WWF Indonesia temukan rumah Ikan Garopa di perairan Pulau Kon

WWF Indonesia temukan rumah Ikan Garopa di perairan Pulau Kon

Ilustrasi - Ikan Kerapu. (ANTARA Foto) (ANTARA Foto/)

Ambon (ANTARA) - World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia menemukan rumah Ikan Garopa atau Kerapu (Epinephelus fuscoguttatus) di perairan Pulau Kon, kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, dalam hamparan ratusan meter.

Kepala Bidang Penelitian dan Pembangunan Daerah Bapedda Provinsi Maluku, Jalaludin Salampessy, di Ambon, Kamis, mengatakan, penemuan tersebut mengungkapkan rumah Ikan Garopa juga menyuplai makanan bagi jutaan ikan di laut Banda, kabupaten Maluku Tengah maupun Arafura, Kabupaten Kepulauan Aru.

"Jadi jalur perairan Pulau Kon, Laut Banda dan Laut Arafura merupakan 'surga' Ikan Garopa yang memiliki peluang bisnis ekonomis guna ditawarkan kepada para investor untuk mengelolanya seoptimal mungkin bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir," ujarnya.

Jalaludin mengemukakan penemuan ini merupakan realisasi kerja sama WWF Indonesia dan Pemprov Maluku tentang pengelolan dan pemanfaatan sumber daya hayati laut, pesisir, pulau-pulau kecil secara berkelanjutan dan bertanggung jawab untuk pengelolaan daya saing daerah ini.

"Saya mengapresiasi hasil kerja dari WWF Indonesia melibatkan tim profesional dari Amerika Serikat, Eropa, Australia dan negara lainnya untuk menginisiasi kajian sumber daya hayati laut berkelanjutan di Maluku," katanya.

Jalaludin mengatakan, WWF Indonesia juga melakukan kajian terumbu karang, fauna dan flora sumber daya hayati laut di perairan Tanimbar Barat, Kabupaten Kepulauan Tanimbar(KKT). "Kajian ini bertujuan menjadikan perairan Tanimbar Barat sebagai kawasan konservasi laut," ujarnya.

Disinggung kerja sama WWF Indonesia dan Pemprov Maluku, dia menyatakan bahwa itu adalah kerja sama strategis sehingga perlu diperpanjang kontraknya, yang sudah terjalin sejak 2014.

"Perwakilan WWF Indonesia telah mengajukan draf perpanjangan kontrak dengan Pemprov Maluku yang akan ditandatangani Gubernur, Murad Ismail karena telah berakhir sejak Januari 2019 mengingat persyaratannya harus kepala daerah definitif," kata Jalaludin.*


Baca juga: Peternak kerapu Lampung gugat Pelindo minta ganti rugi ratusan miliar

Baca juga: Permintaan ikan kerapu asal Kota Lhokseumawe tinggi untuk pasar ekspor

Pewarta: Alex Sariwating
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

WWF Indonesia gandeng MRT Jakarta ajak masyarakat peduli iklim

Komentar