counter

Berlanjut, revitalisasi kantor tambang warisan dunia jadi hotel

Berlanjut, revitalisasi kantor tambang warisan dunia jadi hotel

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno. (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)

Padang (ANTARA) - Rencana revitalisasi aset gedung perkantoran PT BA UPO Sawahlunto menjadi hotel bertaraf internasional tetap dilanjutkan meski gedungnya masuk dalam kawasan yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

"Saya sudah bertemu dengan Dirut PT BA. Rencananya tetap dilanjutkan, tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya bagian luar gedung harus dipertahankan, tidak boleh diubah," kata Gubernur Sumbar Irwan Prayitno di Padang, Senin.

Ia mengatakan itu terkait penetapan "Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto" sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, Sabtu (6/7).

Menurutnya ketersediaan infrastruktur seperti hotel serta restoran yang memadai serta akses jalan merupakan faktor pendukung utama untuk mengembangkan pariwisata di daerah.

Wisatawan akan lebih tertarik untuk datang jika seluruh kebutuhannya bisa terpenuhi di lokasi tujuan.

Saat ini Sawahlunto memang telah memiliki hotel, namun belum ada yang setara bintang empat. Revitalisasi gedung perkantoran PT BA UPO Sawahlunto jadi hotel setara bintang empat, diharap bisa jadi solusi.

Penandatanganan kesepakatan kerjasama antara PT Bukit Asam (BA) Tbk dan PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Persero untuk revitalisasi aset jadi hotel itu telah ditandatangani 2018.

Kesepakatan itu melingkupi bangunan kantor PT BA dan Hotel Ombilin yang juga menjadi aset BUMN tersebut.

Ditargetkan proses revitalisasi Hotel Ombilin tersebut akan rampung akhir 2019, dilanjutkan revitalisasi kawasan perkantoran PT BA UPO menjadi hotel bintang empat berkapasitas 120 kamar yang terdiri dari kamar suite room dan deluxe pada gedung bagian belakang.*


Baca juga: Warisan Dunia UNESCO untungkan pariwisata Sumbar

Baca juga: Pemerintah segera bentuk badan pengelola tambang batubara Ombilin

Ombilin Sawahlunto, warisan dunia Unesco

Pewarta: Miko Elfisha
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar