counter

Komite: Polusi Tol Trans Jawa belum tercatat

Komite: Polusi Tol Trans Jawa belum tercatat

Diskusi Bus dan Kendaraan Listrik (FUSE) bertema "Kesiapan Kendaraan Listrik Mengaspal di Jakarta" di Cikini, Jakarta, Minggu (23/6/2019). ANTARA/Anom Prihantoro/pri

BBM yang kualitasnya rendah, seperti Premium 88, Pertalite 90, Solar 48, Dexlite untuk berangsur diganti ke kualitas yang lebih baik. Empat jenis bahan bakar itu kualitasnya buruk yang menyebabkan pencemaran tinggi
Jakarta (ANTARA) - Polusi dari kendaraan bertenaga fosil di sekitar kawasan Jalan Tol Trans Jawa belum tercatat sehingga dampak kesehatan bagi masyarakat di daerah itu belum terdapat laporan, kata Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Syafrudin.

"Pemerintah harus memantau kualitas udara dan dampak kesehatan pencemaran udara, setelah diketahui agar diambil langkah-langkah khusus," katanya ketika berbincang dengan wartawan usai menjadi pembicara diskusi bertema "Kesiapan Kendaraan Listrik Mengaspal di Jakarta" di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, pencatatan polusi di area Trans Jawa dapat memetakan kawasan-kawasan yang memerlukan intervensi yang perlu, seperti dari aspek kesehatan. Gangguan kesehatan masyarakat sekitar tol juga tidak terpantau dengan baik melalui pencatatan khusus jika sakit atau bahkan meninggal karena pencemaran udara.

Ia mengatakan di kawasan manapun, polusi dapat memicu gangguan kesehatan ringan sampai berat.

"Bisa dijamin mereka bengek, penyempitan saluran pernapasan, pneumonia, jantung koroner, kanker, dan lainnya," kata dia.

Pihaknya telah melakukan pencatatan dampak polusi terhadap gangguan kesehatan masyarakat di Jakarta. Akan tetapi, pencatatan di kawasan Tol Trans Jawa belum dilakukan.

Kendati demikian, dia menyajikan data dampak polusi di Jakarta sebagai pembanding.

"Catatan kami di Jakarta Tahun 2016 masyarakat yang kena ispa 2,7 juta, jantung koroner 1,4 juta atau gagal jantung dengan orang awam menyebutnya masuk angin atau angin duduk. Selain itu, ada gangguan bronkitis dan anak-nak dengan IQ relatif rendah karena pencemaran udara. Kami cuma bisa catat di Jakarta, yang pantura belum kami catat," kata dia.

Atas pertimbangan dampak polusi itu, Ahmad menyarankan pemerintah menerapkan program-program untuk memperbaiki kualitas udara, memperbaiki teknologi kendaraan dengan menggalakkan teknologi listrik.

Teknologi otomotif Indonesia, kata dia, saat ini minimal kategori Euro 2 yang memiliki rasio kompresi 9 banding 1. Kendaraan dengan spesifikasi tersebut banyak digunakan di Indonesia. Idealnya BBM yang cocok untuk kendaraan jenis itu adalah dengan kandungan RON 92, seperti Pertamax.

Jika kendaraan jenis Euro 2 diisi dengan BBM berkadar RON 90 maka kendaraan akan cepat rusak dan lebih boros bahan bakar. Saat BBM lebih boros maka emisi yang mencemari udara tentu lebih tinggi.

Selain itu, katanya, pemerintah agar meningkatkan kualitas bahan bakar.

"BBM yang kualitasnya rendah, seperti Premium 88, Pertalite 90, Solar 48, Dexlite untuk berangsur diganti ke kualitas yang lebih baik. Empat jenis bahan bakar itu kualitasnya buruk yang menyebabkan pencemaran tinggi," kata dia.

Dia mengatakan terdapat solusi lain untuk mengurangi penggunaaan BBM, yakni dengan menggunakan kendaraan bertenaga listrik.

"Kendaraan dengan tenaga listrik lebih irit energi. Kalau kita terapkan ada efisiensi dan tidak menyebabkan polusi seperti kendaraan dengan bahan bakar fosil. Kemudian masyarakat lebih sehat, tidak perlu membayar biaya kesehatan. Masyarakat yang sehat tentu lebih produktif," kata dia.

Baca juga: Menristekdikti luncurkan mobil listrik Universitas Negeri Yogyakarta
Baca juga: Jenis-jenis polutan kendaraan dan bahayanya bagi kesehatan


 

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar