Angka harapan hidup di Purbalingga masih rendah

Angka harapan hidup di Purbalingga masih rendah

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga Hanung Wikantono saat memberi sambutan dalam acara Halabihalal Ikatan Bidan Indonesia Cabang Purbalingga di Pendopo Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga, Jumat (28/6/2019). (Foto: Dok. Humas Setda Purbalingga)

Purbalingga (ANTARA) - Angka Harapan Hidup di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, masih rendah karena hanya 72,91 tahun atau di bawah Jateng yang mencapai 73 tahun dan Yogyakarta yang 76 tahun, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga Hanung Wikantono.

"Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita memiliki pengaruh besar dalam menentukan Angka Harapan Hidup suatu kabupaten," katanya saat Halalbihalal Ikatan Bidan Indonesia Cabang Purbalingga di Pendopo Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga, Jumat.

Menurut dia, ukuran untuk melaksanakan pembangunan di seluruh dunia adalah menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang salah satunya pengukuran di bidang kesehatan terutama Angka Harapan Hidup.

Ia mengatakan, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), faktor terbesar untuk menentukan Angka Harapan Hidup adalah AKI/AKB dan Angka Kematian Balita. "Sektor tersebut banyak dipengaruhi oleh peran para bidan, dokter spesialis anak, maupun obstetri dan ginekologi," katanya.

Lebih lanjut, Hanung mengatakan Angka Harapan Hidup dipengaruhi oleh penyakit-penyakit yang sering ditemui saat ini, baik penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit yang baru muncul, serta penyakit yang pernah ada dan sempat menghilang namun sekarang muncul kembali. "Ini menjadikan beban kita bertambah berat," katanya.

Oleh karena itu, dia mengajak pada bidan di Purbalingga untuk bahu-membahu mengatasi permasalahan kesehatan, baik yang bersifat kemasyarakatan, pemberdayaan, perubahan perilaku, dan peningkatan kesehatan lingkungan.

Selain itu, kata dia, elemen tenaga kesehatan juga diharapkan ikut serta dalam mengentaskan masalah kesehatan yang ada di Purbalingga, salah satunya terkait dengan masalah stunting karena termasuk satu dari 11 kabupaten/kota di Jateng dan satu dari 100 kabupaten/kota di Indonesia yang menjadi bagian dalam permasalahan kekerdilan.

"Dengan demikian, ibu-ibu nanti juga tidak hanya berkecimpung dalam obstetri dan ginekologi, juga masalah stunting yang diharapkan dapat mencapai ODF (Open Defecation Free) di mana kita masih bermasalah dalam hal perilaku dan kepedulian lingkungan. Masih ada 116 desa yang ODF dari 224 desa di Purbalingga," katanya.*


Baca juga: Harapan hidup meningkat tapi orang sakit lebih lama

Baca juga: Kegemukan pangkas harapan hidup sampai 8 tahun

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar