counter

Akademisi: Konflik akibat polarisasi politik membuat negara hancur

Akademisi: Konflik akibat polarisasi politik membuat negara hancur

Koordinator Program Studi Magister Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr. Slamet Rosyadi saat menjadi pembicara dalam acara Silaturahmi Kebangsaan Polres Purbalingga di Pendopo Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga, Kamis (20-6-2019). (Foto: Dok. Humas Setda Purbalingga)

Purbalingga (ANTARA) - Polarisasi politik yang mengakibatkan terjadinya konflik dapat membuat negara menjadi hancur, kata Koordinator Program Studi Magister Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr. Slamet Rosyadi.

"Oleh karena itu, kita perlu belajar dari konflik politik negara lain, seperti di Yugoslavia yang kini telah bubar atau Irak dan Suriah yang kini sudah porak-poranda," katanya saat menjadi pembicaa dalam acara Silaturahmi Kebangsaan Polres Purbalingga di Pendopo Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga, Kamis.

Menurut dia, Indonesia perlu belajar dari Italia karena negara itu memiliki karakter berbeda antara Italia Utara dan Italia Selatan.

Dalam hal ini, Italia Utara memiliki kemajuan dan kesejahteraan yang lebih tinggi karena warganya memiliki tradisi kewargaan yang sangat kuat dalam masyarakat dan mempunyai banyak asosiasi kehidupan, sedangkan Italia Selatan mengalami "defisit" modal sosial, relasi-relasi sosial, kultur demokratis dan semangat desentralisasi sulit berkembang, serta banyak menampakkan suatu kecenderungan ketidakpercayaan sosial.

"Kesejahteraan mereka cenderung kalah dengan Italia Utara. Artinya, modal sosial berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan ekonomi. Orang yang bermental sejahtera pasti akan malas berdemostrasi ataupun membuat kerusuhan," katanya.

Baca juga: Minat berinvestasi pengusaha di Italia utara makin tinggi

Slamet mengatakan bahwa kesadaran yang positif juga perlu belajar dari Referendum Quebec, Kanada. Warga setempat yang memiliki bahasa dan budaya Prancis hampir memisahkan diri dari Kanada.

Oleh karena menyadari selama hidup di Kanada merasa baik-baik saja, kata dia, warga Quebec memutuskan untuk tetap bersama Kanada.

Baca juga: Rakyat Skotlandia dan Quebec akan memutuskan nasib mereka sendiri

Sementara itu, Kapolres Purbalingga AKBP Kholilur Rochman mengatakan bahwa banyak peristiwa mengejutkan dan makin menggelora dalam beberapa waktu terakhir seiring dengan pelaksanaan pemilu serentak dan pasca-Pemilu 2019.

Menurut dia, berbagai macam ujaran kebencian, hoaks, dan fitnah yang memecah belah anak bangsa dapat mengakibatkan disintegrasi bangsa.

"Kita tidak boleh diam melihat fenomena saat ini. Tidak boleh mundur ke belakang atau terdegradasi karena para pendiri bangsa ini saja telah bersepakat dengan perbedaan. Justru mereka berkomitmen memerdekakan bangsa," katanya.

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat Purbalingga untuk bersatu dan menghindari perpecahan anak bangsa maupun perselisihan sisa-sisa proses Pemilu Serentak 2019.

Baca juga: Legislator : empat pilar kebangsaan mampu cegah disintegrasi bangsa

Pewarta: Sumarwoto
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Asian Games harus jadi pendingin suasana politik

Komentar