counter

Indef: Faktor harga dan akses buat masyarakat pilih kosmetik impor

Indef: Faktor harga dan akses buat masyarakat pilih kosmetik impor

Ilustrasi produk kosmetik (ANTARA/Shutterstock)

Masyarakat tentu membandingkan antara produk kosmetik dalam negeri dan impor sama-sama bagus dan berkualitas tapi jauh lebih murah kosmetik impor, tentu mereka akan lebih memilih kosmetik impor.
Jakarta (ANTARA) - Pengamat industri Ahmad Heri Firdaus dari Institute for Development of Economis and Finance (Indef) menilai faktor harga yang murah serta beragamnya varian dan akses produk yang lebih mudah dijumpai membuat masyarakat lebih memilih kosmetik impor.

"Pertama karena faktor harga yang lebih kompetitif, kemudian jenis serta varian yang dianggap lebih banyak dan ketersediaan atau akses masyarakat terhadap produk-produk kosmetik lebih mudah menjumpai produk-produk kosmetik yang impor," ujar Heri kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan bahwa permintaan yang sedang berkembang lebih didorong oleh kelas menengah. Masyarakat tentu membandingkan antara produk kosmetik dalam negeri dan impor sama-sama bagus dan berkualitas tapi jauh lebih murah kosmetik impor, tentu mereka akan lebih memilih kosmetik impor.

Kondisi itu menjadi penyebab masyarakat lebih memilih mengonsumsi kosmetik impor.

Sayangnya jika dirinci lebih jauh misalnya dari sisi dampak atau efek kesehatan kosmetik itu terhadap tubuh, hal-hal seperti ini belum terlalu menjadi perhatian bagi masyarakat saat membeli kosmetik.

Selain itu menurut dia, hingga sekarang industri kosmetik nasional masih bergantung pada bahan baku produksi kosmetik yang masih banyak diimpor dari luar negeri.

Baca juga: Asosiasi ingatkan bahaya kosmetik ilegal jika tidak dinotifikasi BPOM

Sebelumnya pemerintah menyebutkan bahwa impor produk kosmetik masih terbilang tinggi sehingga menjadi salah satu tantangan yang perlu dicarikan solusinya.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, impor kosmetik pada 2018 sebesar 850,15 juta dolar AS,  meningkat dibandingkan 2017 yang sebesar 631,66 juta dolar AS.

Pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing dengan menerbitkan kebijakan strategis yang dapat memperkuat struktur industri nasional.

Sementara itu Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Sancoyo Antarikso menjelaskan bahwa saat ini industri kosmetika menghadapi beberapa tantangan, salah satunya yakni bagaimana industri kosmetik Indonesia senantiasa menyediakan produk-produk kosmetik yang relevan bagi konsumennya di Indonesia, baik dari sisi fungsi, inovasi, trend kemasan, hingga harga.

Perkosmi juga berupaya meningkatkan daya saing kosmetik nasional melalui kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kapabilitas anggota-anggotanya.
Baca juga: Ini tantangan, Menperin sebut impor kosmetik masih tinggi
 

INDEF: lesunya industri ritel akibat persaingan kurang sehat

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar