counter

"X-Men: Dark Phoenix", puncak dari saga X-Men

Oleh Nanien Yuniar

"X-Men: Dark Phoenix", puncak dari saga X-Men

X Men: Dark Phoenix (HO/ist)

Jakarta (ANTARA) - "X-Men: Dark Phoenix" dibuka dengan latar belakang tahun 1992 di mana para pahlawan mutan X-Men dipanggil pemerintah untuk menyelamatkan astronaut yang mengalami kesulitan di luar angkasa. 

Mereka pun menaiki X-Jet menembus angkasa dan menyelamatkan para astronaut. Namun, di tengah proses evakuasi, ada energi kosmik misterius yang merasuk ke tubuh Jean Grey (Sophie Turner).

Tanpa diduga, energi itu justru membuat kekuatannya jadi meningkat drastis dan sekembalinya ke bumi, ia merasa kekuatan barunya terlalu liar, sulit untuk dikendalikan.

Jean menjauh dari keluarganya karena ia tak ingin membuat masalah akibat kekuatan misterius itu. Perlahan, rahasia yang selama ini disimpan Charles Xavier (James McAvoy) dari Jean sejak kecil terungkap, membuat sang mutan makin tak terkendali.

Perubahan pada diri Jean membuat X-Men terbelah, ada yang bersikeras menyelamatkan Jean, dan ada yang berpendapat harus menyelamatkan orang-orang darinya. Mereka terpecah.
 
X Men: Dark Phoenix (HO/ist)


"X-Men: Dark Phoenix" memberi porsi yang besar pada tokoh-tokoh mutan perempuan, di mana fokus cerita berada pada tokoh Jean Grey, juga sosok antagonis Vuk (Jessica Chastain).

Namun kehadiran Vuk yang harusnya menambah bumbu keseruan dalam film terasa kurang dimaksimalkan. Latar belakangnya tak cukup digarap sehingga ada adegan-adegan yang terasa hambar.

Eksekusi adegan juga dirasa kurang greget saat seorang mutan yang dicintai banyak orang menghadapi nasib yang mengejutkan.

Lebih baik tonton dulu film-film X-Men sebelumnya bila tak ingin kebingungan memahami cerita "Dark Phoenix" beserta karakter-karakter ikoniknya, seperti Hank (Nicholas Hoult) yang bisa berubah jadi monster biru, Cyclops (Tye Sheridan), Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) yang dapat berteleportasi, Storm (Alexandra Shipp) yang punya kekuatan mengontrol cuaca, hingga Quicksilver (Evan Peters) yang bisa bergerak secepat kilat.

Di luar kekurangannya, film berdurasi 114 menit ini tetap layak untuk ditonton oleh pencinta X-Men. Apalagi kisah yang disuguhkan dalam film ini sangat manusiawi, tentang bagaimana menghadapi diri sendiri dan sebuah arti keluarga yang sebenarnya.

Menurut Sophie Turner, pemeran Jean, karakter yang dimainkannya di episode ini cukup menarik karena berada di area abu-abu. Jean bukan penjahat, tapi juga bukan orang suci.

"Dia adalah salah satu karakter yang sangat terluka dan tersiksa. Ada realisme dalam dirinya, menyakitkan dan pengalamannya mengingatkanmu pada gangguan mental... Tidak ada hitam dan putih, dia ada di area abu-abu. Itu adalah kesulitan yang sangat dekat dengan banyak orang dan alasan mengapa banyak orang menyukainya."

Baca juga: "X-Men: Dark Phoenix" diperkirakan rugi 100 juta dolar

Baca juga: "Dark Phoenix" dianggap sebagai film "X-Men" terburuk

 

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar