Korban kebakaran pabrik mancis di Langkat tak dapat dikenali keluarga

Korban kebakaran pabrik mancis di Langkat tak dapat dikenali keluarga

Faisal, suami dari Maria salah seorang dari 30 korban kebakaran pabrik perakitan mancis di Langkat saat menunjukkan foto Maria. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Medan (ANTARA) - Isak tangis keluarga dan kerabat korban kebakaran sebuah pabrik perakitan mancis, Jalan Tengku Amir Hamzah, Desa Samberejo, Kabupaten Langkat, saat jenazah korban tiba di RS Bhayangkara Medan pada Jumat.

Sejumlah orang yang merupakan keluarga korban tampak mengerumuni mobil jenazah untuk mencari sanak saudaranya.

Namun, kondisi jenazah yang dikabarkan tewas terpanggang karena terjebak di dalam bangunan pabrik perakitan mancis tersebut, membuat para korban tidak dapat dikenali.

Faisal, suami dari Maria salah seorang dari 30 korban kebakaran tersebut mengaku tidak dapat mengenali istrinya.

Baca juga: Kebakaran pabrik mancis di Langkat, korban tewas 30 orang
Ia mengatakan hanya pakai hitam yang terakhir dikenakan istrinya itulah yang membuat Faisal tanda akan jenazah yang telah gosong itu.

"Cuma itulah tanda kalau jenazah itu (Maria) istri saya," katanya kepada ANTARA saat di temui di RS Bhayangkara Medan, Jumat.

Pria yang tinggal di Kelurahan Kebun Lada, Kota Binjai ini mengaku mendapat kabar kebakaran saat dirinya hendak berangkat ke Masjid untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat.
Baca juga: Korban kebakaran pabrik mancis di Langkat sempat update status
Setelah mendapat kabar tersebut, Faisal langsung menuju ke lokasi kebakaran untuk mencari sang istri.

"Langsung lari saya ke lokasi, tapi sampai sana (pabrik perakitan mancis) saya liat udah bertumpuk mayat," ujarnya lirih

Korban kebakaran yang terjadi sekitar pukul 12.00 WIB menjelang shalat Jumat, saat ini berada di Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk dilakukan identifikasi dan autopsi.
Baca juga: Korban kebakaran pabrik mancis diautopsi ke RS Bhayangkara Medan

Pewarta: Nur Aprilliana Br. Sitorus
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar