counter

Jatim Krisis Atlet Angkat Berat untuk PON

Kediri (ANTARA News) - Menjelang menghadapi PON XVII di Kaltim, Jawa Timur mengalami krisis atlet angkat berat, dari dua lifter yang diandalkan seorang diantaranya secara mendadak menyatakan absen. Dian Rosana, lifter putri yang turun di kelas 52 kilogram sebulan lalu menyatakan tidak ikut bertanding karena tengah hamil. "Sampai sekarang hanya Rukiyanah saja, satu-satunya atlet yang dipersiapkan untuk PON bulan Juli mendatang," kata pelatih angkat berat Jatim, Sentot Ahmad Haryono, di Kediri, Minggu. "Setelah mengikuti Kejurnas dan Pra PON di Jakarta bulan Mei 2007 lalu dia, langsung pulang ke Makassar (Sulsel) untuk berkumpul bersama keluarganya. Baru sebulan yang lalu kami mendapat kontak darinya yang menginformasikan dia telah hamil enam bulan," katanya. Ia mengaku, kecewa dengan absennya Dian Rosana tersebut, lantaran sudah mengantongi tiket ke PON Kaltim setelah berhasil meraih medali perak dalam Kejurnas dan Pra PON di Jakarta pada Mei 2007 lalu itu. "Sudah hampir tiga tahun dia saya bina untuk persiapan PON, tapi sekarang tiket yang didapatkan dengan susah payah itu melayang," kata Sentot dengan nada kecewa. Selama ini, Dian Rosana menjadi tumpuan kontingen Jatim di beberapa ajang kejuaraan. Dalam PON XVI Sumatera Selatan tahun 2004 dia mampu mendulang medali perak. Sedang dalam Kejurnas di Sekayu, Banyuasin, Sumsel pada 2006 juga mencatat prestasi serupa. Pada PON XVII Kaltim mendatang, Pengda Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (Pabbsi) Jatim menargetkan satu emas dari Dian Rosana. Namun dengan absennya atlet asal Makassar itu, tim angkat berat Jatim praktis hanya bertumpu pada lifter putri andalannya, Dewi Rukiyanah yang ditargetkan mampu menyumbang medali emas di kelas 75 kilogram. Dalam PON XVI Sumsel empat tahun lalu, atlet asal Kota Pasuruan itu hanya berhasil menyumbangkan satu medali perak. Namun di ajang Kejurnas 2006 berhasil menyabet tiga emas dari angkatan squat, bench press, dan total angkatan. Lalu di Kejurnas dan Pra PON 2007 di Jakarta, atlet yang pertamaka kali bakatnya ditemukan seorang pengusaha di Kota Pasuruan diantara para buruh angkut garam itu, berhasil menggondol dua emas dari angkatan squat dan total angkatan. "Kami optimistis, Rukiyanah akan mampu memenuhi target satu medali emas yang dicanangkan Pabbsi dan KONI Jatim itu," kata Sentot menambahkan. Namun demikian, dia tidak akan menganggap enteng satu-satunya lawan Rukiyanah di PON Kaltim nanti, yakni Minarti dari Jambi. Dia merupakan lifter putri yang turun di kelas 75 kilogram setelah sebelumnya tidak memiliki lawan di kelas 82 kilogram. Sementara di bagian putra, Jatim hanya memiliki satu atlet, Denny Tios yang bakal turun di kelas 56 kilogram. Di bagian putra ini Jatim sudah tidak punya atlet handal lagi, setelah Sujatmiko yang biasanya turun di kelas 75 kilogram mundur setelah Kejurnas dan Pra PON 2007 di Jakarta. Apalagi sampai sekarang Denny Tios masih berada di Makassar, dan belum memberikan kepastian akan mengikuti Puslatda PON di Surabaya hingga awal Juli mendatang. Sejak sepekan terakhir, tempat puslatda angkat berat Jatim dipindahkan dari Perumahan Bumi Asri Blok N-7 Kediri ke Asrama KONI Jatim di Surabaya.(*)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2008

Turnamen tenis jaring atlet PON 2020

Komentar