Artikel

Menantikan Sulawesi Tenggara bebas banjir

Oleh Hernawan Wahyudono

Menantikan Sulawesi Tenggara bebas banjir

Masyarakat menyeberangkan mobil dengan rakit untuk menerobos banjir di Linomoyo, Kabupaten Konawe Utara, Sultra beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Humas BPJN XIV Palu/aa

Bendungan multifungsi. Selain mencegah banjir juga menjadi sumber pengairan sawah, sumber energi listrik dan lokasi wisata
Kendari (ANTARA) - Musibah, baik banjir, tanah longsor, angin kencang atau bencana alam lainnya kapannpun dan di manapun bisa terjadi kalau itu memang sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Esa, tetapi manusia hanya bisa berusaha dan berdoa supaya musibah itu tidak menimpanya.

Termasuk di Provinsi Sulawesi Tenggara yang menjelang Hari Raya Idul Fitri 1440 H hingga pasca-Lebaran 2019 ini justru disibukkan dengan bencana khususnya yang melanda sebagian besar wilayah provinsi yang beribu kota Kendari tersebut.

Pada musim hujan sekarang ini empat kabupaten yang terpaksa harus merayakan hari kemenangan dengan kondisi rumahnya kebanjiran, yaitu Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Kolaka Timur. Bahkan, sebagian masyarakat Kota Kendari juga harus bergulat dengan genangan air.

Kalau banjir biasa mungkin tidak terlalu dikhawatirkan masyarakat tetapi musibah banjir yang terjadi pada akhir Mei 2019 ini ternyata sangat luar biasa karena waktunya berkepanjangan bahkan hampir tiga pekan masyarakat di empat daerah tersebut harus berkutat dengan air.

Di Kabupaten Konawe Utara yang merupakan penghubung antara Provinsi Sulawesi Tenggara dengan Sulawesi Tengah, bencana banjir akibat intensitas hujan tinggi mengakibatkan tiga sungai meluap yaitu Sungai Lalindu, Walasolo, dan Wadambali mengakibatkan tujuh kecamatan terdampak banjir yaitu Andowia, Asera, Landawe, Langgikima, Oheo, Wiwirano, dan Motul.

Banjir dengan ketinggian sampai 4 meter tersebut mengakibatkan 370 rumah penduduk hanyut, 1.623 rumah terendam, 5 bangunan masjid terendam, 4 unit jembatan hanyut tak bisa diakses. Kemudian empat unit puskesmas terendam air demikian juga dengan tiga unit puskesmas pembantu, gudang obat, 3 pasar tradisional, 2 unit SMP, 10 unit SD, dan 17 unit TK.

Di samping itu, lahan pertanian juga terendam air seluas 970,3 hektare (sawah), 83,5 hektare (lahan jagung), 11 hektare (lainnya), serta 429 hektare (tambak). Bahkan, jembatan Asera yang menghubungkan Sulawesi Tenggara dengan Sulawesi Tengah di Kabupaten Konawe sempat terputus.

Di Kabupaten Konawe, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tiga sungai tak mampu menampung debit air yang tinggi yaitu Sungai Konaweha, Sungai Lahambuli, dan Sungai Rawa Aopa. Banjir yang melanda daerah ini mengakibatkan 193 unit rumah hanyut, 5.762 unit rumah terendam, kemudian 34 bangunan masjid juga terendam.

Kemudian jembatan yang terendam air sepanjang 228 meter, puskesmas empat unit, pasar 1 unit, jalan sepanjang 254,1 kilometer, kantor pemerintahan 104 unit, kemudian TK (32 unit), SD (49 unit), SMP (14 unit). Sedangkan lahan pertanian yang terendam air 8.643 hektare (sawah), 344 hektare (jagung), 435 hektare (lainnya), tambak (808 hektare), hortikultura 43 hektare), serta hewan ternak (73.214 ekor).

Bencana banjir yang melanda beberapa daerah di Sulawesi Tenggara tersebut mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Beberapa pejabat datang meninjau langsung musibah banjir yang terjadi di wilayah ini yaitu Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Komisi XIII DPR RI, dan Basarnas Pusat, BNPB Pusat, dan lain sebagainya.


Baca juga: BPBD : 10 kecamatan di Konawe terendam banjir
Baca juga: Banjir Konawe Utara lumpuhkan akses trans Sulawesi

Bangun bendungan

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, ketika meninjau banjir di Sulawesi Tenggara, mengatakan pembangunan bendungan skala besar merupakan strategi pencegahan bencana alam banjir jangka panjang.

"Sejumlah daerah di Indonesia endemik bencana banjir saat curah hujan tinggi. Beberapa faktor menjadi penyebab, tetapi yang lebih penting adalah mencari cara mencegah musibah banjir," kata Menteri Basuki.

Di Sultra terdapat bendungan skala besar di Ameroro, Kabupaten Konawe yang dibangun awal tahun 80-an, saat ini sedang berjalan pembangunan Bendungan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur dan tahun 2020 direncanakan pembangunan Bendungan Felosika di Konawe.

Gubernur Sultra Ali Mazi mengatakan pembangunan bendungan skala besar dipastikan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan DPRD setempat.

"Bendungan multifungsi. Selain mencegah bencana banjir juga menjadi sumber pengairan sawah, sumber energi listrik, arena olahraga air dan lokasi wisata," ujar Gubernur Ali.

Potensi areal persawahan di kabupaten/kota se-Sultra menjanjikan sehingga pembangunan bendungan skala besar maupun embung dibutuhkan petani untuk meningkatkan produktivitas hasil panen.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI memprogramkan pembangunan tanggul sebagai antisipasi jangka pendek untuk mencegah bencana banjir di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

"Kami (PUPR) bersama komisi V DPR RI didampingi Gubernur Sultra Ali Mazi yang telah meninjau sejumlah titik lokasi banjir di Konawe berkesimpulan sementara bahwa air bah yang menggenangi pemukiman dan lahan pertanian berasal dari luapan sungai sekitar," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Pembangunan tanggul yang bersifat prioritas sebagai upaya mencegah bencana banjir akan dilaksanakan pada sejumlah titik Sungai Pohara, Sungai Konaweeha dan Sungai Lahumbuty.

Membangun tanggul pencegah banjir yang sekitarnya sudah berdiri bangunan rumah warga membutuhkan kerja sama antara PUPR dan pemerintah daerah dalam urusan relokasi warga setempat.

"Beberapa unit rumah bukan lagi berdiri di bantaran Sungai Pohara tetapi sudah masuk badan sungai. Jika tanggul dibangun dipastikan menyasar rumah warga yang belum tentu pemiliknya legawa menerima. Hal ini penting dikoordinasikan demi kepentingan dan keselamatan," kata Menteri Basuki.


Baca juga: Dampak banjir, empat desa di Konawe masih terisolasi
Baca juga: 18.408 jiwa warga Konawe bertahan di tempat pengungsian akibat banjir


Harapan Warga 

Warga dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mengharapkan kepemimpinan periode kedua Presiden Joko Widodo dapat menuntaskan sejumlah proyek strategis nasional untuk mewujudkan percepatan pembangunan ekonomi nasional.

Gubernur Sultra Ali Mazi, mengatakan rakyat Indonesia mengamanahkan pasangan Joko Widodo-Ma'aruf Amin karena diyakini mampu membawa bangsa ini lebih maju di tengah kompetisi global.

"Sultra adalah salah satu provinsi kaya sumber daya alam. Sultra memiliki potensi pertanian yang menjanjikan kesejahteraan bagi rakyatnya kalau didukung sarana memadai," kata Ali Mazi.

Oleh karena itu, kata dia, periode pertama kepemimpinan Joko Widodo - H.M. Yusuf Kalla memprogramkan pembangunan bendungan skala besar di Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur dan rencana pembangunan bendungan Felosika di Kabupaten Konawe.

"Kunjungan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) beberapa waktu lalu sudah menjanjikan penyelesaian pembangunan bendungan Ladongi yang sudah mencapai 63 persen. Sedangkan bendungan Felosika yang memiliki potensi deposit air 80 juta liter mulai dibangun tahun 2020," katanya.

Dengan bakal berdirinya sejumlah bendungan, warga berharap Sulawesi Tenggara bukan saja lebih makmur karena pertaniannya bisa berkembang, tetapi juga terbebas dari banjir dahsyat seperti yang dialami sebelumnya.


Baca juga: Banjir di Konawe Utara sebabkan kerugian Rp674,8 miliar lebih
Baca juga: BNPB: status tanggap darurat bencana banjir Konawe Utara diperpanjang


 

Oleh Hernawan Wahyudono
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

KPK minta kaji ulang izin pertambangan di Sultra

Komentar