counter

Artikel

Menggapai mimpi internasional lewat kerajinan kulit Serambi Mekkah

Oleh Miko Elfisha

Menggapai mimpi internasional lewat kerajinan kulit Serambi Mekkah

Produk sepatu dari kulit sapi dan kulit kambing Galeri "Minang Kayo", Kota Padang Panjang Sumatera Barat. (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)

sebelum wisatawan pulang kembali, barang yang mereka inginkan sudah bisa didapatkan
Padang Panjang (ANTARA) - Tidak banyak yang tahu pada satu sudut di Serambi Mekah, julukan untuk Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, terdapat sebuah galeri kecil yang memamerkan hasil kerajinan kulit dengan kualitas yang bisa diacungkan dua jempol.

Galeri itu sebenarnya mudah dijangkau, karena terletak hanya sekitar 100 meter dari jalan lintas Sumatera, Padang-Padang Panjang. Namun karena letaknya agak tertutup di balik bangunan rumah, maka tidak terlihat dari pinggir jalan.

Tetapi mencarinya juga tidak terlalu susah, karena persimpangan menuju ke sana, sama dengan persimpangan menuju destinasi paling dikenal di Padang Panjang, Minang Fantasi (Mifan).

Masuk ke simpang itu sekitar 50 meter, belok kiri 50 meter lagi, kemudian akan langsung sampai dan disambut senyum serta ucapan selamat datang dari pegawai galeri.

Seketika itu juga pandangan akan direbut oleh jejeran barang kulit yang terlihat memikat melalui kaca tembus pandang ke dalam geleri.

Ada jaket kulit kualitas terbaik berjejer rapi beraneka warna. Ada tas kulit berbagai model untuk wanita dan pria, ada topi, sepatu, sandal, dan pernik lain yang dibuat dari kulit lembu dan kulit kambing.
 
Produk tas kulit "Minang Kayo" (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)


Kulitnya yang terasa halus serta jahitan yang sangat rapi memberi jaminan kualitas nomor satu. Bahkan untuk produk sepatu, sang pemilik, Masroni berani memberi jaminan satu tahun.

"Saya sudah bandingkan produk ini dengan produk lain hingga ke Pulau Jawa. Saya pastikan tidak akan kalah," tegasnya percaya diri.

Masroni memang tidak asal ucap. Ia sudah malang-melintang di Pulau Jawa untuk menuntut ilmu mengolah kulit sapi dan kambing untuk dijadikan kerajinan yang berkualitas. Banyak yang dipelajarinya sebelum kembali ke Padang Panjang untuk membuka usaha kerajinan kulit tersebut.

Usaha itu tidak tiba-tiba bisa menghasilkan omzet hingga Rp300 juta sebulan seperti sekarang. Masroni memulainya dengan membuka kedai suvenir kecil 2 x6 meter di Air Terjun Lembah Anai yang ia beri merk "Kemal Kincai" dengan modal awal hanya Rp1,5 juta.

Ia mempelajari selera wisatawan yang sering singgah di kedai suvenirnya itu sehingga akhirnya memahami sebagian besar mereka tertarik pada kerajinan kulit.

Kebetulan, Kota Padang Panjang merupakan tempat berkumpulnya penyamak kulit hebat di Sumbar. Kota itu juga menjadi lokasi pengumpul kulit sapi dan kambing sehingga bahan baku tersedia melimpah di sana.

Kota Padang Panjang juga memiliki banyak tempat pelatihan menjahit yang menghasilkan lulusan siap kerja yang merupakan potensi besar untuk diberdayakan.

Sayangnya, dua potensi itu selama ini seakan tersia-sia. Kulit sapi kebanyakan diolah jadi kerupuk. Sebagian diolah setengah jadi dan dijual ke Jawa sebagai bahan dasar kerajinan kulit.

Tenaga kerja penjahit yang siap pakai, juga kesulitan mencari peluang kerja. Akhirnya pergi merantau ke luar Padang Panjang.

Dua potensi itu yang disatukan oleh Masroni. Dengan modal seadanya, ia nekad memulai usaha yang fokus pada kerajinan kulit pada 2016. Sepatu, sandal dan tas menjadi produk awalnya.

Meski tidak banyak produksi, ia tetap berusaha agar produksi bisa dilakukan setiap hari sehingga tenaga kerjanya bisa terus menerus berproses dan makin mahir membuat beragam model dan desain.

Dua tahun berjalan, usaha itu berkembang pesat. Ia bisa memproduksi 15-20 pasang sepatu, lima buah tas, dan 1-5 jaket dalam sehari. Produksi itu bisa ditingkatkan jika benar-benar dibutuhkan.

Namun kuncinya utama keberhasilan Masroni menjadi usahawan dalam waktu singkat adalah menjalin kerja sama dengan pengusaha perjalanan wisata, disamping menyedianya produk berkualitas.
 
Produk tas kulit "Minang Kayo" (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)


Hampir setiap hari ada minimal tiga bus pariwisata yang membawa tamu dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan negeri jiran lainnya yang singgah di galeri itu.

Wisatawan asing itulah yang kemudian menjadi konsumen utama galeri "Minang Kayo" milik Masroni hingga bisa menghasilkan omzet hingga Rp300 juta per bulan.

"Minang Kayo" adalah nama yang kemudian dipilih sebagai pengganti "Kemal Kincai" yang telah lebih dahulu digunakan.

Masroni bercerita perubahan nama itu terjadi saat mengurus semua perizinan yang dibutuhkan di Kota Padang Panjang. Saat mengajukan nama "Kemal Kincai" yang merujuk pada kampung halamannnya yaitu Kerinci, Jambi, petugas perizinan memberikan pertimbangan. Sebaiknya menggunakan nama yang bisa membantu mempromosikan Padang Panjang.

Hal itu juga memberi ruang pada pemerintah daerah untuk membantu dalam bidang promosi, karena secara bersamaan akan mempromosikan daerah sendiri.

"Jadi saya pilih nama Minang Kayo. Minang melambangkan daerah tempat saya berusaha dan Kayo menjadi pengenal asal usul dari Kerinci, Jambi," ujarnya.

Hal yang menjadi pembeda "Minang Kayo" dari usaha serupa lainnya adalah bisa menerima "pesanan kilat". Wisatawan yang datang bisa memesan semua jenis kerajinan kulit yang mereka inginkan dan bisa desain sendiri.

"Kami menyelesaikan pesanan itu dalam satu hingga dua hari. Jadi, sebelum wisatawan pulang kembali, barang yang mereka inginkan sudah bisa didapatkan," kata Masroni. Pelayanan khusus itu bahkan tetap diberikan meski pesanannya hanya satu picis atau sepasang saja.

Harga yang diberikan kepada pelanggan juga disesuaikan dengan kualitas dan bahan yang digunakan. Untuk sepatu misalnya dimulai dari harga Rp200.000 hingga Rp1 juta. Namun untuk bahan dan desain standar harga rata-rata adalah Rp350.000 - Rp600.000. Sandal juga dimulai dari harga yang relatif murah Rp120.000.
 
Kunjungan Dinas Koperasi UKM Sumbar ke Galeri "Minang Kayo" (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)


Jaket kulit dibuat tiga kelas berdasarkan ketebalan dan kelembutan kulit yang digunakan. Untuk jaket kelas III yang relatif agak tebal  dibandrol Rp1,5 juta. Sementara jaket kelas satu yang lebih halus dijual mulai harga Rp2 juta. Tas dan barang lain seperti topi, dompet, ikat pinggang juga dijual berdasarkan kualitas bahan baku yang digunakan serta kerumitan desain.

Saat ini Galeri Minang Kayo mempekerjakan delapan orang karyawan pelayanan dan tujuh orang tenaga kreatif di bengkel kerja. Tenaga kerja kreatif itu bisa ditambah jika pesanan tiba-tiba membludak.

Masroni juga membuka diri untuk kerja sama dengan pihak lain yang ingin menjadi penjual seluruh produknya. Saat ini ia hanya mengisi di galerinya di Padang Panjang dan tempat saudaranya di Bukittinggi. Di daerah lain termasuk Padang belum ada.

"Kalau ada yang berminat, silahkan saja. Kami terbuka untuk semuanya. Sistem kerja samanya juga bisa kita bicarakan agar sama-sama untung," katanya.

Ia berfikir semakin banyak galeri akan semakin banyak pula barang terjual dan semakin banyak pula tenaga kerja di Padang Panjang yang bisa diberdayakan.

Ia meyakini tenaga kerja kreatif yang ada di kota itu berhak pula mendapat kesempatan memiliki pekerjaan yang baik, salah satunya di bengkel kerajinan kulit.

Baca juga: Handayani sukses tekuni kerajinan tas kulit

Baca juga: Industri kerajinan wayang Bantul terkendala regenerasi perajin


 

Sentra kerajinan kulit Desa Masin

Oleh Miko Elfisha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar