Jatim dan NTT berstatus Awas potensi kekeringan

Jatim dan NTT berstatus Awas potensi kekeringan

Ilustrasi - Seorang wartawan memotret data prediksi El Nino saat berlangsung jumpa pers di Kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

beberapa daerah masih berpeluang mendapatkan curah hujan kategori menengah dan tinggi
Jakarta (ANTARA) - Sejumlah wilayah di Tanah Air, antara lain Sampang dan Malang di Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berstatus Awas terhadap potensi kekeringan.

"Status Awas karena telah mengalami lebih dari 61 Hari Tanpa Hujan (HTH) dan prospek peluang curah hujan rendah di bawah 20 milimeter per dasarian pada 20 hari mendatang lebih dari 80 persen," kata Deputi Klimatologi BMKG Herizal dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Selain itu, daerah yang juga berstatus Awas adalah sebagian besar Yogyakarta, Indramayu (Jawa Barat), dan Buleleng (Bali).

Sejumlah daerah berstatus Siaga atau telah mengalami lebih 31 HTH dan prospek peluang curah hujan rendah di bawah 20 milimeter per dasarian pada 20 hari mendatang lebih dari 80 persen.

Daerah tersebut, yaitu Jakarta Utara, Lebak, dan Tangerang Provinsi Banten, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian besar Jawa Tengah.

Herizal mengatakan berdasarkan monitoring terhadap perkembangan musim kemarau menunjukkan berdasarkan luasan wilayah, 35 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dan 65 persen masih musim hujan.

Wilayah yang telah memasuki musim kemarau, meliputi pesisir utara dan timur Aceh, Sumatera Utara bagian utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.

Namun, katanya, musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali. Beberapa daerah diprediksikan masih berpeluang mendapatkan curah hujan. Pada umumnya prospek akumulasi curah hujan 10 harian ke depan, berada pada kategori rendah atau kurang dari 50 mm dalam 10 hari.

Meski demikian, katanya, beberapa daerah masih berpeluang mendapatkan curah hujan kategori menengah dan tinggi.

Curah hujan kriteria menengah, yaitu 50-150 mm dalam 10 hari diprakirakan dapat terjadi di pesisir Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, Jambi bagian barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Sulawesi bagian tengah, Papua Barat bagian utara, dan Papua bagian utara.

Curah hujan kriteria tinggi atau lebih dari 150 mm dalam 10 hari diprakirakan dapat terjadi di pesisir timur Sulawesi Tengah dan Papua bagian tengah.

Pantauan BMKG dan beberapa lembaga internasional terhadap kejadian anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan kondisi El Nino Lemah, sedangkan annomali SST di wilayah Samudera Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi itu diperkirakan berlangsung setidaknya hingga Oktober, November, dan Desember 2019.

Masyarakat diimbau waspada dan berhati-hati terhadap kekeringan yang bisa berdampak pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, kekurangan air bersih, dan peningkatan potensi kemudahan kebakaran.

Baca juga: BMKG perkirakan sejumlah daerah Jatim berpotensi kekeringan
Baca juga: 3 provinsi diperkirakan mengalami hari tanpa hujan ekstrem
Baca juga: Hari tanpa hujan ekstrem terjadi di sejumlah daerah

 

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jawa Tengah waspadai potensi bencana saat kemarau

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar