KPK kembali panggil Jafar Hafsah dan Arif Wibowo saksi KTP elektronik

KPK kembali panggil Jafar Hafsah dan Arif Wibowo saksi KTP elektronik

Markus Nari yang merupakan tersangka korupsi pengadaan paket penerapan paket penerapan KTP-elektronik (KTP-e). (Antara/Benardy Ferdiansyah)

Penyidik hari dijadwalkan memeriksa mantan anggota DPR RI 2009-2014 Mohammad Jafar Hafsah dan anggota DPR RI 2014-2019 dari Fraksi PDIP Arif Wibowo sebagai saksi untuk tersangka MN
Jakarta (ANTARA) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil mantan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Mohammad Jafar Hafsah dalam penyidikan kasus korupsi pengadaan paket penerapan paket penerapan KTP-elektronik (KTP-e).

Selain itu, KPK juga kembali memanggil anggota DPR RI 2014-2019 dari Fraksi PDIP Arif Wibowo. Keduanya dijadwalkan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golangan Karya Markus Nari (MN).

Baca juga: KPK telusuri aliran dana cukup kompleks kasus Garuda Indonesia
Baca juga: Kejaksaan didesak hukum berat jaksa terlibat korupsi


"Penyidik hari dijadwalkan memeriksa mantan anggota DPR RI 2009-2014 Mohammad Jafar Hafsah dan anggota DPR RI 2014-2019 dari Fraksi PDIP Arif Wibowo sebagai saksi untuk tersangka MN," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Sebelumnya, Jafar tidak memenuhi panggilan KPK pada Senin (1/7). Sedangkan Arif sebelumnya juga tidak memenuhi panggilan lembaga antirasuah itu pada Selasa (25/6) lalu.

Markus Nari telah ditetapkan sebagai tersangka dalam dua kasus terkait KTP-e.

Pertama, Markus Nari diduga dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan Kartu Tanda Penduduk berbasis nomor induk kependudukan secara nasional (KTP-e) tahun 2011-2012 pada Kementerian Dalam Negeri dengan terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Selain itu, Markus Nari juga diduga dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan dugaan tindak pidana korupsi terhadap Miryam S Haryani dalam kasus indikasi memberikan keterangan tidak benar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada persidangan kasus KTP-e.

Atas perbuatannya tersebut, Markus Nari disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kedua, KPK juga menetapkan Markus Nari sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan Kartu Tanda Penduduk berbasis Nomor Induk Kependudukan secara nasional (KTP-e) 2011-2013 pada Kemendagri.

Markus Nari disangka melanggar pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Baca juga: KPK panggil Wakil Gubernur Lampung
Baca juga: Terduga teroris ditangkap, KPK telusuri suap pesawat Garuda kemarin

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ngabalin sebut Presiden ingin kerja KPK lebih sistematis

Komentar