Jakarta (ANTARA News) - Peristiwa penembakan Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta adalah peristiwa dalam negeri negara tetangga itu, sehingga jangan lagi dipolitisasi dan dikaitkan dengan Indonesia, apalagi Tentara Nasional Indonesia (TNI). "Pihak-pihak di Timor Leste maupun di Indonesia sendiri hendaknya jangan lagi mengaitkan kejadian itu penyebabnya adalah Indonesia dan TNI, karena sangat tidak etis," kata Mayjen TNI (Pur) Glenny Kairupan, mantan anggota Tim Penasihat Keamanan Satuan Tugas Pelaksanaan Penentuan Pendapat di Timor Timur (Satgas P3TT) di Jakarta, Senin. Ramos Horta ditembak dalam sebuah serangan di rumahnya oleh kelompok gerilyawan pimpinan Mayor Alfredo Reinado, Senin dini hari. Mengutip berbagai sumber pemerintah di Dili, ABC dan Harian "Sydney Morning Herald" dalam edisi online-nya, Senin siang, luka tembak yang diderita Horta itu tergolong "serius", dan ia harus menjalani operasi di markas militer Australia di Dili. Dalam serangan Senin dinihari itu, pemimpin gerilyawan, Alfredo Reinado, dilaporkan tewas dan seorang prajurit negara kecil yang meminta dukungan perlindungan militer Australia itu menderita luka serius. Menurut Glenny Kairupan, Indonesia sejak era Presiden BJ Habibie, Abdurrahman "Gus Dur" Wahid, Megawati Soekarnoputri hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sudah menegaskan komitmen mengakui dan menghormati pemisahan diri bekas propinsi ke-27 Indonesia itu setelah jajak pendapat 1999 silam. Bahkan, selama ini, kedua pemimpin Timor Leste, baik Jose Ramos Horta maupun Perdana Menteri saat ini, Xanana Gusmao, sudah bolak-balik ke Jakarta untuk bertemu pemimpin eksekutif dan legislatif di Indonesia, sehingga kondisi itu menunjukkan hubungan baik kedua negara. "Dalam suasana hubungan kedua negara yang semakin baik dan harmonis itu, tentu tidak etis bila terus menerus mengaitkan konflik di Timor Leste dengan Indonesia, apalagi kemudian ada tuduhan TNI di belakang peristiwa itu," kata pengajar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) itu. Karena itu, guna menjaga hubungan baik yang sudah terjalin selama ini, peristiwa dalam negeri di Timor Leste, semestinya dipahami dalam kaitan internal negeri tetangga itu, sehingga tidak muncul politisasi, yang justru bisa menimbulkan hal yang kontra-produktif. Glenny Kairupan, yang pernah satu kamar dengan SBY saat aktif di divisi korps taruna Akabri angkatan 1973-- semacam Senat Mahasiswa -- melihat bahwa dalam perspektif sejarah, konflik antarkelompok di Timor Leste -- sejak wilayah itu menjadi koloni Portugal, menjadi propinsi ke-27 Indonesia, setelah menjadi negara merdeka dan hingga kini -- adalah sebuah fakta, sehingga dari rujukan itulah ia sampai pada titik kesimpulan bahwa konflik internal juga bagian dari sejarah wilayah itu. "Itu adalah fakta, sehingga jika hingga hari ini masih terjadi konflik, perlu dipahami dalam konteks di sana ada masalah internal yang belum bisa diselesaikan, sehingga tidak bisa kemudian mencari 'kambing hitam' ke faktor eksternal terus-menerus," kata alumni Akademi Penerbangan Curug, Tangerang, tahun 1975 itu. (*)

Copyright © ANTARA 2008