counter

Piala Afrika

Aroma persaingan Liga Inggris dan Champions kental di Grup C

Aroma persaingan Liga Inggris dan Champions kental di Grup C

Penyerang sekaligus kapten tim nasional Senegal Sadio Mane beraksi dalam laga kualifikasi Piala Afrika 2019 Grup A melawan Madagaskar di Stadion Lat Dior, Thies, Senegal, Senin (25/3/2019). (ANTARA/AFP/Seyllou)

Jakarta (ANTARA) - Aroma Liga Inggris dan Liga Champions akan kental mewarnai persaingan penyisihan Grup C Piala Afrika 2019 yang dihuni Aljazair, Kenya, Senegal dan Tanzania.

Aljazair diperkuat bintang Manchester City Riyad Mahrez, bintang Liverpool Sadio Mane mengemban ban kapten Senegal dan Kenya dikapteni gelandang Tottenham Hotspur Victor Wanyama.

Liverpool dan City adalah dua pesaing yang membuat penentuan gelar juara Liga Inggris ditentukan hingga pekan pamungkas, sedangkan Tottenham takluk di final Liga Champions dari Liverpool.

Praktis aroma persaingan City-Liverpool dan Liverpool-Tottenham bakal mewarnai setidaknya dua pertandingan fase penyisihan Grup C yang bakal digelar di ibu kota Mesir, Kairo.

Namun, agaknya persaingan City-Liverpool akan lebih terasa di Grup C, sebab Aljazair dan Senegal merupakan dua tim favorit di grup tersebut. Keduanya lolos ke putaran final sebagai jawara grup fase kualifikasi masing-masing.

Mane tentu punya motivasi lebih yakni mempersembahkan gelar juara Piala Afrika pertama bagi Senegal, yang catatan terbaiknya hanya menjadi runner-up pada edisi 2002 usai dikalahkan Kamerun lewat adu penalti di partai final.

Berangkat ke Mesir dengan medali juara Liga Champions, Mane juga memiliki catatan musim terbaiknya dengan total 26 gol di semua kompetisi bersama Liverpool.

Baca juga: Salah harapkan tuah Champions menulari Mesir

Mane bakal mendapat dukungan yang tak sedikit dari skuat besutan Aliou Cisse yang sarat bintang di hampir semua lini. Di bawah mistar gawang terdapat Edouard Mendy yang membukukan catatan tak kebobolan dalam 14 pertandingan demi mengantarkan Reims yang berstatus tim promosi Liga Prancis finis di urutan kesembilan klasemen akhir 2018/2019.

Di lini belakang, terdapat bek tengah Napoli Kalidou Koulibaly yang saat ini menjadi salah satu buruan Manchester United yang tengah berupaya bangkit dari keterpurukan. Ada juga bek muda Barcelona, Moussa Wague yang bertekad menjadikan Piala Afrika sebagai ajang pembuktiannya agar bisa mendapat menit bermain lebih banyak di Las Blaugranas.

Lini tengah Senegal dihuni Idrissa Gueye dan Cheikhou Kouyate yang musim 2018/2019 hampir selalu menjadi pilihan utama di Everton dan Crystal Palace.

Dan barisan serangan Senegal bukan cuma dihuni Mane, tapi diperkuat juga oleh Keita Balde Diao, Ismaila Sarr dan M'Baye Niang.

Keita Balde turut membantu Inter Milan lolos ke Liga Champions musim depan, sedangkan Niang dan Sarr saling bahu membahu membawa Rennes menjuarai Piala Prancis menjungkalkan raksasa Paris Saint-Germain. Niang yang berada di Rennes sebagai pemain pinjaman akhirnya diberi kontrak permanen setelah membukukan 14 gol, sedangkan Sarr tampil begitu krusial bagi tim tersebut hingga menjadi salah satu kandidat Pemain Muda Terbaik di Prancis.

Dengan komposisi yang cukup lengkap di tiap lini, praktis pasukan Rubah Gurun bukan saja jadi favorit di Grup C tetapi juga sebagai salah satu kandidat juara Piala Afrika 2019.

Hal itu juga ditegaskan langsung oleh sang arsitek, Cisse yang menyatakan timnya tak memiliki rasa takut terhadap siapapun di Mesir, meski demikian ia menegaskan akan fokus untuk meraih kemenangan di setiap laga tanpa mempertimbangkan diri sebagai favorit turnamen.

Baca juga: Profil Grup B, dahaga juara Elang Super

Aljazair sendiri memiliki ambisi untuk menambah satu trofi Piala Afrika di kabinet mereka. Setelah menjadi juara di tanah sendiri pada edisi 1990, capaian terbaik Aljazair hanyalah menjadi peringkat keempat edisi 2010.

Sang pelatih Djamel Belmadi menegaskan bahwa meski timnya bukanlah favorit turnamen, peluang juara masih terbuka untuk 24 tim yang bakal bertarung di Mesir nanti. Target Belmadi jelas, lolos dari fase grup dan perlahan merintis jalan mereka hingga ke final, sebab ia tak mau tuan rumah menajamkan rekor sebagai negara tersukses di kompetisi Piala Afrika.

Di kubu Kenya, sang kapten adalah sosok yang dilanda kesialan ketika tangannya mengenai bola umpan silang Mane di dalam kotak penalti di Stadion Wanda Metropolitano yang berbuah gol penalti untuk Liverpool dan ia menjadi bagian dari tim Tottenham yang hanya bisa menyaksikan lawannya dikalungi medali juara dan mengangkat trofi Liga Champions awal bulan lalu.

Wanyama, tentu tak ingin mengulangi adegan tak mengenakkan itu, terlebih Kenya sudah tujuh edisi melewatkan putaran final Piala Afrika. Hadir sebagai tim yang tak diunggulkan, bukan berarti Kenya tak bisa menciptakan kejuatan. Mereka setidaknya bisa memperbaiki catatan sepanjang masa di Piala Afrika dengan lolos dari fase penyisihan grup untuk pertama kalinya.

Pelatih anyar Kenya, Sebastien Migne, yang bertugas sejak Mei 2018 sejauh ini telah menorehkan catatan positif bersama pasukan Harambe Stars. Ia membawa Kenya mendaki ke urutan 100 besar peringkat FIFA serta lolos ke putaran final Piala Afrika 2019 dengan menjungkalkan Ghana 1-0 dalam perjalanannya di fase kualifikasi Grup F pada September 2018 lalu.

Migne menegaskan kehadiran timnya di Mesir bukan sebagai pelengkap semata tetapi meninggalkan kesan yang mendalam, salah satunya dengan meraih kelolosan pertama dari penyisihan grup.

Ambisi yang sama, lolos dari fase penyisihan grup, juga menjadi target jangka pendek Tanzania yang untuk kedua kalinya kembali tampil di putaran final Piala Afrika setelah 29 tahun. Dua laga pemanasan yang tak berbuah kemenangan tentu tak menjadi pengendur semangat tim besutan Emmanuel Amunike, peraih gelar Pemain Terbaik Afrika 1994 saat ia membela salah satu klub tersukses Mesir, Zamalek.

Tanzania jelas tak akan gentar melakoni laga pertama menghadapi favorit grup sekaligus turnamen, Senegal, di Stadion 30 Juni, Kairo, pada Senin (24/6) WIB, sebelum kemudian Kenya bertemu Aljazair di arena yang sama.

Baca juga: Aturan empat kali istirahat diterapkan karena suhu panas

Berikut daftar skuat tim penghuni Grup C:

Aljazair: Rais M'Bolhi, Azzedine Doukha, Alexandre Oukidja; Aissa Mandi, Rafik Halliche, Ramy Bensebaini, Mehdi Zeffane, Youcef Atal, Mehdi Tahrat, Mohamed Fares, Djamel Benlamri; Sofiane Feghouli, Adlene Guedioura, Ismael Bennacer, Mehdi Abeid, Hicham Boudaoui, Mohamed Benkhemassa; Islam Slimani, Yacine Brahimi, Riyad Mahrez, Baghdad Bounedjah, Youcef Belaili, Adam Ounas
Pelatih: Djamel Belmadi

Kenya: Patrick Matasi, John Oyemba, Farouk Shikalo; David Owino, Musa Mohammed, Aboud Omar, Eric Ouma, Philemon Otieno, Joash Onyango, Bernard Ochieng, Joseph Okumu; Victor Wanyama, Francis Kahata, Paul Were, Dennis Odhiambo, Johanna Omolo, Ayub Timbe, Ovella Ochieng, Ismael Athuman, Whyvonne Isuza; Michael Olunga, Masoud Juma, John Avire
Pelatih: Sebastien Migne

Senegal: Abdoulaye Diallo, Alfred Gomis, Edouard Mendy; Lamine Gassama, Kalidou Koulibaly, Salif Sane, Saliou Ciss, Moussa Wague, Youssouf Sabaly, Papu Abou Cisse; Idrissa Gana Gueye, Cheikhou Kouyate, Alfred N'Diaye, Henri Saivet, Badou Ndiaye, Krepin Diatta, Sada Thioub; Sadio Mane, Moussa Konate, Keita Balde Diao, Ismaila Sarr, M'Baye Niang, Mbaye Diagne
Pelatih: Aliou Cisse

Tanzania: Aishi Manula, Metacha Mnata, Aron Kalambo; Erasto Nyoni, Kelvin Yondani, Aggrey Morris, Gadiel Michael, Hassan Ramadan, Mohammed Hussein, Rashid Mandawa, Vincent Phillipo; Himid Mao, Frank Domayo, Faridi Mussa, Mudathir Yahya, All Mtoni, Yahya Zayd, Feisal Salum; John Bocco, Simon Msuva, Mbwana Samatta, THomas Ulimwengu, Abdillahie Yussuf
Pelatih: Emmanuel Amunike

​​​​​Baca juga: Zimbabwe terinspirasi Ajax Amsterdam

Jadwal pertandingan Grup C (dalam WIB):
Senin (24/6) Senegal vs Tanzania
Senin (24/6) Aljazair vs Kenya
Jumat (28/6) Senegal vs Aljazair
Jumat (28/6) Kenya vs Tanzania
Selasa (2/7) Kenya vs Senegal
Selasa (2/7) Tanzania vs Aljazair

Penerjemah: Gilang Galiartha
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar