counter

Menhan tunggu penyelidikan helikopter MI-17 hilang kontak

Menhan tunggu penyelidikan helikopter MI-17 hilang kontak

Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu (kedua dari kiri) saat menyampaikan kata sambutan dalam agenda silaturahmi ke Kantor Sekretariat Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila, di Jalan Pejaten Barat, Nomor 30, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2019). (ANTARA/Andi Firdaus)

"Ya, lagi selidiki dulu. Kita nggak bisa bicara, nanti ternyata kalau sudah diselidiki lain. Kalau pasti, baru dikasih tahu," katanya lagi.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu masih menunggu proses penyelidikan terkait peristiwa helikopter MI-17 milik TNI Angkatan Darat hilang kontak di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, sejak Jumat (29/6).

"Belum ada informasi, karena hutan di sana lebat," kata Ryamizard, saat bersilaturahmi ke Kantor Sekretariat Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila, di Jalan Pejaten Barat Nomor 30, Jakarta Selatan, Senin.

Hingga Senin siang, kata dia, pihaknya belum mendeteksi keberadaan fisik dari helikopter MI-17 dengan nomor registrasi HA-5148 akibat kondisi cuaca.

Proses pencarian helikopter tersebut, kata Ryamizard, terhalang oleh kabut serta objek lainnya yang membatasi jarak pandang petugas pencarian.
Baca juga: TNI lanjutkan pencarian heli hilang dengan helly bell dan CN235 esok

Saat ditanya terkait proses investigasi atas peristiwa itu, Ryamizard menjawab masih dalam tahap penyelidikan petugas terkait.

"Ya, lagi selidiki dulu. Kita nggak bisa bicara, nanti ternyata kalau sudah diselidiki lain. Kalau pasti, baru dikasih tahu," katanya lagi.

Helikopter MI-17 milik TNI AD dikabarkan hilang kontak sejak Jumat (28/6) sekitar pukul 11.49 WIT.

Helikopter MI-17 dengan nomor registrasi HA-5138 itu, membawa 12 penumpang beserta kru yang sebelumnya terbang ke Okbibab untuk melakukan pengiriman logistik kepada prajurit yang bertugas di wilayah tersebut.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menhan diangkat sebagai anak adat Sentani “Babrongko Umandrow”

Komentar