Perpustakaan harus tanggap perkembangan teknologi, sebut KITLV

Perpustakaan harus tanggap perkembangan teknologi, sebut KITLV

Keponakan Tan Malaka Zulfikar Kamarudin (kiri) didampingi Ketua Tim Identifikasi Forensik dan ahli Deoxyribronukleic Acid (DNA) Universitas Indonesia Djaja Atmadja (tengah) dan Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV di Leiden Harry A Poeze (kanan) memberi keterangan mengenai laporan identifikasi DNA Tan Malaka di Jakarta, Senin (9/1). Menurut Djadja S Atmadja, pemeriksaan DNA terhadap sampel darah kemenakan Tan Malaka, Zulfikar berhasil menunjukan suatu profil DNA dari lokus Y-Short Tandem Repeats (Y-STR) yang menunjukan garis keturunan paternal dari Zulfikar. (FOTO ANTARA/M Agung Rajasa)

Untuk menyebarluaskan informasi koleksi sejarah Indonesia atau banyak hal tentang Indonesia, maka transformasi dari buku atau dokumen ke bentuk digital harus ditingkatkan
Jakarta (ANTARA) - Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) Jakarta or the Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) menyatakan perpustakaan harus tanggap perkembangan teknologi dan meningkatkan proses digitalisasi untuk diseminasi koleksi perpustakaan.

Direktur KITLV Jakarta and Office of Leiden University in Indonesia, Marrik Bellen mengatakan untuk menyebarluaskan informasi koleksi sejarah Indonesia atau banyak hal tentang Indonesia, maka transformasi dari buku atau dokumen ke bentuk digital harus ditingkatkan.

"Tantangannya adalah 'how to keep up with new technology development' karena itu berkembang begitu pesat, ada yang baru, dan apakah yang baru 10 tahun ke depan itu juga masih bisa diterapkan atau diganti yang lain sama yang baru, itu menjadi tantangan tapi itu pasti terjadi, jadi mau tidak mau kita juga harus mengikuti transformasi digital ini," katanya saat diwawancarai ANTARA di sela-sela seminar "Indonesian Heritage and Library Collection" di Auditorium LIPI, Jakarta, Selasa.

Dengan meta data dari dokumen atau koleksi perpustakaan, kata dia, maka dapat diperoleh bentuk digital yang dapat disebarluaskan dan diakses seluruh masyarakat dunia dengan mudah.

Ia mengatakan bahwa tidak bisa dipungkiri perpustakaan digital juga menjadi sesuatu yang harus dikembangkan karena masyarakat dunia saat ini telah banyak mengakses informasi secara digital.

Kebutuhan semacam ini, katanya, harus difasilitasi oleh perpustakaan, sehingga informasi bisa didapatkan dari mana pun dan kapanpun serta tidak terbatas lokasi.

Apalagi, kata dia, generasi milenial saat ini sudah terbiasa dengan dunia maya, sehingga dengan usaha digitalisasi item atau koleksi tentang Indonesia akan memudahkan untuk mereka yang sudah biasa memakai alat yanhlg hanya perlu wifi atau internet dan juga akan memudahkan mereka untuk membaca, mengunduh atau membuka informasi.

Dengan demikian, menurut dia, informasi tentang sejarah dan perkembangan Indonesia tidak terbatas hanya dalam bentuk buku atau dokumen fisik tapi lebih kepada bentuk digital.

"Jadi ada kekhawatiran bahwa generasi baru tidak mengetahui buku atau naskah tapi artinya kan kami harus lakukan transformasi untuk memperlihatkan sarana yang mereka biasa gunakan, mau tidak mau kami juga harus 'make sure' (memastikan) generasi baru juga tergarik untuk 'heritage' (warisan) dan kebudayaannya sendiri," kata Marrik Bellen.

Saat ini Leiden University Libraries merupakan institusi yang menyimpan koleksi sejarah Indonesia terlengkap di dunia. Sebagai bagian dari Leiden University Libraries, KITLV Jakarta pada 2019 merayakan keberadaannya yang ke-50 tahun di Indonesia.

Baca juga: KITLV ingin perluas kerja sama lintas ilmu dengan LIPI

Baca juga: LIPI catat 382.568 artikel sudah dalam bentuk digital

Baca juga: Keraton Yogyakarta siapkan perpustakaan digital khusus naskah kuno

Baca juga: Perpusnas akan hadirkan pustaka digital kegiatan wakil presiden

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar