counter

AS diminta terbuka dan kooperatif terhadap China

AS diminta terbuka dan kooperatif terhadap China

Peneliti senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Mari Elka Pangestu (kiri), Anggota Komite Hubungan Luar Negeri Konsultasi Politik China Yang Yanyi (tengah) dan Direktur Institut Studi Internasional, Universitas Nanjing, Prof. Zhu Feng dalam diskusi "Hubungan China dan Amerika Serikat" di Jakarta, Rabu. (ANTARA / Azis Kurmala)

Jakarta (ANTARA) - Amerika Serikat harus terbuka dan kooperatif dalam menjalin hubungan dagang dengan China sebagai upaya untuk meredakan ketegangan hubungan perdagangan di antara kedua negara.

"Saya percaya China sangat terbuka dan kooperatif dalam menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat," ujar Anggota Komite Hubungan Luar Negeri Konsultasi Politik China Yang Yanyi dalam diskusi "Hubungan China dan AS di Jakarta, Rabu.

Selain sikap terbuka dan kooperatif, kepercayaan di antara kedua negara sangat dibutuhkan dalam menjalin kerja sama perdagangan.

Ia mengatakan China berkomitmen untuk membuka dan memperluas akses ke pasar-pasar China.

"Hubungan dagang antara China dan AS harus berdasarkan pada 'win-win solution' dan saling menguntungkan," ujar Yang.Yanyi.

Karena itu, ia mengharapkan agar ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat cepat mereda.

Disamping itu, ia mengatakan kedua belah pihak harus berusaha meredam urusan politik dalam negeri yang terkadang ikut meningkatkan tensi hubungan dagang antara kedua negara.

"Kami sendiri berusaha meredam hal itu, begitupun Amerika Serikat di bawah kepemimpinan  Presiden Donald Trump juga ikut meredam urusan politik yang memengaruhi perang dagang," kata dia.

Ia mengatakan perang dagang antara China dan AS tidak perlu terjadi apabila hubungan dagang kedua negara didasarkan atas dasar saling terbuka, kooperatif dan percaya.

Baca juga: Berharap AS-China tekan risiko perang dagang di perekonomian global
Baca juga: Tanda tanya kelanjutan perang dagang usai pertemuan Trump-Jinping


Ia mengungkapkan China dan AS adalah dua kekuatan besar di bidang ekonomi yang seharusnya saling bekerja sama dalam menjaga stabilitas perekonomian dunia.

Presiden Trump pada Selasa (11/6/2019) membela penggunaan tarif sebagai bagian dari strategi perdagangannya, sementara China bersumpah akan memberikan tanggapan keras jika AS bersikeras akan meningkatkan ketegangan perdagangan di tengah negosiasi yang sedang berlangsung.

Amerika Serikat memulai pertempuran tarif dengan China pada 2018, meminta perubahan struktural yang luas dari Beijing. Tetapi ketegangan antara Washington dan Beijing meningkat tajam pada Mei setelah pemerintah Trump menuduh China mengingkari janji untuk membuat perubahan ekonomi struktural selama berbulan-bulan pembicaraan perdagangan.

"Tarif adalah alat negosiasi yang hebat," cuit Trump, satu hari setelah mengatakan dia siap memaksakan putaran lain dari tarif hukuman terhadap China.

Baca juga: Menkeu berharap kinerja perekonomian dunia meningkat setelah KTT G-20
 

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Mohamad Anthoni
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Batam berpotensi jadi pilihan investor merelokasi pabrik

Komentar