counter

OJK optimistis kredit perbankan Sumatera Selatan tumbuh 12,0 persen

OJK optimistis kredit perbankan Sumatera Selatan tumbuh 12,0 persen

Kepala OJK Regional VII Sumatera Bagian Selatan Panca Hadi Suryanto. (Antara News Sumsel/19/Dolly Rosana)

Palembang (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan optimistis pertumbuhan kredit perbankan di Sumatera Selatan tumbuh 12,0 persen (year on year) pada 2019 meski faktor pemicu tahun 2018 yakni Asian Games sudah tidak ada lagi.

Kepala OJK Regional VII Sumatera Bagian Selatan Panca Hadi Suryanto di Palembang, Rabu, mengatakan, kepercayaan diri itu setelah mendengar langsung paparan dari enam bank yang menguasai 84,57 persen dari total asset perbankan di Sumsel.

“Saya undang mereka (pimpinan bank) bicara, dan sebagian besar mereka sangat optimistis kinerja tahun ini meningkat, terutama untuk kredit dan Dana Pihak Ketiga,” kata Panca.

Berdasarkan data OJK realisasi kredit di Sumsel hanya tumbuh 5,45 persen (yoy) pada tahun lalu yakni dari Rp 77,37 trilun pada 2017 menjadi Rp82,82 triliun per Desember 2018.

Sementara per semester I 2019, diketahui performa perbankan di Sumsel tidak terlalu buruk meski terjadi penurunan jika dibandingkan 2018.

Total asset per April 2019 tercatat tetap tumbuh 5,88 persen (yoy) dari Rp90,91 triliun menjadi Rp96,25 triliun, kredit tumbuh 4,21 persen (yoy) dari Rp79,91 triliun menjadi Rp83,27 triliun. Memang diakui Panca, pertumbuhan aset dan kredit ini masih di bawah angka pertumbuhan nasional yakni 9,07 persen dan 9,94 persen.

Sedangkan untuk Dana Pihak Ketiga dari perbankan yang beroperasi di Sumsel juga mengalami pertumbuhan 6,49 persen (yoy) dari Rp77,77 triliun menjadi Rp82,81 triliun. Akan tetapi capaian ini masih di bawah angka pertumbuhan nasional 6,66 persen, seperti halnya aset dan kredit.

Lantas apa yang melandasi bank-bank “besar” ini tetap optimistis untuk penyaluran kreditnya mengingat per April hanya tumbuh 4,21 persen ?. Panca memaparkan bahwa sejatinya terdapat pola tahunan yang cukup unik dalam merealisasi kredit di Sumsel dan daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya.

Biasanya kinerja perbankan itu bergerak seiring dengan meningkatnya serapan dana APBD dan APBN.

"Ini di April, wajar saja. Biasanya perbankan baru mulai menggenjot kinerjanya di triwulan III dan triwulan IV,” kata dia.

Selain itu, OJK mengamati bahwa kalangan perbankan di Sumsel saat ini mulai menemukan cara untuk menyalurkan kreditnya di tengah pelemahan ekonomi akibat jatuhnya harga komoditas yang menjadi sumber ekonomi daerah sejak beberapa tahun lalu.

Perbankan mulai berani merambah sektor-sektor produktif karena berdasarkan realisasi per April 2019 diketahui sebanyak 30,29 persen mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran, kemudian disusul kontruksi 24,64 persen. Kredit konsumsi justru berada pada urutan ketiga yakni kredit kepemilikan rumah 12,62 persen.

Oleh karena itu, OJK seperti halnya Bank Indonesia cukup optimistis pertumbuhan ekonomi di Sumsel tetap terjaga meski tidak ada lagi faktor signifikan seperti Asian Games.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Sumsel 5,68 persen triwulan I/2019

Baca juga: Presiden minta proyek infrastruktur Sumsel dipercepat


Klarifikasi Bank Mandiri terkait kesalahan saldo nasabah

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar