counter

Copa America 2019

Profil Grup A, tantangan sekaligus kesempatan tuan rumah tanpa Neymar

Oleh Gilang Galiartha

Profil Grup A, tantangan sekaligus kesempatan tuan rumah tanpa Neymar

Penyerang sekaligus kapten tim nasional Brazil, Neymar (kiri), dipapah meninggalkan lapangan usai ditarik keluar karena cedera dalam laga persahabatan melawan Qatar di Stadion Mane Garrincha, Brasilia, Brazil, Rabu (5/6/2019) setempat. (ANTARA/REUTERS/Ueslei Marcelino)

Jakarta (ANTARA) - Setelah 30 tahun lamanya, Brazil kembali menjadi tuan rumah Copa America edisi 2019 yang akan digelar mulai Jumat (14/6) waktu setempat atau Sabtu (15/6) WIB.

Brazil, seharusnya menjadi tuan rumah pada edisi 2015, namun untuk menghindari penumpukan anggaran karena sudah menjadi tuan rumah Piala Konfederasi 2013, Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016, mereka meminta untuk bertukar giliran dengan Chile. Sehingga Chile menjadi tuan rumah edisi 2015 dan Brazil 2019.

Sebagai tuan rumah, Brazil dibayangi catatan buruk setelah melewatkan lebih dari satu dekade atau tiga edisi sebelumnya tanpa pernah mencapai babak semi final.

Terakhir kali Brazil menjadi juara pada edisi 2007, memantapkan dominasi mereka selama satu dasawarsa saat kejuaraan itu masih dilangsungkan sebagai turnamen dwitahunan. Dari lima edisi sejak 1997, Brazil memenangi empat di antaranya, untuk membukukan catatan delapan kali juara Copa America.

Namun, dominasi itu sama sekali tak terdengar lagi dalam satu dasawarsa terakhir. Usai menjadi juara dua edisi beruntun pada 1995 dan 1997, Brazil tak pernah lagi bisa mencapai semifinal Copa America.

Padahal nama-nama besar maupun sosok-sosok potensial selalu lahir dari Negeri Samba, namun tak satupun punya kemampuan untuk menyokong negara mereka meraih trofi bergengsi baik di tingkat regional (Copa America) maupun internasional, kecuali Piala Konfederasi 2013 dan medali emas Olimpiade 2016.

Bintang Paris Saint-Germain, Neymar Jr. merupakan nama utama yang selalu disebut ketika membicarakan Brazil, namun kali ini ia harus absen lantaran cedera yang dideritanya dalam laga persahabatan melawan Qatar pada 5 Juni 2019.

Baca juga: Neymar dipastikan menepi empat pekan

Tanpa Neymar tak lantas peluang Brazil sirna begitu saja, toh pemain berusia 27 tahun itu sepanjang kariernya lebih banyak disorot karena kontroversi ketimbang prestasi. Bersama Brazil ia cuma bisa menjuarai Piala Konfederasi 2013 dan meraih medali emas Olimpiade 2016.

Sisanya, kontroversi, termasuk tuduhan perkosaan yang diungkap seorang perempuan baru-baru ini dan yang tak bisa dilupakan adalah aksi teaterikalnya berguling-guling dalam laga 16 besar Piala Dunia 2018 di Rusia lawan Meksiko yang menjelma jadi meme di internet.

Absennya Neymar, membuat Willian (Chelsea) dipanggil untuk melengkapi skuat 23 pemain. Namun, yang paling mungkin diuntungkan paling besar adalah sayap Ajax David Neres yang bakal dapat kesempatan main lebih besar serta gelandang serang Barcelona Philippe Coutinho.

Coutinho berpeluang untuk menaikkan nilai tawarnya setelah 18 bulan yang patut dilupakan bersama Barcelona serta demi mencari pelabuhan baru yang lebih baik.

Di lini serang, nama-nama lain yang mungkin menjadi bintang turnamen bagi Brazil adalah penyerang sayap Everton Richarlison dan tentunya penyerang Manchester City Gabriel Jesus jika ia berhasil membawa kesuksesannya di level klub menjadi jawara trigelar domestik pertama di tanah Inggris.

Sedangkan dari area bawah mistar gawang, pelatih Brazil Tite punya pilihan mewah berupa jawara Liga Champions Alisson Becker dan peraih trigelar Inggris Ederson Moraes (Manchester City). Keduanya bisa disebut sebagai dua kiper terbaik di Inggris musim ini.

Baca juga: Alves gantikan Neymar sebagai kapten tim Brazil untuk Copa America

Bek PSG, Dani Alves, mengambil alih ban kapten yang ditinggalkan Neymar dan ia menjadi satu dari trio jawara Prancis yang menaruhkan aroma kental di lini belakang Brazil bersama duet bek tengah Thiago Silva dan Marquinhos.

