counter

Rieke: 132 permohonan penangguhan eksekusi untuk Baiq Nuril

Rieke: 132 permohonan penangguhan eksekusi untuk Baiq Nuril

Anggota DPR RI dari fraksi PDIP Rieke Diah Pitaloka mendampingi Baiq Nuril bertemu Jaksa Agung HM Prasetyo untuk menyambut permohonan penangguhan eksekusi pasca putusan PK Mahkamah Agung, di Jakarta, Jumat, (12/07/2019) (Boyke Ledy Watra)

Jakarta (ANTARA) - Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka mengatakan ada 132 permohonan yang diterimanya dan pihak kuasa hukum untuk penangguhan eksekusi Baiq Nuril oleh Kejaksaan Agung RI.

"Dari DPRD provinsi dua permohonan, DPRD kota tiga, DPRD kabupaten 14, lembaga 36, dan perorangan 76," kata Rieke saat mendampingi Baiq Nuril untuk bertemu Jaksa Agung HM Prasetyo, di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Rieke Diah Pitaloka mengajukan penangguhan eksekusi Baiq Nuril

Rieke dan kuasa hukum serta Baiq Nuril sampai di Kejaksaan Agung RI pada Jumat sekira pukul 10.00 WIB. Rieke datang bersama Baiq Nuril sementara kuasa hukumnya, Joko Jumadi datang lebih dulu berbeda kendaraan.

"Ya kita bertemu dulu ya sama Jaksa Agung," kata Rieke.

Baca juga: Yasonna Laoly: Dari segi analisis UU ITE tidak layak untuk Baiq Nuril

Dia meminta Kejaksaan Agung bisa menangguhkan eksekusi putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak gugatan Peninjauan Kembali (PK) dari Baiq Nuril.

Menurut Rieke, masalah hukum yang dialami Baiq Nuril merupakan masalah besar, dan dirinya akan berjuang agar tidak ada eksekusi terhadap Baiq Nuril.

Sebelumnya, Baiq Nuril mengajukan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung atas perkara pelanggaran UU ITE terkait penyebaran rekaman berisi pembicaraan asusila secara elektronik yang menimpa dirinya, dan MA melalui putusannya menolak permohonan peninjauan kembali (PK) Baiq Nuril.

Kini upaya Baiq Nuril, selain penangguhan eksekusi, juga berupaya meminta pertimbangan presiden agar memberikan amnesti terhadap pidana yang menjerat dirinya.
 

Terima amnesti presiden, Baiq Nuril gelar syukuran

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar