mereka melantai di Oracle Arena untuk gim keenam. Sportivitas dan belas kasih adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Memberikan waktu dan kesempatan agar lawan Anda yang menderita cedera di pertengahan laga adalah sportivitas, tapi membiarkan hal itu mempengaruhi pendekatan Anda terhadap pertandingan boleh jadi adalah dampak belas kasih, atau dalam kata lain kesombongan.

Raptors mungkin punya catatan tak terkalahkan di Oracle Arena musim ini, satu kali di musim reguler dan dua kali di final, namun sebaiknya mereka menjaga dan menajamkan rekor itu.

Sebab, jika Warriors merebut gim keenam, artinya mereka punya nafas tambahan yang akan mengancam peluang Raptors.

Raptors memang menghadapi tantangan mental yang berat di gim keenam, namun jika mereka tak mampu mengatasi tantangan itu di gim keenam, boleh jadi mereka memang tak siap untuk menang, tak siap untuk menjadi juara.

Raptors wajib mengatasi tantangan mental tersebut, jika Kyle Lowry dkk ingin membawa pulang trofi Larry O'Brien ke Kanada untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2019