BNPB : 1.500 personel Satgas disebar ke desa rawan Karhutla di Riau

BNPB : 1.500 personel Satgas disebar ke desa rawan Karhutla di Riau

Petugas Manggala Agni berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Selasa (19/3/2019 (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Pekanbaru (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebanyak 1.500 personel gabungan TNI, Polri, Manggala Agni, hingga tokoh agama dan masyarakat disebar ke desa-desa di Provinsi Riau yang dianggap rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Munardo di Pekanbaru, Rabu, mengatakan personel gabungan dan tokoh agama serta masyarakat yang tergabung dalam satuan tugas (Satgas) Karhutla itu akan tinggal bersama masyarakat sebagai upaya memberikan pemahaman dan penjelasan pencegahan kebakaran.

"Tahun ini Satgas tidur di rumah penduduk. Berada di tengah masyarakat, termasuk bagaimana mereka melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan. Semua bersatu dan bergabung menyelesaikan masalah," kata Doni usai bertemu dengan Gubernur Riau, aktivis lingkungan, mahasiswa dan forum komunikasi pimpinan daerah lainnya.

Dia mengatakan  pola penanganan Karhutla tahun ini akan lebih mengedepankan kegiatan pencegahan. Pola itu berubah dibanding sebelumnya yang cenderung fokus pada kegiatan penanggulangan.

Menurut Doni, kegiatan pencegahan Karhutla jauh lebih efektif dibandingkan dengan penanggulangan. Hal itu dikuatkan dengan data yang ia miliki bahwa Karhutla yang melanda Riau dan sejumlah provinsi lainnya di Indonesia selama ini, 99 persen akibat perbuatan manusia.

Salah satu contohnya adalah ketika dia menyambangi Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis yang dilanda kebakaran hebat di awal tahun 2019. Di Pulau yang berada di bibir Selat Malaka itu, lebih dari 1.000 hektare lahan ludes terbakar.

Doni pun berkunjung dan mengumpulkan seluruh kepala desa yang berada di sana. Hasilnya, dia mengatakan mayoritas kepala desa menyebut kebakaran akibat kesengajaan, termasuk untuk membersihkan dan membuka lahan.

Untuk itu, kata Doni,  Satgas Karhutla yang selama ini fokus pada tindakan penanggulangan harus mulai mengubah kebiasaan dengan mengedepankan pencegahan. Selain itu Satgas juga harus melibatkan tokoh masyarakat, agama serta budayawan untuk mensukseskan kampanye pencegahan Karhutla di Riau.

"‎Jangan lagi berpikir padamnkan api, beli peralatan yang mahal. Tapi lakukan pendekatan kepada masyarakat, membantu mereka mengembangkan potensi ekonomi lokal, mengembangkan pengetahuan dan pemahaman dalam mengelola hutan dan lahan," ujarnya.

Seluruh personel Satgas tersebut nantinya juga akan dibekali pemahaman tentang bagaimana melakukan pencegahan melalui Apel Siaga Pencegahan Karhutla 2019 yang digelar Rabu petang hari ini.

"Satgas harus mulai melibatkan masyakat, didekati. dalam pendekatan ini tidak ada salahnya dengan filosofi, temuilah rakyatmu, hiduplah bersama mereka," ujarnya.

Lebih jauh, Doni juga mengatakan jika seluruh personel dan pihak yang terlibat dalam Satgas akan dibiayai negara dengan alokasi Rp145.000 per orang setiap harinya. Pola yang sama juga diterapkan di lima provinsi yang kini menyandang status Siaga Karhutla seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Riau sendiri.

Baca juga: Satgas Karhutla Riau gelar pasukan tanggal 10 Juli
Baca juga: Riau berusaha lepas dari cengkeraman kebakaran hutan-lahan
Baca juga: Madani temukan karhutla berulang dari korporasi sejak 2015


 

Pewarta: Anggi Romadhoni
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Angin puting beliung ganggu pemadaman karhutla di Kolaka Timur

Komentar