Kementan ingin berdayakan lahan rawa sebagai areal pertanian

Kementan ingin berdayakan lahan rawa sebagai areal pertanian

Ahli Peneliti Utama pada Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Dr Ir Mukhlis MS. (antara/foto/firman)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian ingin memberdayakan lahan rawa yang dinilai merupakan lahan marjinal yang memiliki potensi sangat besar untuk dikelola menjadi areal pertanian termasuk untuk tanaman pangan di berbagai daerah.

"Strategi yang penting di lahan rawa ialah memberi bahan organik sebagai pembenah tanah. Bahan organik menjadi penyangga biologi yang berperan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah berimbang," kata peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Kementan, Mukhlis, dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Menurut Mukhlis, agar tujuan itu tercapai bahan organik yang diberikan harus sudah terdekomposisi karena bahan organik segar yang langsung diberikan ke dalam tanah dapat merugikan pertumbuhan tanaman karena terjadi proses immobilisasi nitrogen dan terlepasnya senyawa beracun yang mengganggu tanaman.

Ia mengemukakan bahwa potensi lahan rawa memang maha luas sekitar 34,12 juta hektare, tersebar di tiga pulau besar Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Namun diantaranya baru sekitar 2,27 juta hektare yang dibuka pemerintah secara terintegrasi dengan program transmigrasi dan 3,00 juta hektare dibuka oleh masyarakat setempat secara swadaya.

Berdasarkan data Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian, luas lahan rawa yang potensial untuk tanaman pangan (padi sawah) mencapai 14,18 juta hektare.

Diperkirakan, baru sekitar 6,0-6,5 juta hektare yang telah dimanfaatkan dan hanya sekitar 3,0-3,5 juta hektare yang menjadi sawah atau lahan untuk padi selebihnya masih berupa semak belukar, hutan sekunder atau rawa monoton yang selalu tergenang sepanjang tahun.

Selain itu, produktivitas lahan rawa sangat beragam dan sangat tergantung pada kondisi tanah, tata air dan penerapan teknologi terutama pengelolaan lahan dan varietas tanaman.

Apalagi produksi rata-rata padi di lahan rawa rendah, hanya 2-3 ton per ha, atau setengah atau kurang dari angka rata-rata hasil padi nasional 6 ton per ha.

"Akibatnya lahan rawa pun banyak dibiarkan telantar sebagai lahan tidur," ucapnya.

Ia mengemukakan bahwa Badan Litbang Pertanian berhasil menemukan inovasi dan teknologi pupuk hayati Biotara yang mengandung mikroba dekomposer Trichoderma Sp khas rawa.

Menurut dia, petani dapat memetik keuntungan lain karena Trichoderma dalam Biotara berperan sebagai pengendali penyakit tular tanah, serta juga diperkaya mikroba pelarut-P Bacillus sp, dan penambat N Azospirillium sp yang hidup di lahan rawa.

"Maka, seperti pupuk hayati lain Biotara, dapat meningkatkan kesuburan tanah, menghemat pupuk, meningkatkan hasil, dan mengurangi pencemaran lingkungan," ucapnya.

Baca juga: "Biotara" tingkatkan hasil padi di rawa
Baca juga: Kementan: Musim kemarau saatnya optimalisasi lahan rawa
Baca juga: Mentan sebut lahan rawa jadi tumpuan produksi pangan masa depan

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kementan & Kemendag gandeng KPK perbaiki tata kelola impor

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar