Penari remaja Surabaya siap bertanding di Portugal

Penari remaja Surabaya siap bertanding di Portugal

Seniman membawakan tari Jaipong Trinil dalam Festival Buk Gludug di Kampung Tridi, Polehan, Malang, Jawa Timur, Minggu (23/6/2019). Dok ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/ama.

Selain berkompetisi, nantinya para penari akan menggarap film tari
Surabaya (ANTARA) - Penari remaja asal Surabaya yang tergabung dalam sanggar Studio Tydif siap bertanding untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia dalam ajang tari terbesar internasional untuk usia anak dan remaja bernama Dance World Cup (DWC) di Braga Portugal pada awal Juli 2019.

Koreografer penari sanggar Studio Tydif, Diaztiarni, di Surabaya, Kamis mengatakan, pihaknya sudah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari untuk mengikuti kompetisi ini.

"Segala persiapan sudah kami lakukan sejak sebelum bulan puasa sampai dengan hari ini. Pada 29 Juni besok kami akan bertolak ke Portugal selama dua pekan," katanya di sela kesiapan akhir.

Ia mengemukakan, Dance World Cup diikuti lebih dari 20 ribu kompetitor usia 4 - 25 tahun dari 62 negara, dan pihaknya berhasil diundang masuk final bertanding dalam kegiatan itu.

"Pada tahun 2018, kami menghadirkan tari folklore yang lebih rancak dan berbudaya dari tari kreasi tradisional, kami beri nama Tari Pojok Pasar Kembang," katanya.

Untuk tahun ini, lanjut dia, Final Dance World Cup 2019 yang digelar di Braga Portugal berhasil meloloskan 4 tari kreasi daerah Jawa Timur, masing-masing Tari Drung Baya, Tari Arek Kampung Bulak, Tari Jebing Melate dan juga Tari Greget Pasar Turi.

"Selain berkompetisi, nantinya para penari akan menggarap film tari dengan arahan sutradara muda Fauzan Abdillah sebagai bentuk diplomasi budaya untuk melestarikan budaya Indonesia dan mempromosikan seni budaya Jawa Timur," katanya.

Pada kegiatan ini pihaknya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam pertandingan nanti, mengingat berbagai kesiapan sudah dilakukan.

"Kami berusaha latihan teknik menari daerah yang baik untuk bisa menunjukkan pada dunia bagaimana karakteristik gerak ragam tarian daerah Indonesia dalam hal ini Jawa Timur," katanya.

Sementara itu, Esther Pertiwi, ‚Äč‚Äčorang tua penari mengaku sangat mendukung kegiatan anaknya tersebut, karena bisa membawa nama Indonesia, khususnya Surabaya ke kancah tari Internasional.

"Ini merupakan capaian prestasi yang cukup bergengsi dalam dunia tari dan sudah sepantasnya mendapatkan dukungan dari berbagai pihak," katanya.


Baca juga: Warga Inggris Raya terpukau melihat Tari Mandau khas Dayak Kalteng
Baca juga: Tari Alusi Au Pukau Warga Denmark

 

Pewarta: Indra Setiawan
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar