Menkes gagas panti lansia seperti Jepang di Indonesia

Menkes gagas panti lansia seperti Jepang di Indonesia

Menkes Nila Moeloek mengunjungi perawat asal Indonesia yang bekerja di panti lansia di Tokyo Jepang. (dok Kemenkes)

Panti tersebut nantinya dapat memfasilitasi para lansia di Jepang yang akan berlibur ke Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Nila Moeloek menggagas panti lanjut usia yang memiliki kualitas seperti di Jepang untuk dibangun di wilayah Indonesia yang berprospek skala internasional.

Nila saat mengunjungi pengasuh asal Indonesia di panti lansia di Tokyo Jepang, dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Kamis, mengatakan, rencana pembuatan panti lansia berskala internasional bisa berkonsep asuransi kesehatan khusus bagi para lansia.

"Panti tersebut nantinya dapat memfasilitasi para lansia di Jepang yang akan berlibur ke Indonesia. Misalnya pada saat di Jepang musim dingin para lansia Jepang bisa dibawa ke Indonesia berjemur di Bali dan ditempatkan di panti, bukan di hotel, agar selama liburan kesehatannya tetap terjaga," kata Nila.

Di samping itu dipersiapkan juga tenaga dokter, dokter gigi, fisioterapi, dan psikologi klinik, sehingga orang-orang Jepang yang ada di Indonesia juga dapat memanfaatkan panti tersebut.

“Tentunya panti tersebut dilengkapi dengan SDM yang mumpuni di bidangnya, misalnya para caregiver dan para perawat yang sudah bekerja di Jepang dan habis masa kontraknya, dapat bekerja di panti tersebut,” kata Menkes Nila.

Panti itu juga dapat digunakan sebagai wahana praktik calon pengasuh maupun perawat yang akan bekerja di luar negeri, karena permintaan setiap tahunnya meningkat.

Sayangnya, kata Nila, Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut secara maksimal.

Berkenaan dengan hal itu saat ini ada 12 Poltekkes Kemenkes yang sedang disiapkan untuk memenuhi permintaan tenaga tersebut baik melalui pendidikan maupun pelatihan.

Menteri Kesehatan didampingi Kepala Badan PPSDM Kesehatan dan Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan berkesempatan mengunjungi Panti Izumien Eldery Care dan Sakuraen Elderly Care di Tokyo jelang pertemuan negara-negara G20.

Menkes menemui 19 perawat lulusan Indonesia yang bekerja di Jepang sebagai pengasuh. Penempatan para perawat ini merupakan kerja sama Indonesia dan Jepang yang telah dilaksanakan sejak tahun 2008.

Hingga kini, telah ditempatkan 2.445 perawat dengan skema Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).

Para perawat yang ditemui Menteri Kesehatan di kedua panti tersebut sebagian besar lulusan institusi pendidikan keperawatan yang ada di daerah, seperti dari Nias, NTT, NTB, Denpasar, Semarang, Indramayu, Cirebon, Banyuwangi dan Sukabumi.

Agar para perawat asal Indonesia bisa meningkatkan status profesi pekerjaannya dari pengasuh menjadi perawat diperlukan ujian dan beberapa syarat termasuk bisa berbahasa Jepang dan minimal bekerja di Jepang selama dua tahun.

Menteri kesehatan dan rombongan juga berkesempatan melihat sarana dan prasarana yang digunakan untuk melakukan ADL (Activity of Daily Living) pada lansia, seperti alat-alat memandikan yang ramah lansia maupun tempat lansia bersantai menghabiskan waktu bersama teman sebaya maupun keluarga.


Baca juga: Perawat Indonesia yang dikirim ke Jepang meningkat 5 tahun terakhir
Baca juga: 1.111 lansia terlantar DKI tercatat dirawat di Tresna Werdha

 

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengulik makna Natal dari lansia di Panti Jompo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar