counter

Kata pengamat penerbangan ke Kertajati agak dipaksakan

Kata pengamat penerbangan ke Kertajati agak dipaksakan

Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. (ANTARA/ Juwita Trisna Rahayu)

Menurut pandangan saya kurang efektif dan kesannya agak 'dipaksakan
Jakarta (ANTARA) - President Director Aviatory Indonesia Ziva Narendra Arifin menilai pemindahan 56 penerbangan domestik luar Jawa dari Bandara Husein Sastranegara Bandung ke Bandara Kertajati Majalengka per 1 Juli mendatang terkesan agak dipaksakan.

“Menurut pandangan saya kurang efektif dan kesannya agak dipaksakan, seperti halnya pembangunan bandara Kertajati itu sendiri,” kata Ziva kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Ziva menuturkan perlu dikaji terlebih dahulu terkait keuntungan apa yang ditawarkan Bandara Kertajati dibanding bandara sebelumnya, dalam hal ini Bandara Husein Sastranegara, baik dari segi volume pengguna jasa termasuk penumpang, akses infrastruktur dan juga aktivitas penunjang ekonomi daerah sekitarnya.

“Apakah dengan memindahkan penerbangan ke Kertajati juga akan memindahkan kelompok penumpang yang selama ini menggunakan Husein? Lalu kalau penumpang justru memilih beralih ke Jakarta, Halim dan Cengkareng, apa konsekuensinya,” katanya.

Menurut dia, berdasarkan filosofi bandara memang akan menunjang perekonomian wilayah sekitar, namun perlu dikaji lebih lanjut, termasuk potensi investasi bisnis dan lapangan pekerjaan.

“Tapi dengan dibangun bandara sebesar Kertajati, apakah proporsional dengan potensi ekonomi sekitarnya? Apakah akan mendatangkan investasi bisnis? Membuka lapangan pekerjaan? Apa saja sektor industri yang ada di daerah Majalengka yang akan diuntungkan dengan adanya maskapai berjadwal?,” katanya.

Pemberian insentif kepada maskapai pun, dia menilai, tidak signifikan untuk menciptakan operasi penerbangan yang berkelanjutan.

Pasalnya, saat ini maskapai tengah mengalami permasalahan terkait biaya operasi yang tinggi, sehingga berdampak pada harga jual tiket yang tidak seterjangkau dulu.

“Jadi, bila pemerintah ingin memberikan insentif, sekiranya bukan hanya secara kasus demi kasus atau khusus untuk satu bandara. Berikan insentif secara menyeluruh,” katanya.

Per 1 Juli 2019, 56 penerbangan akan beroperasi di Bandara Kertajati yang sebelumnya beroperasi di Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Ada enam maskapai yang akan mengoperasikan penerbangan di bandara tersebut, di antaranya Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, Air Asia, Lion Air dan Xpress Air.

Pemindahan tersebut disebabkan sepinya bandara terbesar di Jawa Barat itu karena yang bertahan hanya satu rute penerbangan Kertajati-Surabaya yang dioperasikan Citilink.

Baca juga: Enam maskapai pindah ke Kertajati, operasional bandara diperpanjang
Baca juga: Tanggapan DPRD soal pemindahan penerbangan Bandara Husein ke BIJB
Baca juga: Mulai 1 Juli Bandara Kertajati layani penerbangan jet dalam negeri


Angkasa Pura II minta Bandara Kertajati diinspeksi ulang

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar