Petani Magetan beralih pekerjaan menjadi pencari pasir dan batu

Petani Magetan beralih pekerjaan menjadi pencari pasir dan batu

Sejumah petani di Magetan beralih pekerjaan menjadi pencari batu dan pasir. Hal itu dilakukan karena sawah mereka kering dan tidak dapat ditanami saat musim kemarau berlangsung. (Antara/Istimewa)

biasanya cari batu dan pasir ataupun jadi kuli bangunan
Magetan (ANTARA) - Sejumlah petani di Desa Joketro, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, beralih pekerjaan menjadi pencari pasir dan batu karena sawah tadah hujan mereka tidak dapat ditanami saat musim kemarau berlangsung.

Petani desa setempat, Qodir mengatakan mencari pasir dan batu sudah dilakukan sejak tiga tahun terakhir saat musim kemarau agar tetap mendapatkan penghasilan saat tidak menggarap sawah.

"Kalau kemarau seperti ini, sawah di wilayah Parang tidak dapat ditanami. Kami menggarap sawah saat musim hujan saja. Selebihnya petani beralih pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Biasanya cari batu dan pasir ataupun jadi kuli bangunan," ujar Qodir kepada wartawan di Magetan, Rabu.

Ia menjelaskan, batu dan pasir yang menjadi sumber pendapatannya itu diperoleh dari sungai di dekat desanya. Aliran sungai yang mengering menjadi lahan baru bagi Qodir dan istrinya untuk mencari material batu dan pasir di dasar sungai.

Qodir mengaku dalam sehari, ia berdua dengan istrinya bisa menghasilkan pasir dan batu sebanyak 15 gerobak sorong. Material tersebut kemudian diayak untuk dipisahkan antara pasir dan batu.

Pasir dan batu yang telah terpisah dan terkumpul tersebut lalu dijual ke toko bangunan di wilayah Magetan. Dalam sehari rata-rata penghasilan mereka berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu setelah laku terjual.

Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHP-KP) Kabupaten Magetan, mencatat sebanyak 4.100 dari 28.000 hektare lahan pertanian di wilayah setempat tidak dapat ditanami selama musim kemarau berlangsung akibat tidak cukup mendapat pengairan, baik secara alami maupun teknis.

Ribuan lahan pertanian tersebut hanya bisa ditanami padi sekali dalam setahun saat musim hujan. Lahan pertanian kering tersebut terdapat menyebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Magetan, kecuali yang terdapat di lereng Gunung Lawu. Biasanya terdapat di pegunungan padas seperti di Kecamatan Parang dan Ngariboyo, termasuk Desa Joketro.

Karena merupakan lahan kering, lahan tersebut sengaja tidak ditanami padi oleh para petani saat kemarau. Hal itu untuk menghindari puso atau gagal panen karena minimnya pengairan.

Sementara, total luas lahan di Magetan yang ditanami padi pada musim kemarau pertama (MK 1) mencapai seluas 21.000 hektare. Dari jumlah ribuan hektare tersebut, terdapat 849,2 hektare lahan pertanian yang mengalami kekeringan dan bahkan terancam puso. Jumlah itu meluas dari sebelumnya yang hanya 167 hektare.

Kepala Dusun Jokerto Purnomo membenarkan kondisi tersebut. Untuk itu, pihaknya mendorong Pemkab Magetan dapat mengatasi kekeringan yang terjadi tiap tahun.

"Kami sudah mengajukan penambahan sumur pompa pertanian. Namun, usulannya itu belum terealisasi," kata Purnomo.

Ia menjelaskan, di desanya sebetulnya sudah ada embung, tapi, saat musim kemarau, kondisinya surut dan tidak bisa mencukupi pengairan lahan pertanian di wilayahnya yang luasnya mencapai 10 hektare lebih.

Baca juga: 48 dusun Bantul rawan kekeringan saat kemarau
Baca juga: Lahan sawah enam kecamatan di Karawang rawan kekeringan
Baca juga: Petani Babelan beralih profesi akibat kemarau

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hujan mulai turun, BPBD hentikan droping air

Komentar