counter

Sportainment

Kota Palembang, MXGP dan destinasi wisata olahraga

Oleh Dolly Rosana

Kota Palembang, MXGP dan destinasi wisata olahraga

Pengunjung menyaksikan dari dalam gedung hotel jalannya balapan seri kejuaraan dunia Motocross Grand Prix MXGP 2019 di Sirkuit OPI Mal, Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (7/7/2019). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Palembang (ANTARA) - Kota Palembang, Sumatera Selatan pada Agustus 2018 menjadi perhatian dunia karena perannya menjadi tuan rumah Asian Games XVIII bersama ibu kota negara Jakarta.

Berselang beberapa bulan, nama kota ini seakan tenggelam karena absennya dalam penyelenggaraan event internasional.

Namun, pada awal Juli 2019, kota ini kembali tersohor ke pentas olahraga dunia karena menghelat ajang bergengsi kejuaraan dunia seri Motocross Grand Prix (MXGP), 6-7 Juli. Tentunya tidak sulit untuk mengangkat kembali kota ini, karena sejatinya sudah punya nama.

Sejumlah pembalap dunia yang terlibat dalam seri motocross itu, seperti Tim Gajser, juara dunia MXGP 2016 ini bahkan sudah mengetahui Kota Palembang. “Ini memang kali pertama saya ke Palembang, tapi saya sudah tahu kota ini karena pernah ada Asian Games di sini,” kata Gajser.

Menjaga eksistensi sebagai kota penyelenggara event olahraga internasional ini, bukanlah hal yang mudah setelah Asian Games usai.

Peran kepala daerah sangat menentukannya seperti yang disampaikan Ketua Ikatan Motor Indonesia Sadikin Aksa. “Kenapa seri MXGP ini bisa ada di Palembang, salah satunya karena memang gubernurnya mau ada di sini,” kata Aksa.

Aksa menceritakan, Federasi Balap Motor Dunia (FIM/Fédération Internationale de Motocyclisme) telah menetapkan bahwa Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah untuk dua seri MXGP sejak 2017.

Dua tahun lalu, Kota Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung dan Semarang, Provinsi Jawa Tengah yang dipercaya. Kemudian pada 2018, dipilih Kota Palembang dan Semarang. Namun, karena Palembang menjadi tuan rumah Asian Games yang waktunya berdekatan dengan pelaksanaan seri MXGP maka dialihkan kembali ke Pangkal Pinang.

Rupanya, saat dihelat di Pangkal Pinang pada 2018 ada kendala di bidang transportasi logistik karena terbatasnya jadwal penerbangan dan sulitnya kapal untuk merapat ke dermaga karena laut yang dangkal.

Lantaran itu, Youthstream sebagai otoritas yang sudah dipercaya oleh FIM memutuskan untuk menghapus Kota Pangkal Pinang dalam kalender balapan 2019, sementara Kota Semarang tetap diberikan kesempatan.

Dalam kondisi ini, akhirnya IMI memberikan tawaran ke Pemerintah Provinsi Sumsel untuk menjadi tuan rumah MXGP seri ke-1, dan mendapatkan sambutan positif.

Setelah dilakukan survei dan adanya kesanggupan Pemprov Sumsel untuk mengeluarkan biaya komitmen fee, akhirnya kota ini dipercaya menjadi tuan rumah seri MXGP untuk kali pertamanya. Pengumuman resmi dilakukan pengurus IMI dan Gubernur Sumsel di Palembang, 27 Mei 2019.



Sirkuit unik
Sirkuit Motocross OPI Mall, Palembang, Sumatera Selatan. (Antara News Sumsel/Dolly Rosana/19)

Setelah resmi ditunjuk sebagai tuan rumah, praktis persiapan pun terpaksa dikebut. Fokus utama ketika itu yakni bagaimana membangun sirkuit motocross berstandar internasional.

Awalnya, pemprov memplot lokasi di dalam Kompleks Olahraga Jakabaring Sport City, namun pekerjaan tidak dapat dilanjutkan karena tanah di areal tersebut masih labil. Jika dipaksakan maka pengerjaan akan membutuhkan waktu relatif lama.

Lalu, sirkuit dibuat persis di halaman Hotel Wydham, atau berlokasi hanya puluhan meter dari lobi hotel bintang lima tersebut. Hotel ini berada dalam satu kompleks OPI Mal yang juga di kawasan Jakabaring, atau hanya beberapa ratus meter dari JSC.

Pembuatan sirkuit tanah liat seluas 2 hektare ini kemudian dikebut dalam waktu tiga pekan dengan didampingi oleh sejumlah teknisi asal Yunani. Sirkuit dibangun dengan panjang lintasan 1,5 kilometer atau tergolong pendek karena semula direncanakan 1,9 kilometer.

Meski berbeda dari rencana awal, ternyata disinilah uniknya sirkuit OPI Mal. Sejumlah pembalap justru menyebut sirkuit ini sebagai sirkuit terbaik di dunia.

Tim Gajser, pembalap yang keluar sebagai pemenang seri di Palembang mengatakan bahwa ia baru kali menjumpai sebuah sirkuit yang persis berada di depan hotel tempat menginap. Ia tidak perlu berlama-lama menuju lokasi pertandingan seperti selama ini, karena sirkuit berada di pinggiran kota.

“Ini sesuatu yang baru dan spesial untuk semua orang, kamu menyelesaikan balapan dan langsung pergi ke kolam renang, atau kamar hotel. Jadi ini sangat bagus,” kata pembalap Tim HRC Honda ini.

Ia juga mengungkapkan kekagumannya pada sirkuit Palembang ini, yang menyuguhkan tantangan luar biasa bagi crosser.

Lintasannya dibuat pendek sehingga gundukan-gundukan tanah dibuat agak rapat, serta tikungan jauh lebih banyak. Kondisi ini membuat pembalap dunia terpaksa memutar otak untuk menemukan loncatan terbaiknya.

Walhasil, crosser sekaliber Tim Gajser pun harus menerima kenyataan bahwa dirinya terjatuh saat arena balapan kedua (race 2) MXGP. Akibatnya, ia gagal menjadi yang tercepat seperti di balapan pertama (race 1).

“Sebenarnya saya lebih suka lintasan yang panjang, agar saya bisa juga memacu motor dan energi saya. Tapi ini banyak sekali tikungannya, jadi ini tantangan juga bagi saya untuk mengubah sedikit ‘style’ dari biasanya,” kata dia.

Selain itu, cuaca panas Kota Palembang seperti layaknya kota-kota yang berada di garis khatulistiwa juga menyuguhkan tantangan bagi para pembalap. Bahkan pada balapan hari kedua atau hari terakhir, suhu udara tercatat mencapai 35 derajat celcius.

Meski demikian, ia mengaku sangat menikmati keberadaannya di Palembang dan berharap bisa datang kembali ke Palembang karena terpilih menjadi tuan rumah seri kejuaraan dunia MXGP pada tahun-tahun mendatang.

Youthstream CEO David Luongo juga mengungkapkan kekagumannya pada pelaksanaan MXGP di Palembang, mulai dari penyambutan peserta di Griya Agung pada acara gala dinner, acara pembukaan di sirkuit hingga perlombaan adu balapnya sendiri.

“Yang saya suka, ada semacam budaya masyarakat sini yang ditampilkan. Ada tari-tarian, ada musiknya. Ini menambah warna baru, dan benar-benar spesial bagi kami yang baru pertama kali ke Palembang. Kami pun merasa sangat dihargai,” kata dia.


Tuan rumah permanen
Rangkaian Light Rail Transit (LRT) Palembang melintas di atas Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Senin, 23 Juli 2018. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)


Sebanyak 40 crosser dunia ambil bagian pada ajang MXGP dan MX2 di Palembang ini yang aksinya disaksikan jutaan pasang mata di dunia karena setiap perlombaan ditayangkan secara live di jaringan televisi internasional. Bahkan berdasarkan situs MXGP.com dituliskan bahwa adu balap ini ditonton langsung sekitar 30.000 orang saat akhir pekan lalu.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sudah menyatakan berkeinginannya menjadi tuan rumah permanen untuk seri Motocross Grand Prix MXGP pada tahun-tahun mendatang setelah sukses menjadi penyelenggara pada 2019.

Staf Ahli Bidang Olahraga Irwansyah mengatakan, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru sudah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah pada 2020 dan tahun-tahun berikutnya ke pemegang otoritas pelaksana MXGP. “Pemerintah Provinsi sudah menyatakan hal ini ke Youthstream, dan semoga saja disetujui,” kata dia.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan Sumsel tertarik menjadi tuan rumah permanen tak lain karena ingin menjaga kesinambungan Kota Palembang sebagai kota destinasi olahraga karena pada 2018 telah menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Seri Kejuaraan Dunia ini diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah tersebut setelah melambat karena usainya gelaran Asian Games 2018.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Regional VII Sumatera Bagian Selatan Panca Hadi Suryanto mengatakan, jika ingin tetap mendapatkan performa baik pada 2019 ini setidaknya Sumsel tetap memiliki pemicu perekonomian seperti ajang olahraga meski tidak sebesar Asian Games.

Pertumbuhan ekonomi Sumsel mengalami penurunan pada triwulan I 2019 jika dibandingkan triwulan IV 2018 yakni dari 6,04 persen menjadi 5,68 persen.

“Diakui faktor Asian Games tahun lalu cukup berpengaruh bagi Sumsel karena ada pembangunan infrastruktur dan kedatangan para pendatang sehingga wajar saja jika 2019 ini agak turun, tapi karena ada MXGP diharapkan tidak terlalu jauh,” kata Panca.

Sumsel yang dikenal sebagai satu-satunya provinsi yang fokus pada destinasi olahraga diharapkan terus mengembangkan keunggulan ini. Sektor pariwisata merupakan sektor yang menjanjikan bagi Sumsel karena memiliki dampak multi.

Kondisi ini berbeda dengan sektor pertambangan dan penggalian yang menjadi sumber perekonomian daerah sejak puluhan tahun lalu. Sektor ini cukup rentan karena tergantung dengan sumber daya alam dan harga di pasaran internasional karena sebagian besar diekspor ke luar negeri.

Untuk terus mengembangkannya tentunya sangat dibutuhkan inovasi. Salah satu langkah jitu yakni seperti yang sudah dilakukan saat perhelatan MXGP ini yakni menggandeng situs tiket.com untuk penjualan tiket dan para sponsor terutama yang bergerak di bidang otomotif.

Dengan begitu, Sumsel diharapkan terus merawat keunggulannya di bidang destinasi wisata olahraga demi kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Juara dunia MXGP sebut sirkuit Palembang terbaik di dunia
Baca juga: MXGP jadi tontonan warga Palembang di akhir pekan
Baca juga: Palembang ingin jadi tuan rumah permanen MXGP

 

Sirkuit MXGP di Jakabaring siap digunakan

Oleh Dolly Rosana
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar