Kodam Cenderawasih cek isu oknum TNI dukung pembuatan kapal di hutan

Kodam Cenderawasih cek isu oknum TNI dukung pembuatan kapal di hutan

Lokasi galangan kapal yang dipagari seng, terletak di tengah hutan Siriwo, Kabupaten Nabire atau tepat di Jalan Poros yang menghubungkan Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Kabupaten Paniai, Provinsi Papua. (ANTARA News Papua / Alfian Rumagit)

Jayapura (ANTARA) - Kodam XVII/Cenderawasih akan segera mengecek isu terkait adanya oknum TNI yang ikut mendukung atau terlibat secara ilegal dalam pembuatan kapal penambang emas di KM 104, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua.

Wakil Kepala (Waka) Penerangan Kodam (Pendam) XVII/Cenderawasih Letkol Inf Dax Sinaturi di Kota Jayapura, Rabu mengatakan akan segera mengecek informasi tersebut.

"Iya, terima kasih. Akan kami cek isu atau informasi tersebut ke jajaran di lapangan," katanya.

Baca juga: Polda Papua kirim tim ke Nabire selidiki kapal penambangan emas

Menurut dia, pihaknya belum mendapat laporan terkait adanya galangan kapal atau tempat pembuatan kapal di tengah hutan Nabire menuju ke arah Kabupaten Dogiyai.

"Kami akan cek dulu, apakah benar itu oknum kita atau ada yang hanya mengaku-ngaku. Saya belum dapat informasi soal ini," katanya.

Baca juga: Kodam XVII/Cenderawasih dorong pemberdayaan bagi mantan anggota KKSB

Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun Antara, galangan kapal tersebut berlokasi tidak jauh dari KM 100 yang menjadi tempat persinggahan angkutan antarkabupaten pemekaran, baik dari arah Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai maupun Paniai.

Galangan kapal tersebut terletak persis di Jalan Poros yang menghubungkan kabupaten pemekaran dan jika dari arah Nabire ke arah Kabupaten Dogiyai, terletak di sebelah kiri jalan, atau berjarak tiga hingga empat kilo meter dari persinggahan KM 100.

Di KM 100 terdapat sejumlah warung makan dan rumah penduduk serta ada Pos Ramil 12/Siriwo yang merupakan bagian dari Koramil 1705-01 milik Kodim 1705/Paniai dan markas Polsek Siriwo yang merupakan bagian dari Polres Nabire.

Dari informasi warga sekitar, galangan kapal tersebut banyak mempekerjakan orang asing asal Korea dan mendapat dukungan dari masyarakat adat setempat serta adanya oknum warga yang mengaku sebagai aparat.

Sebelumnya aktivitas di dalam galangan kapal itu bisa dilihat dari pinggir Jalan Poros, namun belakangan ditutup dengan pagar yang terbuat dari seng, kira-kira memanjang searah jalan sejauh 10 meter karena viral di media sosial.

Oleh warga Nabire dan KM 100, di tempat tersebut sedang dibuat atau dirakit kapal untuk pengerukan emas yang ada di sungai di sekitar tempat itu.

Pewarta: Alfian Rumagit
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar