counter

Milenial jadi pemberi pinjaman di fintech, ini keuntungan dan kiatnya

Milenial jadi pemberi pinjaman di fintech, ini keuntungan dan kiatnya

Ilustrasi fintech. (Twitter.com)

Investasi adalah jangka panjang, jadi tidak perlu mempertaruhkan jangka pendek dengan melakukan investasi
Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai posisi investor pemberi pinjaman atau dikenal sebagai lender dalam fintech pendanaan berpotensi untuk diisi oleh millenial yang ingin mulai berinvestasi.

Kepala Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede mengatakan Fintech Peer to Peer (P2P) Lending merupakan suatu sistem (platform) yang mempertemukan pemberi pinjaman (lender) dengan peminjam (borrower).

Dalam industri fintech lending, kata dia, bukan hanya melulu soal orang meminjam uang atau borrower, juga ada investornya yang memberikan pinjaman atau lender.

"Para lender ini dapat diisi oleh para milenial yang ingin memulai berinvestasi. Fintech Lending dapat diakses hanya dengan gadget yang terhubung dengan internet, pilihlah penyelenggara fintech lending yang legal atau terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujar Tumbur dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 30 April 2019, karakter pengguna fintech lending, mayoritas lender  dari kalangan milenial (usia 19-34 tahun), yakni sebanyak 69,53 persen. Sisanya lender dari kalangan usia 35-54 tahun (27,26 persen), dan golongan usia lainnya.

Hingga Mei 2019, berdasarkan data OJK, terdapat 113 fintech P2P lending yang terdaftar di OJK. Sedangkan total pinjaman dari Fintech P2P lending per April 2019 tercatat sebesar Rp 37 triliun dari 25,69 juta akun peminjam atau borrower yang bertransaksi dan 456.352 entitas lender.

Lender mayoritas dari entitas dalam negeri yakni sebanyak 453.583 entitas, sisanya dari luar negeri 2.769 entitas. Mayoritas lender adalah perorangan yang terakumulasi, hanya 0,18 persen berupa badan usaha.

Investasi di Fintech Peer to Peer (P2P) Lending semakin menarik, khususnya untuk para milenial yang merupakan investor pemula. Investasinya cukup terjangkau karena bisa dimulai dari Rp100.000. Keuntungan yang diperoleh ketika menjadi lender biasanya melampaui bunga deposito bank per tahunnya.

Perencana Keuangan dari Finansiaconsulting.com, Eko Endarto mengatakan produk investasi di P2P Lending bisa saja menjadi sarana investasi bagi para kaum milenial dengan pendapatan bulanannya di Rp8 juta ke bawah.

Dia mengatakan milenial harus memahami potensi keuangannya sendiri dan potensi keuntungan dari berinvestasi pada produk tersebut. Selain itu, milenial juga perlu memahami risiko-risikonya.

"Asalkan, mereka para milenial sudah mengerti benar jenis produk investasinya dan risiko yang menyertainya, dan harus uang yang tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab bisa jadi likuiditasnya tidak tinggi," ujar Eko.

Selain itu, milenial juga harus memperhatikan legalitas, karena di Indonesia, Fintech yang benar harus terdaftar di OJK. Kemudian, hendaknya milenial memerhatikan risikonya. Memang, investasinya murah, mudah, dan bisa membeli dengan imbal hasil yang tinggi, tetapi juga memiliki risiko yang tinggi. Ketiga, milenial harus memperhatikan kebutuhan untuk investasi.

“Investasi adalah jangka panjang, jadi tidak perlu mempertaruhkan jangka pendek dengan melakukan investasi. Kalau terlalu mempertahankan jangka pendek untuk jangka panjang, itu namanya spekulasi,” kata Eko.

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menangkal Fintech P2P Lending melalui jasa keuangan syariah

Komentar