Selama kemarau, Hutan Kota Srengseng andalkan waduk untuk pengairan

Selama kemarau, Hutan Kota Srengseng andalkan waduk untuk pengairan

Warga duduk di areal Hutan Kota Srengseng, Kembangan, Jakarta, Rabu (10/7/2019). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

Jakarta (ANTARA) - Hutan Kota Srengseng (HKS) di Kembangan, Jakarta Barat, mengandalkan air dari waduk untuk mengairi belasan ribu pohon selama musim kemarau.

Air dari waduk disedot menggunakan mesin pompa bertenaga diesel, ditampung ke tangki dan dialirkan ke seluruh areal hutan yang ditanami pohon serta tanaman bunga berbagai jenis.

Baca juga: Kisah Rojak, si penjaga Hutan Kota Srengseng

Ujang, petugas dari Dinas Kehutanan DKI Jakarta, saat ditemui di Hutan Kota Srengseng, Rabu, mengatakan cara itu ditempuh karena selama musim kemarau nyaris tak ada hujan turun selama 10 hari terakhir di Kembangan.

"Cuma kemarin, sempat gerimis di sini," kata Ujang.

Walaupun demikian, hujan berintensitas rendah seperti gerimis kurang optimal mengairi 11.534 pohon yang ada di Hutan Kota Srengseng.

Menurut dia, cara pengairan dengan menyedot air dari waduk jadi cara paling efektif untuk mencegah tumbuhan kekurangan air dan mati.

Dari pantauan di lokasi, Rabu, pepohonan belum meranggas, ditandai dengan daun yang masih hijau dan belum mengering.

Namun, di beberapa areal hutan, tanah terlihat retak dan kering.

Setidaknya, ada sekitar 65 jenis pohon yang mendiami hutan, di antaranya Mahoni, Akasia, Ketapang, Flamboyan, dan Jati, Lamtoro, dan Bintaro.

Sementara itu, satwa liar yang menghuni hutan, antara lain, burung air raja udang (Halyon chloris), burung emprit (Longchura sp), kadal (Mabuai sp), biawak (Varanus salvator), ular tanah, ular air, tikus (Raffus sp), katak, kupu- kupu kuning, belalang, gangsir dan orong-orong.

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Empat embung seluas 62,5 hektar siap aliri sawah

Komentar