counter

Isu korupsi masih kurang dipahami anak muda

Isu korupsi masih kurang dipahami anak muda

Penulis Maman Suherman, "podcaster" Laila dan Dara, pegiat anti-korupsi Indonesia Corruption Watch Lalola Easter dan peneliti Amnesty Internasional sekaligus pembuat video Novel versi milenial Aldo Kaligis berbicara dalam acara "KPK Harus Mati", Diskusi 800 Hari Novel di mata Sahabat Muda di auditorium gedung ACLC KPK (gedung KPK lama) Jakarta, Kamis (20/6/2019). ANTARA/Desca Lidya Natalia/pri

Mereka belum dekat dengan isu KPK dan korupsi
Jakarta (ANTARA) - Pengisi "podcast" Kejar Paket Pintar Laila Achmad dan Dara Hanafi mengakui bahwa anak muda masih banyak yang belum memenuhi isu korupsi sehingga perlu lebih "dibumikan".

"Kami sangat berterima kasih mas Novel bersedia mengisi 'podcast' kami karena kami memang berusaha membumikan isu ini dengan bahasa orang awam. Ada banyak istilah yang tidak dimengerti orang awam, banyak yang tidak tahu komisoner KPK siapa," kata Laila Achmad dalam acara "KPK Harus Mati" di auditorium gedung Anti Coruption Learning (ACLC) KPK Jakarta, Kamis (20/6).

Acara "KPK Harus Mati" merupakan diskusi 800 Hari Novel di mata Sahabat Muda yang diadakan oleh Wadah Pegawai KPK dan Indonesia Corruption Watch (ICW). Pembicara dalam acara tersebut adalah Penulis Maman Suherman, "podcaster" Laila dan Dara, pegiat anti-korupsi Indonesia Corruption Watch Lalola Easter dan peneliti Amnesty Internasional sekaligus pembuat video Novel versi milenial Aldo Kaligis.

Laila Achmad dan Dara Hanafi merupakan pengisi konten podcast Kejar Paket Pintar yang banyak bicara soal fenomena sosial, "pop culture", politik, buku, film hingga korupsi.

"Tanggapan kedua tentu saja banyak sekali yang mengirimkan pesan ke saya, ada agenda apa? Mas Novel ini kepentingan politik apa?" tambah Laila.

Laila mengakui bahwa para pendengarnya kebanyakan adalah generasi milenial berusia sekitar 20-an tahun dan masih cenderung pasif terhadap isu korupsi.

"Mereka belum dekat dengan isu KPK dan korupsi. Saat kami ambil mas Novel Baswedan untuk direkam dan ditayangkan tanggapannya juga banyak menyebutkan 'wah hebat', persepsinya sosok mas Novel di atas banget, seperti KPK di atas banget artinya ya ini lembaga yang penuh risiko, ada jarak yang tidak nyambung dengan masyarakat dan 'podcast' kami berusaha membumikannya meski kami sendiri juga tidak terlalu dekat dengan isu korupsi," ungkap Laila.

Dalam "podcast" tersebut, Laila mengatakan bahwa mereka lebih banyak membahas soal apa rahasia Novel Baswedan dapat bersikap berani.

"Bagaimana bisa seberani itu sebagai penyidik dan korban, setelah jadi korban apa rahasianya dan jawaban mas Novel yang diulang-ulang adalah kejujuran dan integritas selama istiqomah akan tidak takut diancam dan diolok-olok," ungkap Laila.

Senada dengan Laila, Dara Hanafi menilai bahwa korupsi belum menjadi isu yang membumi di mata anak muda.

"Kami tidak menanyakan siapa pelaku penyerangan mas Novel, isu penting yang sebetulnya adalah persoalan integritas bahwa apa sih kenapa akar korupsi? Sudah banyak lembaga antikorupsi, undang-undang, tapi kalau individu ini tidak ditangani agar benar-benar berintegritas maka akan sulit dan korupsi bisa terus subur. Keluarga saya bahkan bertanya ketika disebut KPK mereka malah takut, padahal 'kontennya' santai dan kami masuknya dari persoalan yang dekat," kata Dara.

Menurut Dara, baik masyarakat, KPK maupun media massa harus terus menyarakan persoalan korupsi tapi dengan cara yang lebih mudah dipahami.

"KPK adalah 'media darling', karena wartawan pasti selalu ada di KPK tapi berita-berita yang ada hanya berita yang kaku padahal media bisa membuat berita menarik dan terkoneksi dengan masyarakat awam. KPK bisa membumikan isu-isunya jangan langsung anggap masyarakat malas membaca, terus kalau seperti itu bagaimana caranya supaya masyarakat tahu," tambah Laila.

Laila sendiri mengaku baru tahu bahwa untuk menggunakan jasa penghulu tidak perlu membayar, padahal awalnya ia berpikir harus membayar Rp500 ribu atau lebih untuk menghadirkan penghulu.

"Kalau OTT saja yang disampaikan kadang orang tidak tahu apa itu," tambah Laila.

Sedangkan Aldo Kaligis dari Amnesty Internasional mengatakan bahwa pemberitaan soal Novel kebanyakan soal penyerangannya atau bahkan cara berpakaiannya.

"Tapi tidak ada yang misanya bicara masa kecil bang Novel seperti apa, daftar akademi kepolisian bagaimana, jadi kita harus memikirkan bagaimana caranya membumikan sosoknya bang Novel dan di video kami, kami pancing bang Novel bicara 'lo gue'," kata Aldo yang merupakan anak pengacara OC Kaligis, salah satu terpidana kasus korupsi yang ditangani KPK.

Dalam acara itu hadir juga penyidik senior KPK Novel Baswedan, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo Harahap, penasihat KPK M Tsani Annafari dan Budi Santoso serta para pegawai KPK lain dan masyarakat antikorupsi.


Baca juga: Penahanan Rommy diperpanjang
Baca juga: Novel Baswedan sangat terbuka dan kooperatif jalani pemeriksaan
Baca juga: Hendardi: pemeriksaan Novel Baswedan untuk pendalaman

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kasus Novel tidak mudah, Moeldoko minta masyarakat percaya Polri

Komentar