counter

Pengamat nilai transportasi Jakarta butuhkan masterplan

Pengamat nilai transportasi Jakarta butuhkan masterplan

Petugas melakukan pengecekan kereta Mass Rapid Transit (MRT) di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Jelang peresmian MRT yang akan dilaksanakan pada Maret 2019 tersebut masyarakat dapat mencoba secara gratis moda transportasi itu mulai 27 Februari. (ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja)

Badan penyelenggara dapat mengoperasikan armada bus, kereta, dan lain-lain. Kalau sudah ada masterplan, sebaiknya ada badan satu komando yang menyelenggarakan itu. Seperti otoritas transportasi darat (Land Transport Authority/ LTA) milik Singapura ..
Jakarta (ANTARA) - Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instra) Deddy Herlambang menilai skema moda transportasi di Jakarta membutuhkan rencana induk atau masterplan yang dapat menjadi pedoman dalam proses pembangunan dan pengembangannya.

Deddy mengatakan saat diwawancarai di Jakarta, Senin, rancangan yang tertera dalam masterplan akan mempermudah dan memperjelas arah pengembangan transportasi di Jakarta dari waktu ke waktu.

“Pembangunan secara bertahap akan jelas. Tahun ini, lima tahun lagi, ke depan akan bagaimana, semua jelas. Secara makro, secara holistik semua terbangun secara jelas,” kata Deddy.

Selain rencana induk, dia juga mengatakan penyelenggaraan layanan transportasi di Ibu Kota perlu dilakukan oleh satu badan yang dapat mengatur pengoperasian seluruh armada.

Perkembangan transportasi Ibu Kota, dengan kehadiran Moda Raya Terpadu (MRT), layanan bus Transjakarta dan Kereta Commuter Line, serta Light Rapid Transit (LRT) yang sedang dalam masa uji publik, akan meraih hasil yang lebih optimal apabila penyelenggaraannya diatur oleh satu badan yang kuat sehingga dapat diintegrasikan secara maksimal.

“Badan penyelenggara dapat mengoperasikan armada bus, kereta, dan lain-lain. Kalau sudah ada masterplan, sebaiknya ada badan satu komando yang menyelenggarakan itu. Seperti otoritas transportasi darat (Land Transport Authority/ LTA) milik Singapura contohnya,” jelasnya.

Integrasi antar moda yang tertata secara detil, kata Deddy, dapat membuat masyarakat lebih tergerak untuk menggunakan transportasi publik ketimbang kendaraan pribadi atau moda lain seperti layanan kendaraan daring.

Sebagai contoh, ia mengatakan integrasi MRT dan Transjakarta seharusnya tak hanya sampai di prasarana stasiun dan haltenya saja, tetapi juga jadwal kedatangan dan keberangkatan kedua armada.

“Misalnya, ketika MRT nya sampai di stasiun tujuan, bus Transjakarta juga sudah sampai dan siap menjemput pengguna yang hendak melanjutkan perjalanan,” katanya.

Baca juga: Sejumlah warga keluar rumah untuk menjajal LRT

Baca juga: 5.000 warga Jakarta coba layanan LRT di hari pertama uji publik

Baca juga: PT LRT Jakarta fokus sempurnakan pelayanan


Gubernur DKI: Integrasi moda transportasi kurangi kemacetan

Pewarta: Aria Cindyara
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar