counter

Mentan: Program B-100 bisa hemat devisa Rp100 triliun

Mentan: Program B-100 bisa hemat devisa Rp100 triliun

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) 2019 di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019).  (M Fikri Setiawan).

Bogor (ANTARA) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan, program biodiesel 100 persen (B-100) yang kini tengah dikembangkan oleh Kementerian Pertanian akan menghemat devisa hingga Rp100 triliun, ketika sudah optimal.

"Bisa kita menghemat devisa, mungkin Rp100 triliun lebih kalau ini nanti sudah sempurna," ujarnya usai menggelar kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) 2019 di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Menurutnya, energi yang bakal digunakan untuk mesin diesel ini sudah diujicobakan pada 50 mobil dinas dan alat mesin pertanian (alsintan). Hasil sementara, mesin berjalan stabil dan cenderung lebih hemat penggunaan.

"Mesinnya bagus masih stabil. Bisa menghemat energi 35 persen, ramah lingkungan tidak berasap," sebutnya.

Baca juga: Mentan klaim kemiskinan turun dan ekspor meningkat

Amran mengatakan, jika sebuah kendaraan menggunakan bahan bakar solar bisa menempuh jarak 9 kilometer per liter, menggunakan B-100 bisa menempuh lebih jauh, yakni 13,4 kilometer per liter.

"Ini adalah energi masa depan kita. Sudah jalan B100, tinggal dikomersilkan oleh Kementerian ESDM dan Perindustrian. Nanti kita lihat, yang jelas ini bisa dipakai oleh kendaraan 100 persen," kata Amran.

Di samping itu, Amran juga membeberkan sejumlah capaian Kementerian Pertanian saat menggelar kegiatan Musrenbangtan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh kepala dinas  provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia atas partisipasinya terhadap produksi produktivitas ekspor, inflasi, kemiskinan menurun, kemudian ekspor kita meningkat itu atas kerja keras kita semua," ujarnya.

Baca juga: Mentan: Kementan fokus infrastruktur pertanian pada 2020

Menurutnya, meski anggaran Kementerian Pertanian menyusut dari Rp32 triliun menjadi Rp21 triliun, tapi sektor pertanian bisa meningkatkan hasil produksi buah dari kebijakan yang tepat dan juga tepat sasaran.

Sedangkan kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak produktif dan tidak bisa mendorong pertumbuhan produksi akan dicabut sesuai arahan langsung dari Presiden Joko Widodo.

"Program yang tidak produktif seperti biaya yang tidak penting, perjalanan dinas, seminar yang tidak penting, moratorium beli motor beli mobil itu tidak penting, cat kantor itu kita hilangkan," bebernya.

Sebaliknya, program-program yang sudah baik di era kepemimpinan Jokowi - Jusuf Kalla menurutnya akan terus dilanjutkan, sehingga bisa meningkatkan investasi dan ekspor. Karena dua hal itu yang dianggap Amran bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Rapat kerja DPR-Mentan bahas rancangan anggaran 2020

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden RI Jokowi terima kunjungan resmi PM Belanda

Komentar