Di luar kesempatan para pemain Brazil untuk mengambil alih peran penting di tengah absennya Neymar, mereka juga tentu harus mengesampingkan target pribadi dan mengutamakan tujuan tim yakni menyudahi catatan buruk itu pada Copa America 2019.

Langkah pertama tentu tak membiarkan ada kejutan berarti di Grup A, di mana mereka tergabung bersama Bolivia, Peru dan Venezuela, tiga tim yang secara catatan pertemuan tak satu pun mengungguli Brazil.

Satu-satunya kenangan buruk yang harus dihapus Brazil adalah ketika mereka kalah 0-1 lawan Peru dan dihentikan langkahnya dalam fase penyisihan grup Copa America 2016 (edisi 100 tahun).

Peru boleh jadi merupakan kandidat terkuat untuk mendampingi Brazil ke putaran kedua dengan menempati peringkat kedua klasemen akhir fase penyisihan Grup A. Terlebih mereka masih ditangani oleh Ricardo Gareca, pelatih yang juga membawa Peru merajai fase grup tiga tahun silam.

Peru juga punya sejarah menjadi juara dua kali, pada edisi 1939 dan 1975, terbanyak kedua setelah Brazil di Grup A dibandingkan Bolivia yang sekali juara pada 1963 apalagi Venezuela yang tak pernah mencapai final.

Namun, karena edisi 2019 hanya diikuti praktis Bolivia dan Venezuela juga punya peluang untuk tetap melaju ke perempat final sebagai satu dari tiga peringkat ketiga terbaik fase penyisihan grup.

Dan kejutan selalu saja bisa terjadi, termasuk bagi tuan rumah turnamen jika mereka lengah dan tak mampu melepaskan diri dari bayang-bayang hilangnya Neymar.

Baca juga: Rondon dan Rincon masuk skuat Venezuela untuk Copa America

Berikut daftar skuat tim penghuni Grup A:

Brazil: Alisson Becker, Cassio Ramos, Ederson Moraes; Thiago Silva, Joao Miranda, Marquinhos, Filipe Luis, Alex Sandro, Dani Alves (kapten), Eder Militao, Fagner Lemos; Casemiro, Arthur Melo, Willian, Philippe Coutinho, Allan, Fernandinho, Lucas Paqueta; David Neres, Gabriel Jesus, Everton Soares, Roberto Firmino, Richarlison
Pelatih: Tite

Bolivia: Carlos Lampe, Ruben Cordano, Javier Rojas; Saul Torres, Luis Haquin, Mario Cuellar, Diego Bejarano, Jose Maria Carrasco, Marvin Bejarano (kapten), Roberto Fernandez, Adrian Jusino; Alejandro Chumacero, Erwin Saavedra, Leonel Justiniano, Samuel Galindo, Raul Castro, Paul Arano, Diego Wayar, Ramiro Vaca, Fernando Saucedo; Marcelo Martins, Leonardo Vaca, Gilbert Alvarez
Pelatih: Eduardo Villegas

Peru: Pedro Gallese, Carlos Caceda, Patricio Alvarez; Luis Abram, Aldo Corzo, Anderson Santamaria, Migeul Araujo, Miguel Trauco, Carlos Zambrano, Luis Advincula, Alexander Callens; Josepmir Ballon, Renato Tapia, Jesus Pretell, Yoshimar Yotun, Edison Flores, Christopher Gonzales; Paolo Guerrero (kapten), Jefferson Farfan, Raul Ruidiaz, Andy Polo, Andre Carrillo
Pelatih: Ricardo Gareca

Venezula: Wuilker Farinez, Joel Graterol, Rafael Romo; Mikel Villanueva, Yordan Osorio, Jhon Chancellor, Luis Mago, Roberto Rosales, Ronaldo Hernandez, Rolf Feltscher; Junior Moreno, Yangel Herrera, Darwin Machis, Tomas Rincon (kapten), Jefferson Savarino, Juanpi, Luis Manuel Seijas, Jhon Murillo, Yeferson Soteldo, Arquimedes Figuera; Fernando Aristegueita, Josef Martinez, Salomon Rondon
Pelatih: Rafael Dudamel

Jadwal pertandingan Grup A (dalam WIB):

Sabtu (15/6) Brazil vs Bolivia
Minggu (16/6) Venezuela vs Peru
Rabu (19/6) Bolivia vs Peru
Rabu (19/6) Brazil vs Venezuela
Minggu (23/6) Peru vs Brazil
Minggu (23/6) Bolivia vs Venezuela

Oleh Gilang Galiartha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar